Hi everyone!
Halo semuanya!
こんにちは、皆さん!
About me:
1. Love Matcha 🍵
2. Want to live like a cat 🐈
3. Loves to eat and travel ✈️
Right now, I want to be more active on X and be friends with all of you.
ありがとうございます. (o^^)o
Ini boleh ga sih anak-anaknya sama daehoon aja... Kalaupun ketemu ibunya harus ada bapaknya gitu. Lingkungannya ga safe bgt dirty jokes gini di depan anak-anak. Sakit lu berdua.
jujur gue ngerasa jule itu dari awal memang belum siap jadi ibu. gue emang belum jadi ibu, tapi gue cukup banyak tau karena gue dikelilingi banyak ibu. menurut gue, motherhood itu bukan cuma soal bisa hamil dan melahirkan, tapi soal kesiapan mental, kesabaran, kestabilan emosi, dan kemampuan buat naruh orang lain di atas ego sendiri. dan kalau itu belum ada, semuanya jadi berantakan.
makanya gue selalu percaya sebelum nikah orang harusnya udah cukup explore hidupnya. bukan berarti hidup liar tanpa batas, tapi lo harus benar-benar kenal diri sendiri, tau apa yang lo mau, apa yang lo siap hadapi, dan apa yang lo rela korbankan. jangan sampai nikah cuma karena tuntutan umur, tekanan sosial, atau sekadar takut sendirian. itu egois, karena pernikahan bukan cuma tentang lo.
kalau setelah menikah masih merasa haus validasi dari luar, masih gampang goyah sama orang lain, atau masih main-main sama batasan yang jelas-jelas harus dijaga, itu tandanya lo masuk ke fase hidup yang salah di waktu yang salah. dan yang paling kasihan selalu pasangan sama anak.
jujur kalau gue jadi daehoon, sakit hati banget sih. bayangin lo percaya penuh sama seseorang, bangun rumah tangga bareng, berusaha jadi partner yang baik, lalu semua itu dirusak sama keputusan bodoh dan orang-orang yang gak punya rasa hormat. luka kayak gitu gak selesai cuma dengan kata maaf.
some betrayals don’t end when the truth comes out, they stay in the way you trust people after that.
dan soal safrie, JUJURRRR aje jokes lu jelek banget, gak lucu sama sekali, malah menjijikkan. yang bikin heran, kok bisa ya pede banget ngepost begitu di second account seakan itu sesuatu yang lucu atau pantas dibanggakan. lo sadar gak sih kalau lo itu ikut jadi perusak rumah tangga orang?
being shameless is not the same as being bold.
banyak orang salah kira antara berani dan gak tahu malu. padahal jelas beda. kalau keberadaan lo cuma bawa luka buat orang lain lalu lo masih bisa ketawa soal itu, itu bukan confidence, itu miskin empati dan karakter. najis banget jujur.
🚨 warning buat brand dan para business owner, please be careful sama user @notreshaa. dia kasih review palsu dan misleading dengan cara ambil foto orang lain dari internet lalu di-claim seolah itu pengalaman dan miliknya sendiri.
hal kayak gini jelas merugikan, karena bukan cuma menipu customer tapi juga merusak trust antara brand dan konsumen yang beneran jujur. ketika seseorang membangun kredibilitas dari konten curian, itu bisa memengaruhi keputusan bisnis dan kerja sama secara tidak fair.
yang lebih parah, instead of being transparent, dia malah block orang-orang yang mempertanyakan atau notice kejanggalan itu.
brands deserve honest feedback, not fabricated reviews for personal gain. jadi please lebih hati-hati dalam memilih siapa yang dipercaya untuk testimonial maupun collaboration. ❗️
Jadi keinget gw diremehin keluarga besar pas mau kuliah jurusan kedokteran hewan :)
Gw suka bgt sama hewan, bahkan dream job gw mungkin bisa jadi pekerjanya Irfan Hakim di aviary-nya karena bisa liat hewan dan alam setiap hari.
Gw diolok-olok sama keluarga "Ntar kuliahnya paling ngurusin kucing doang, kerja dimana coba, gajinya cuma dikasih tai kucing kali" sambil diketawain rame-rame. Jujur gw sakit hati banget :)
Nggak lama setelah kejadian itu ada kabar kucingnya abang gua sakit dan harus dibawa ke dokter. Biaya perawatannya lumayan mahal.
Pas ada kumpul keluarga lg ngomongin kucing abang gua, gua frontalin aja "Mana yg kemarin ngetawain jurusan dokter hewan?" langsung pada diem semua wkwk.
Oiya FYI gw jadinya ga ngambil jurusan kedokteran hewan karena takut ada kendala biaya ges, bukan karena gw nyerah jadi dokter hewan. But i think, selama gw masih bisa jadi pecinta hewan dan menyayangi mereka semua itu udah cukup sih 😸.
Hukum Fisika dalam Pengereman Kereta Api.
Rasanya pilu banget denger berita kecelakaan Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur kemarin malam. Banyak keluarga yang tiba-tiba harus menerima kabar yang tidak mereka bayangkan sebelumnya. Aku turut berduka buat semua yang terdampak.
Di tengah duka itu, banyak yang mulai bertanya-tanya di kolom komentar: kenapa masinis tidak langsung ngerem? Kok bisa sampai tidak keburu berhenti?
Sebelum buru-buru menyalahkan, ada beberapa hal yang perlu kita pahami dulu. Soal fisika, soal inersia, momentum, dan energi.
Kereta api itu berat banget, satu rangkaian kereta jarak jauh beserta isinya bisa mencapai ratusan ton. Di sini, konsep fisika bernama inersia dan momentum masuk.
Inersia itu sederhananya adalah "keengganan" sebuah benda untuk mengubah kondisinya. Kalau diam, maunya tetap diam. Kalau bergerak, maunya tetap bergerak. Semakin berat bendanya, semakin besar inersianya, semakin susah kondisinya diubah.
Kita semua pernah ngerasain ini. Waktu naik motor dan tiba-tiba ngerem, badan kita reflek maju ke depan. Itu inersia. Tubuh kita "enggan" berhenti padahal motornya sudah berhenti.
Nah, kalau Momentum itu muncul saat sebuah benda mulai bergerak. Momentum adalah gabungan antara seberapa berat benda itu dan seberapa cepat dia melaju.
Nah, bayangkan itu terjadi pada benda seberat ratusan ton yang melaju di atas rel, dengan kecepatan tinggi. Sebesar apa momentumnya?
Momentum sebesar itu tidak bisa hilang begitu saja dalam hitungan detik, harus dilepaskan pelan-pelan lewat gesekan rem ke roda, dan roda ke jalan.
Nah, masalah berikutnya, roda kereta terbuat dari besi dan relnya juga besi. Gesekan antara keduanya jauh lebih kecil dibanding ban karet mobil di atas aspal.
Desain ini memang bikin kereta bisa melaju dengan efisien, tapi juga susah berhenti cepat. Kalau rem dipaksa sekuat tenaga, roda malah terkunci dan kereta akan tergelincir dan meluncur di atas rel, bukannya berhenti.
Kombinasi dari dua hal tadi menghasilkan jarak pengereman yang panjangnya bikin kaget. Kereta yang melaju 100 km/jam bisa memerlukan jarak lebih dari 1 kilometer untuk berhenti dengan aman. Masinis sudah harus mulai mengerem jauh sebelum halangan terlihat jelas.
Di kasus Bekasi kemarin, begitu KRL terhenti mendadak karena insiden taksi, Argo Bromo yang ada di belakangnya hampir tidak punya cukup jarak untuk bereaksi. Baru sebagian informasi sampai, sinyal langsung merah (sepertinya menandakan kereta sudah harus berhenti).
Investigasi masih berjalan, di kondisi duka ini, kita jangan menyalahkan siapapun.
Secara fisika, ini menunjukkan betapa kompleksnya keselamatan kereta api. Sistem sinyalnya, jarak amannya, semuanya dirancang karena kereta tidak bisa berhenti mendadak.
Makanya, kalau kamu lagi di perlintasan rel dan kereta sudah kelihatan, jangan coba-coba melintas. Masinis sudah pasti ngerem sekuat yang dia bisa. Tapi hukum fisika tidak peduli seberapa keras dia mencoba.