Aku yang paling lantang berjanji tidak akan membuatmu menangis, kini menjadi alasan utama mengapa dadamu terasa sesak setiap kali menghirup udara di kamar ini.
Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu.
Kepada, istriku tercinta.
Pasang surut sudah kita melangkah bersama, memecah sunyi-mu dengan tawa yang menguar diikuti hati yang terasa ringan. Dukamu ku usahakan untuk lenyapโmenjauh darimu, sampai kau lupa rasanya bersedih seperti apa.
Tapi mengapa aku yang membuatmu menjauh?
Melihatmu terdiam dengan sorot kosong yang dulu penuh binar... rasanya seperti dihantam kenyataan paling pahit.
Aku, yang dulu berjanji menjadi rumah tempatmu pulang dan berlindung dari kejamnya dunia, justru berubah menjadi badai yang menghancurkanmu.