Mengejar Mahkota, Melupakan Fitrah
Ada tren yang makin terasa belakangan ini—para orang tua berlomba menjadikan anak-anak mereka hafiz Qur’an.
Bukan karena si anak menunjukkan minat,
tapi karena si orang tua merasa:
“dulu saya banyak dosa, tak paham agama, maka biarlah anak saya yang menebus semua itu. Kelak saya ingin mahkota di surga”.
Tapi benarkah surga bisa diraih lewat paksaan terhadap anak yang jadi kehilangan kesempatan tumbuh di masa golden age-nya? Benarkah potensi & minat mereka memang menghafal Qur’an?
Menghafal Al-Qur’an itu mulia.
Tapi menjadikannya ambisi pribadi
yang ditanamkan di pundak anak—
yang mungkin justru lebih tertarik pada sains, seni, atau pertanian—
bukan lagi ibadah, tapi kompensasi.
Anak-anak bukan mesin penebus masa lalu.
Mereka bukan lembar kosong
untuk menuliskan ulang mimpi-mimpi kita yang gagal.
Tak semua anak punya kecerdasan hafalan.
Dalam taksonomi belajar, hafalan itu level dasar.
Di atasnya: pemahaman.
Lalu penghayatan.
Dan yang tertinggi: pengamalan.
Yang langka justru mereka
yang melakoni nilai Qur’an—meski tak hafal seluruhnya.
Sesuatu yang dipaksakan jarang bertahan lama. Gak cuma soal pasangan dan perasaan, tapi juga soal hafalan.
Apalagi jika sekadar ikut tren.
Setelah wisuda tahfiz, jika tak diulang dan dipahami,
ayat-ayat itu bisa lenyap seperti kabut pagi.
Islam itu luas dalam kehidupan.
Ia bisa hadir di ladang, laboratorium, kitab,
ruang gym, atau lensa kamera.
Ada banyak jalan menuju ridha-Nya.
Jangan kerangkeng anak-anak dalam satu jalur.
Biarlah mereka tumbuh sesuai fitrah dan jenis kecerdasannya (baca postingan sebelumnya soal 8 jenis kecerdasan).
Yang suka menghafal, biarkan menghafal.
Yang suka berpikir, biarkan memahami.
Yang suka bergerak, biarkan menghidupkan ajaran lewat tindakan nyata.
Al-Qur’an itu sudah pasti dijaga oleh Allah,
tapi akhlak anak-anak belum tentu terjaga.
Itu sebabnya Nabi diutus
untuk menyempurnakan akhlak yang mulia,
bukan untuk mewajibkan umatnya menghafal Qur’an.
Maka, mari kita fokus mendidik anak berakhlak Qur’ani,
bukan semata memaksa menghafal Qur’an demi ambisi orang tua.
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Yang hendak membaca analisis politik saya di Kompas hari ini, silahkan. Ini versi penuhnya. Sengaja saya unggah seluruh halaman agar seperti baca versi cetaknya.
Banyak yang minta fatwa kepadaku, "Nanti milih siapa?" Maklum semua calon, masing2 punya kelebihan dan kekurangan. Lagi pula masing2 punya pendukung tokoh2 yang berpengaruh. Jadi kukatakan kepada yang minta fatwa: Istafti qalbak. Tanyakan saja kepada Nuranimu. 😉
Baru tahu ada buku karya Buya Hamka ini. Apa ada yg punya pdf-nya? Jadi ingin belajar lebih jauh dari Buya Hamka yang dari hisab malah memilih ru’yah 🙏
https://t.co/Xkzm1z06sQ
Woohoo 🗣🗣 .. Darling song already available on spotify, Thnk youu Denise 👍😉
let's listen to this song 🎧 !! #darling#denisekim@denisekimsays https://t.co/nKqPS3Yj9H
Dapat kiriman dari Ahmad Dhani lagi rekaman dan bikin musik video dengan mereka.
Ahmad Dhani: Synthesizer-Producer
Derek Sherinian: Organ
Andra Ramadhan: Guitar
Billy Sheehan: Bass
Simon Philips: Drums
Ron "Bumble Foot" Thal: Guitar
Dino Jelusic: Vocal
Jeff Scott Soto: Vocal
JADILAH SAUDARAKU
Badannya Penuh Tato,
Sambil Menunduk,
Bicara Sama Saya:
"Ndara, Apakah Saya
Tidak Pantas Masuk
Sorga?!"
Saya Jawaban"Apalagi Saya?!
Kamu Menato Tubuhmu
Dengan Gambar Dan Tulisan.
Sedang Aku Menato Hatiku
Dengan Dosa Dan Kelalaian.
Sorga Neraka Itu Soal Nanti,
Selama kamu masih melihat dengan matamu, dan mendengar dengan telingamu kamu mudah dibodohi, melihat dan mendengarlah dengan Ilmu.”
- KH. Abdurrahman Wahid
Cak Nun itu....
Santri tnp sarung
Haji tanpa peci
Kiai tnp sorban
Dai tnp mimbar
Mursyid tnp tarekat
Sarjana tnp wisuda
Guru tnp sekolahan
Aktivis tnp LSM
Pendemo tnp spanduk
Politisi tnp partai
Wakil rakyat tanpa dewan
Pemberontak tanpa senjata
Ksatria tnp kuda
(Gus Mus)
Sendiri Bagiku Adalah kekuatan...
Untuk memahami Hidup...
Mengerti keinginan Hati...
Mengenali Jalan Pikiranku...
Dan kepada siapa aku harus setia..
Tanpa perlu mengingat yang sama sekali tidak berguna...!!!
Jembarna Atimu,
Kaya segara,
Supaya Urip..Rasane Luweh Amba
#SNK