btw, mothering menurut aku bukan cuma dalam hal materi
banyak hal lain yang secara ngga sadar, kita sebagai cewe mungkin ngelakuinnya
misal, ngeliat cowok/suami kita nyapu, kita larang karena mikir kalo mereka bakal ngga bisa nyapu yang bersih
cowok/suami kita mau masak, kita larang karena males/takut liat dapur kotor berantakan ngga karuan
itupun mothering, we tend to "ngemong" mereka, manjain mereka, sampe akhirnya mereka mikir itu bukan tanggung jawab mereka
Google, IBM, dan Meta kasih sertifikasi gratis yang diakui perusahaan global.
Ini beneran GRATIS. Bukan trial 7 hari.
Gue ambil beberapa dari sini buat bantu dapetin kerjaan remote di Singapore dan Jepang.
Ini daftar platform dan course gratis yang menurut gue worth it buat lo ambil sekarang karena rupiah semakin mengkhawatirkan:
Nah baru aja tadi gw twit juga ttg cara follow up recruiter, gw coba jelasin lg deh yaa
Menurut gw, follow up yang efektif itu punya ritme.
Ga terlalu sering, tapi cukup untuk nunjukin kalau lo serius dan profesional.
Tiga momen ini biasanya paling aman.
1. Sehari setelah interview
Tujuannya sederhana: appreciation. Pesan kayak gini udah cukup:
“Thank you for the opportunity to speak with you today. I really enjoyed our conversation and learning more about the role and the team. Let me know if you need any additional information from my side.”
Kalimat ini bikin lo keliatan engaged dan respectful.
2. Seminggu setelah interview Ini reminder halus. Lo nunjukin kalau lo masih on track dan siap ngebantu prosesnya. Misalnya:
“Hi, just wanted to check in and let you know that I'm still very interested in the position. If there’s anything else you need from me, documents, references, or further details, I’m happy to provide them.”
Nada tetap ringan, ga maksa.
3. Dua minggu setelah interview Wajar banget kalau di titik ini lo nanyain update. Cara paling aman biasanya seperti ini:
“Hi, I hope you’re doing well. I wanted to follow up and ask if there are any updates regarding the recruitment process. I’m still excited about the opportunity and would appreciate any information you can share.”
Jelas, sopan, dan tetap profesional.
Intinya: follow up itu bukan ngejar. Ini seni menjaga ritme komunikasi supaya nama lo tetap ada di kepala recruiter tanpa bikin mereka risih.
Dear HR dan para atasan,
kalo karyawan lu ngajuin izin, sakit, cuti, wfh tuh IZININ ANJIR🫵🏻
gak usah sok galak.
temen gw kecelakaan di jalan sampe dibopong warga, udah nelpon atasan buat izin ga jadi masuk
malah dipaksa masuk. setan banget
@virgo_owl@alsjournall Tp banyak bgt anjir yg kek gini taiii
Paling sering mah pantang pulang sblm bos pulang, apalagi di pt nya ga menawarkan lembur (gaji all in) taee
Open Donasi Buku untuk Taman Baca Masyarakat (TBM) Literati!📚
Buat temen-temen yang punya buku-buku yang sudah dibaca dan tidak digunakan lagi, @BukuTanpaBatas membuka donasi buku untuk anak-anak dan masyarakat di sekitar taman bacaliterati Cirebon
Kami menerima buku anak hingga dewasa dengan kondisi layak baca. Tapi mohon maaf kami belum menerima buku pelajaran anak dan soal-soal latihan.
Untuk info lebih lanjut bisa DM akuu
📚👧👦🏡 Berapapun jumlah buku yang kamu donasikan, akan sangat berarti dan berdampak besar bagi anak-anak dan masyarakat di lingkungan TBM Literati Cirebon.
@ratufitri Aku juga pernah ginii.. dapet offiering yg lebih baik, tp pas kebetulan aku baru dipindah divisi + lg hamil dan akan mau melahirkan, aku turn down karena aku gaenak sama temen2 divisi baruku
Gue dari kecil ada ART, ga pernah diajarin masak, gabisa masak, pemales betul.
27 tahun kemudian? Gue menemukan fakta, kalo masak itu HEALING.
Masak tuh cuma bentar, tapi berisiknya isi otak tiba tiba jadi pelan pas gue motong bawang.
Dopamin naik pas kelar masak, dan masakan gue enak.
Tapi sorry, kalo disuruh nyuci piring gue tetep bayar orang 😭
HR : “Are you married?”
She smiled and answered, No.
Then came the question that completely shocked her.
HR : “Are you planning to get married in the coming years?”
Out of curiosity, she politely asked,
“Is this relevant to the role?”
The answer stunned her even more.
The interviewer explained that married women have restrictions.
They can’t extend work hours.
They may not attend urgent calls because of household responsibilities.
And after a few months, they might ask for hybrid or flexible work.
She paused.
And she asked something simple ,
“If you already know this, why not design roles that support them?
Why not hire married women with hybrid or flexible options from day one?”
Isn’t that more efficient?
Isn’t that more humane?
We talk about equality.
We talk about inclusion.
We talk about diversity at work.
But in interviews, sometimes decisions are made not on skills,
not on experience,
not on qualifications,
but on marital status.
this experience (interview) is shocking.
HR is meant to look at people through the lens of fairness, not assumptions.
punya suami extrovert minta ampun. semua dijadiin temen. tukang parkir, abang batagor sampe yang terakhir udah temenan sama mas mas pemilik toko galon. konon katanya sampe tukeran no WA 😭😭😭
@junoaggy Ih real kejadian di aku.. aku kekeh dulu childfree karena takut, tp pasanganku yakinin kalo ga dijalanin berdua.. sampe akhirnya nikah pun aku msh blm mau, dan dia ga masalah.. yg dia lakukan takeover kerjaan rumah, aku cuma disuruh masak aja karena dia gabisa.. -c
@tanyarlfes Maim game2 dari gamehouse yg udh diroot biar gratis :( wwkwk ke warnet buat copy lagu2 mp3 masa kini, main dress up di https://t.co/ZkG3nL9cOR dan sekelasnya (dulu banyak bgt)