Guys, Prof. Telisa Aulia Falianty dari UI baru bicara sesuatu yang penting banget soal rupiah Rp17.500 — dan ada satu kalimat yang langsung bikin gue terdiam.
"Krisis takes much longer to come than you think. Tapi begitu datang,
it happens much faster
than you would have thought."
Rupiah Rp17.500
bukan cuma masalah orang kaya:
Banyak yang bilang pelemahan rupiah hanya mempengaruhi orang kaya yang beli barang impor atau liburan ke luar negeri. Prof. Telisa langsung membantah ini.
Dampaknya ke rakyat biasa datang lewat jalur yang tidak terlihat tapi sangat nyata.
70 sampai 80 persen komponen industri manufaktur Indonesia masih impor.
Artinya ketika rupiah melemah biaya produksi naik. Dan industri tidak bisa terus-menerus menelan selisih itu dari margin mereka sendiri.
Kontrak lama mungkin masih bisa ditahan 2-3 bulan. Tapi begitu kontrak baru keluar dengan harga adjusted kenaikan itu akan ditransfer ke harga barang yang kita beli sehari-hari.
Plastik kemasan naik karena bahan bakunya dari minyak dan kursnya melemah.
Obat-obatan naik karena komponennya masih banyak yang impor.
BBM non-subsidi sudah naik.
Avtur naik tiket pesawat ikut naik.
LPG sudah naik.
Yang masih ditahan?
Pertalite.
Tapi seberapa lama bisa ditahan tergantung kekuatan APBN dan kemampuan Pertamina menyerap selisih harga.
Dan setiap rupiah melemah Rp100
defisit pemerintah naik Rp0,8 triliun. Otomatis.
Yang paling berbahaya bukan angkanya,
tapi ekspektasinya:
Prof. Telisa menjelaskan sesuatu yang sangat penting soal teori krisis.
Krisis bisa terjadi bahkan ketika fundamental ekonomi masih kuat.
Bukan karena angkanya jelek
tapi karena ekspektasi pasar yang berubah.
Self-fulfilling panic.
Begitu orang percaya krisis akan datang mereka bertindak seolah-olah krisis sudah datang.
Dan tindakan itu sendiri yang akhirnya memicu krisis.
Cadangan devisa kita turun dari 9 bulan impor menjadi 5 bulan impor.
Kelas menengah daya belinya mulai melambat.
Fiskal semakin sempit.
Investor melihat semua itu dan mulai keluar.
Dan pemerintah merespons dengan terlalu optimistik di komunikasi publik.
Membandingkan pertumbuhan 5,61% dengan Amerika dan Singapura yang menurut para ekonom adalah perbandingan yang memalukan secara intelektual karena sizing-nya sudah sangat berbeda.
Akibatnya: market tidak percaya.
Dan ketidakpercayaan itu sendiri yang memperburuk situasi.
Data makro bagus tapi rakyat merasakan susah kenapa:
Pertumbuhan 5,61% itu nyata.
Tapi hampir seluruhnya didorong oleh government spending yang naik 21,8% dalam satu kuartal.
Private sector driver-nya lemah.
Sektor menengah bawah yang merupakan mayoritas rakyat Indonesia justru paling tidak merasakan manfaatnya.
Yang tumbuh: akomodasi makanan minuman, sektor yang dapat program pemerintah, kelas atas yang diuntungkan harga komoditas.
Yang stagnan atau menurun:
kelas menengah, elektronik, furnitur, toko souvenir, hotel di daerah yang pengunjung PNS-nya hilang karena efisiensi anggaran.
Mall high end ramai.
Mall low end sepi seperti kuburan.
Kafe baru terus buka.
Toko elektronik sepi luar biasa.
Ini bukan kontradiksi ini adalah economic K shape. Atas naik, bawah turun, yang di tengah terjepit.
Soal regulasi yang overdosis:
Dan ini yang paling menohok.
Prof. Telisa pakai analogi yang sangat tepat: pemerintah seperti dokter yang ingin menyembuhkan pasien tapi dosisnya terlalu tinggi jadinya malah membuat pasien lebih sakit.
Regulasi terus keluar.
Potongan ojol diatur.
E-commerce mau diatur.
Royalti mineral naik hampir 100% mendadak.
Motor listrik MBG lolos
padahal Menkeu sudah menolak.
Satu peraturan kementerian berubah delapan kali.
Investor asing yang sudah komitmen investasi jangka panjang 20-30 tahun tiba-tiba menghadapi kebijakan yang berubah mendadak.
Di Thailand dan Vietnam ada undang-undang yang menjamin peraturan baru tidak berlaku untuk investasi lama selama 20 tahun.
Di Indonesia?
Aturan bisa berubah dalam hitungan bulan.
Dan yang paling miris:
Prof. Telisa menyebut fenomena baru yang sangat mengkhawatirkan ketika keamanan kawasan industri tidak terjaga, ketika pungli oleh ormas merajalela, investasi baru enggan masuk.
Dan orang-orang yang susah cari kerja melihat bisnis paling menarik bukan bikin startup atau UMKM — tapi bikin ormas.
Rupiah Rp17.500 bukan sekadar angka di layar berita finansial. Itu adalah sinyal dari sebuah sistem yang sedang tertekan dari banyak arah sekaligus fiskal yang menyempit,
kepercayaan pasar yang terkikis,
kelas menengah yang melemah,
dan regulasi yang datang terlalu sering terlalu cepat tanpa kajian yang memadai.
Solusinya bukan tidak ada.
Tapi solusinya membutuhkan
komunikasi kebijakan yang jujur dan realistis,
konsistensi aturan yang bisa dipercaya investor,
dan keberanian untuk berhenti overdosis memberikan ruang kepada sektor swasta untuk bergerak tanpa terus-menerus diganggu kebijakan yang berubah sebelum sempat diimplementasikan.
Krisis belum datang.
Tapi semua tanda-tandanya sedang dirakit satu per satu.
negara ini ibarat to do list ya, satu kasus kebongkar belum sampe selesai udah ngantri yang lain mau ikutan juga..
minimal selesain dulu satu-satu cik, kalau mau macam to do list ya di make sure jg selesainya barengan congki jangan tiba tiba ketutup aje punten🙏🏻
Guys...Diskusi masalah ini yuk. Kalo ada yang kenal sama psikolog & kriminolog yang aktif di X, minta tolong di mention lah.
Sumpah, ini benar-benar sudah sangat mengkhawatirkan, kondisi generasi bangsa kita.
Anak-anak/adek cewek kita sudah gak aman lagi.
Kira-kira apa penyebab dari semua ini:
- Pendidikan agama yang kurang,
- Pengawasan orang tua yg terlalu longgar,
- Tayangan TV yang sudau terlalu vulgar,
- Kebebasan menggunakan HP untuk mengakses konten pornografi,
- Atau apa...???
padahal pas masih sekolah "males bgt dah belajar, bangun pagi, ujian" tapiiiiii ternyata makna nya dapet...
nikmatin saat saat apapun di sepersekian kecil kehidupan kita setiap harinya, karena hidup gak terulang 2 kali & akan seterusnya berjalan 🥹
gue puter balik memori dari kecil kayak pas gue gede sekarang setiap ngeluh "pengen deh sekolah lagi" gak mikirin segala hal hal di kehidupan ini yang semakin hari semakin ada ada aja