kalo anak perempuan pertama ini diharuskan memahami sudut pandang ibu, sudut pandang ayah, sudut pandangan adik, belum lagi sudut pandang pasangan dan lingkungan, terus siapa yang akan memahami sudut pandang kita anak pertama?
berhenti sejenak, dan sekarang taruh tanganmu di dada terus bilang :
“Ya Allah apapun yang sudah terjadi, entah kemarin ataupun hari ini, bagilah ruang ikhlas yang luas untuk menerima semuanya, cukupkanlah diri ini agar tidak menyalahkan siapapun.”
Udah sampe di fase hidup, lihat orang yang jahat, manipulatif, haus validasi, dan suka merendahkan orang lain bukan lagi marah, tapi malah mikir:
What happened to you?
Segitunya butuh validasi, sampai rela terlihat seproblematic itu.
Kata habib jafar : “yang ga sampai di kita, Jangan di cari tau. Yang sampai dari mulut orang lain, jangan dipercaya. Yang sampai dari mulut orangnya langsung, dimaafkan”
Mohon maaf lahir batin ya semua 🙏🏻
jatuh cinta banget sama quotes ini:
"sumber keberlimpahan rejeki yang kamu terima, boleh jadi berasal dari cara kamu ikhlas menerima." menerima dipandang buruk, dituduh, dan dipojokan oleh orang lain. bahkan dibuat sakit hati, tapi kamu lebih memilih diam, dan tidak membalasnya. kadang, semesta selalu punya cara untuk memberikan reward yang indah.
habis baca kalimat yang cantik banget :
"Kalau Allah tidak mencintaimu, Dia tidak akan pernah membiarkanmu berpuasa di bulan Ramadhan dan berdiri di malam-malamnya, Dia hanya memberimu hadiah ini karena Dia ingin mengampunimu."
Aku pernah membaca satu fakta tentang perasaan seseorang:
1. Orang yang pernah trauma dan menyimpan luka yang dalam, sering kali justru terlihat indah dan menawan di mata orang lain.
2. Orang yang paling kesepian adalah mereka yang paling ramah pada semua orang.
3. Orang yang paling hebat dalam mengerti, memahami, dan mendengarkan, biasanya adalah mereka yang memeluk kesakitannya sendiri dalam diam.