This is why love letters are still relevant these days. I can feel the love that is poured into the writings, then reread them as an inscription when we’re older.
As soon as we speak, it dries up, meanwhile writings remain intact.
Satu setengah tahun lalu ada laki-laki yang mengirimiku e-mail, yang ternyata dia sudah mengagumiku cukup lama.
Awalnya aku enggak tau ini siapa, hingga aku ngeh kalau dia adalah teman waktu les tahun 2005. Kaget ada yang menulis untukku sepanjang itu.
Ini potongan e-mailnya.
Kalian harus tahu....
Direktur utama TVRI sekarang adalah sepupu ipar Raffi Ahmad
Dan juga mantan tim sukses jokowi 2019
Makanya sampai saat ini @KPK_RI dan @KejaksaanRI tidak berani sentuh dugaan skandal DI TVRI
BREAKING NEWS
Korupsi Rp 5 Triliun terkait pasokan batubara untuk PLN
Ini yang menyebabkan terjadinya Black Out di sumatra dan jawa beberapa waktu terakhir
@dinopattidjalal@bachrum_achmadi JONGOS Setrump gak berani dong bikin bos kesel
MAJIKAN CUMA DOYAN NGELUS
KEPALA ANJING YANG PENURUT
MESKI GAYANYA SOK GALAK
#ANJING
Jerhemy Owen mengumumkan rencana penanaman lebih dari 150.000 pohon di Aceh, Sumatra, bersama WWF Indonesia dan masyarakat setempat. Program ini dilakukan untuk memulihkan kawasan hutan yang terdampak banjir besar sekitar tujuh bulan lalu, yang menyebabkan hilangnya tutupan hutan sekaligus mengancam habitat gajah Sumatra.
Melalui penanaman pohon agroforestri, proyek tersebut diharapkan tidak hanya mendukung penghijauan dan restorasi ekosistem, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar agar kawasan hutan dapat kembali terjaga secara berkelanjutan.
Di QRT banyak yang bilang kemungkinan alasannya kuliah di sana karena FK di UNHAN gratis dan dapat uang jajan..
Jadi sepakat ya Pendidikan Gratis itu jauh lebih penting daripada Makan Bergizi Gratis..
Terjadi di indonesia, seorang presiden membanggakan Polri sementara citra kepolisian memang buruk di mata masyarakat
Selain sering di adukan ke komnas HAM, Polri juga menempati posisi pertama sebagai institusi penegak hukum paling korup se-ASEAN
Kalau sendirian = Hallo dek
Kalau se-truk = ngelindes orang
Kalau se-kompi = nembak orang
kalau gerombolan = ngerokok orang
Kalau sebataliyon = ngurus MBG
Kalau seMabes = koruptor
ummm temen gua yg tdinya hate pemerentah tb tb pro prabowo karena perpres yg anti lgbt itu... emang kayanya homophobic bakal ngedukung apapun itu asal anti lgbt, mungkin kalo isr4el menyuarakan anti lgbt mereka juga bakal dukung 😀😀😀😀
Amri, 50 tahun.
Sopir truk.
Meninggal di kursi kemudinya saat antre solar di SPBU Banyuasin, 29 Juni 2026.
Bukan kecelakaan.
Bukan sakit mendadak.
Dia kelelahan menunggu berjam-jam.
Di sekitar jenazahnya: hanya beberapa botol minuman ringan , yang dia minum untuk menahan ngantuk sambil nunggu giliran.
Dan ini bukan kasus pertama.
Dalam 3 bulan terakhir, 3 sopir truk tewas di antrean solar di Sumsel.
Dua dikeroyok karena berebut giliran.
Satu mati kelelahan.
Sementara itu:
a. Organda sudah lapor: kuota dipangkas, barcode diblokir sepihak
b. Pertamina bilang: "kami salurkan sesuai kuota"
c. Pemerintah bilang: "stok dijamin"
d. Amri tidak sempat dengar jaminan itu
Negara ini kaya minyak.
Tapi sopir truknya mati demi setetes solar bersubsidi.
Siapa yang bertanggung jawab?
😡
Poster ini diunggah akun Instagram Gerindra Jepara di tengah musim kampanye, 3 Desember 2023 atau 72 hari sebelum Pilpres.
Orang menuduh motif pelangi di poster ini adalah usaha Prabowo-Gibran mencari dukungan politik dari kelompok pemilih tertentu.
Tim Kampanye membantah, dan menyatakan “pelangi lebih dulu (ada) dari urusan LGBT”.
Tentu kita setuju. Anak-anak juga menyanyikan lagu “Pelangi, pelangi, ciptaan Tuhan”.
Ada yang keberatan?
Kita percaya pada Tim Kampanye Pra-Gib bahwa poster ini tak punya motif politik untuk mendapatkan suara pemilih tertentu.
Jadi ketika sekarang rezim Prabowo-Gibran menyatakan LGBT ancaman bagi negara, mestinya mereka tetap santai memakai dasi atau pin bermotif pelangi.
Yang dilakukan Prabowo dengan menyatakan LGBT sebagai ancaman negara adalah stempel-stempel yang sudah dipakai banyak penguasa sepanjang sejarah. Terutama mereka yang gagal memajukan kesejahteraan rakyatnya.
Hitler memainkan kebencian terhadap Yahudi. Soekarno menstempel pengkritiknya sebagai kaum kontra-revolusi. Soeharto dengan stigma komunis. Jokowi memakai cap radikalisme dan menyingkirkan pegawai KPK dengan stempel “Taliban”.
Semua diambil dari bahan bakar yang sama: Kebencian sosial terhadap minoritas.
Saat rezimnya yang korup mulai bangkrut, Soeharto mengkambinghitamkan asing dan Tionghoa. Lalu mereka jadi sasaran amuk massa. Bukan Soeharto dan kroninya.
Resep serupa dipakai rezim militer Fiji terhadap peranakan India atau junta Myanmar terhadap etnis Rohingya.
Dan Donald Trump menjadikan imigran sebagai kambing hitam kemunduran ekonomi Amerika dan memudarnya pengaruh politik internasional mereka.
Pembantaian 253 guru ngaji dan kiyai NU pada 1998 di Jawa Timur juga diawali dengan daftar nama “Dukun Santet”. Investigasi menunjukkan, para pembunuh adalah orang-orang terlatih yang berkaitan dengan anasir militer untuk menghabisi basis pendukung Gus Dur.
Jauh sebelum Prabowo dan Trump, para raja dan kaisar yang gagal menyejahterakan rakyatnya, yang istananya dipenuhi skandal, dan rakyatnya kelaparan karena gagal panen, akan membuat daftar nama “Tukang Sihir” untuk diburu.
Dan kaum agamawan dengan suka cita menyiapkan tiang pembakarannya. ***
Isi pidato 5 jam di depan akademisi, salah satunya:
- Masyarakat sipil
- Influencer yang mengkritik pemerintah
- Tempo
Dibayar oleh asing.
Infokan ke mana tagihan harus dikirim?
***
Kepada yth. Asing,
Berikut tagihan mengkritik pemerintah.
Makjleb.
Gua mencintai presiden @prabowo karena dia orang yg tulus.
Dibalas kontan.
Tak perlu mencintai presiden.
Tetapi tangisilah anak yg bunuh diri di NTT.
Tangisilah mereka yg susah cari makan.
Jangan tangisi presiden sebab dia manusia 2T yg katanya menang 58%.