Kita hidup di era ketika masyarakat semakin berpendidikan dan akses informasi semakin luas.
Namun pada saat yang sama konflik emosional, polarisasi, dan kekerasan sosial justru meningkat.
Mengapa masyarakat yang semakin cerdas bisa bertindak tidak rasional?
Thoughts?
Kita hidup di era ketika masyarakat semakin berpendidikan dan akses informasi semakin luas.
Namun pada saat yang sama konflik emosional, polarisasi, dan kekerasan sosial justru meningkat.
Mengapa masyarakat yang semakin cerdas bisa bertindak tidak rasional?
Thoughts?
Saya menyebut kerangka ini:
Fourfold Intelligence
(A Dewanti Framework)
Kecerdasan manusia berdiri di atas empat fondasi:
• kejernihan intelektual
• regulasi emosional
• orientasi moral
• kesadaran diri
Sepeti burung phoenix yg bangkit dari kematiannya, kehendak kebenaran akan muncul dari suatu kepalsuan. Kebenaran akan menyatakan dirinya dalam kegelisahan manusia yang diperdaya oleh kepalsuannya sendiri.
Setelah semuanya terlewati dengan selamat, yang ada hanyalah rasa syukur dgn kelegaan yang tidak ter-bahasakan.
Namun pengalaman tetaplah pengalaman, yg meninggalkan segudang pembelajaran, kewaspadaan bahkan jg rasa gamang. Mungkin sbg pengingat utk tetap eling & waspada.
Dalam titik terendah itulah, aku merasa ada sebuah hubungan kepercayaan yg terjalin antara aku dan semesta di sekitarku. Aku tdk punya pilihan selain percaya pd semesta & melakukan peranku sebaik-baiknya sebagaimana semesta percaya padaku utk melakukan pikiran positif terbaik.
Ada kalanya semesta membawa kita pada titik yg lebih rendah dari pada titik dasar, tanpa ada lagi yg mampu dibicarakan selain keyakinan pd semesta bahwa semua perpanjangan tangan Tuhan bekerja dengan sempurna.
Melewati setiap detik liku-liku ketakutan, kekawatiran, jg harapan.
Cerita apa lagi hari ini, kadang rutinitas tak menyodorkan makna, tapi tanpa rutinitas manusia selalu kelabakan menghadapi ketidak terpolaan. Lantas..? Bertumbuh di antara salah mengambil keputusan atau hanya faktor keberuntungan. Tp yg menjadi fakta, faktor kebetulan tidak ada
Ketika hati sedang menjadi tempat kurukshetra, aku menyaksikan emosi dan logika saling menghajar, tapi pada akhirnya kesadaran meluluh lantakan keduanya. Dan lagi-lagi akulah yang menanggung segala pembelajaran itu.
When we sort ourselves between wants and needs, it turns out that many wants have to be recycled. Maintaining wants is my right, but unfortunately the impact is not as great as the needs that are supported by the universe.
Ketika kita memilah diri diantara keinginan dan kebutuhan, ternyata banyak keinginan yang harus didaur ulang. Mempertahankan keinginan memang menjadi hak-ku, tapi sayang dampaknya tidak sehebat kebutuhan yang didukung semesta.
It Feels like a long doormant magickal bloodline -..., terasa seperti ada semacam leluhur gaib yang terlupakan, tapi aku pasti akan menemukanmu, mencari akarmu dan mewujudkan kembali keberadaanmu. Because I AM Who I AM and I will be what I will be. 🔥