@yappingfess Beberapa keputusan2 besar dalam hidup itu yg nyaranin si Acong, ya 80% okelah saran si acong
Masih jadi teman curhat (kategori benda) terbaik 12 tahun ini
@SeputarTetangga Saya juga Pak RT Sebelah rumah hari2 nyetel dangdutan.
Akhirnya setelah bertapa, jadinya bikin pemutus blutut. Dan mempan!
Ya masih dangdutan tapi sesekali.
Kalo udah kebangetan ya dibikin nyendat2 lagi.
Buat yg pingin cari tahu berapa sih nilai propertinya sekarang, atau mau jual tapi pingin tahu batas bawah nilai pasar, dan yg mau beli biar ga ketipu harganya karna kena markup agen
Bisa di cek dan di konsultasikan dulu kesini deh https://t.co/aDZ1R04B89
Mengunjungi kembali salah satu film paling sedih yang jadi favorit saya sepanjang masa: A Ghost Story. Film ini kayak ngajak kita duduk di pojokan, mikirin makna hidup sambil nge-loop lagu sendu kesukaan.
Menonton A Ghost Story dibutuhkan keberanian ekstra, bukan karena ada “hantu” di judul dan filmnya yang hadir dalam wujud Casey Affleck berkostum ala hantu sprei konyol macam —-> 👻 yang menyaksikan dunia terus bergerak maju tanpa dirinya—orang-orang datang dan pergi, rumah dibongkar dan dibangun kembali, bahkan abad berganti. Hantunya bukan untuk menakuti, tapi untuk mengamati, dan mungkin—dalam diam—merindukan sesuatu. Tapi mungkin karena pacing-nya yang berjalan begitu pelan yang menyiksa penonton gak sabaran—bahkan sutradara David Lowery aja sampe ngasih 5 menit sendiri tanpa putus, tanpa dialog cuma buat scene Rooney Mara habisin satu loyang pie coklat sembari bersedih ria—.
Namun buat saya mungkin yang paling menakutkan dari A Ghost Story adalah filosofi meditatifnya tentang cinta, memori, kesendirian abadi, kematian, eksistensi, juga tentang betapa kecilnya kita di dunia ini, sementara waktu dan kehidupan akan terus berjalan seperti biasa setelah kita mati. Semua berhasil dihadirkan Lowery begitu dalam, begitu lembut dan begitu indah untuk dirasakan tiap kesedihannya bukan untuk menjawab pertanyaan kenapa dan mengapa.
4,5/5
Di The Psychology of Money, Morgan Housel bilang, cara kita ngeliat kehidupan sering kali dipengaruhi sama standar yang kita bangun dari pengalaman dan lingkungan kita sendiri. Tapi standar itu bukan satu-satunya kebenaran. Kadang, kita cuma butuh waktu buat nyesuaiin perspektif.
Karena pada akhirnya, rumah bukan cuma soal bentuknya, tapi soal cerita yang ada di dalamnya.