MOMEN SIARAN LIVE PIDATO-NYA DICUT!!!
Dikatakan bahwa Iran sudah punya senjata nuklir
Sekarang Saudi Arabia ingin juga punya senjata nuklir
Kalau Saudi Arabia ingin punya senjata nuklir, tidak menutup kemungkinan Emirates juga mau senjata nuklir.
Qatar juga mau punya senjata nuklir.
Mesir juga mau senjata nuklir.
*Mic mati*
*Ganti klip iklan*
Seorang remaja berusia 18 tahun di Sidoarjo, Jawa Timur, terekam video viral saat menerima pesanan ojek online dalam kondisi tanpa busana di teras rumahnya, Selasa (14/7/2026). Dalam rekaman berdurasi 1 menit 7 detik tersebut, kurir mendapati remaja itu tengah memeluk guling saat mengantarkan pesanan minuman.
Berdasarkan pemeriksaan, remaja tersebut diketahui telah melakukan aksi serupa sebanyak dua kali. Kapolsek Buduran, Kompol Sugeng Sulistiyono, menyatakan pihaknya telah memanggil orang tua dan remaja tersebut untuk mendapatkan arahan terkait etika agar peristiwa serupa tidak terulang kembali dan akan dilakukan pemeriksaan kesehatan terhadap yang bersangkutan.
Simak berita selengkapnya di https://t.co/12KzHzegth, BeritaSatu TV, YouTube BeritaSatu dan unduh aplikasi BeritaSatu di iOS dan Apps Store!
#BeritaSatu #SaatnyaMajuBersama #ViralSidoarjo #BugilOjol #BeritaSidoarjo
Pemerintah Falkland Island menyatakan kekecewaannya atas aksi timnas Argentina yang mengangkat spanduk bertuliskan “Falklands are Argentine” usai semifinal Piala Dunia melawan Inggris. Dalam pernyataannya, pemerintah Falkland menyebut tindakan tersebut membawa isu politik ke dalam sepak bola dan berharap FIFA menanganinya sesuai dengan peraturan yang berlaku. Mereka juga menegaskan pandangannya bahwa olahraga seharusnya dipisahkan dari isu politik.
Pukimak betul kalian ini. Berkelahi dan saling mempermalukan satu sama kalian lalu cipokan didepan kami. Besok-besok jangan lagi gunakan kalimat ‘Kita ini negara hukum’. Kalian menunjukkan ini bukan negara hukum tp ini negara milik nenek klean.
Dengan hormat, saya sungguh heran kenapa Pemerintah 🇮🇩 tidak memenuhi undangan Iran utk mengirim delegasi resmi ke pemakaman almarhum Ayatollah Khamenei yg terbunuh dlm serangan militer ilegal.
Yg saya dengar, berbagai upaya gigih Iran utk mengundang Pemerintah 🇮🇩 tidak mendapat tanggapan. (Mereka kan juga punya harga diri - tidak mungkin mengemis-emis kehadiran kita.) Akhirnya, yg hadir hanya Dubes RI di Teheran - yg dianggap oleh Teheran sbg sikap menyepelekan undangan ini, bahkan dianggap sbg tamparan. Sementara Arab Saudi, Qatar, Turki, Oman, Kazakhtan, Mesir, Pakistan, Rusia, Tiongkok, India, Malaysia, Bangladesh dll (lihat daftar dibawah) sama sekali tidak ragu mengirim delegasi resmi pada tingkat Menteri, bahkan Pakistan pada tingkat Presiden. 🇮🇩 sbg negara berpenduduk muslim terbesar di dunia satu-satunya yg ABSEN mengirim delegasi. Bahkan Malaysia nampak lebih bebas aktif dari Indonesia.
Apakah ini berarti polugri "bebas aktif" kita mulai LUNTUR krn 🇮🇩 takut/sungkan thdp Amerika ? Has “FEAR” become a factor in Indonesian foreign policy ? Ataukah kekhilafan ini lebih mencerminkan MANAJEMEN sistem politik luar negeri yang penuh masalah - sebagaimana biasanya, surat undangan macet di berbagai meja dan tidak ada yg berani mengambil keputusan. Paling tidak 🇮🇩 bisa mengirim Wamenlu urusan dunia Islam Anis Matta - tapi beliau justru keliling Asia Tengah utk kunjungan yg sifatnya rutin.
Kita seakan melupakan bhw Iran adalah sahabat lama Indonesia, hubungan selalu terjaga dgn hangat dan saling menghormati, dan tidak pernah ada konflik antara kedua negara. Kehadiran delegasi resmi 🇮🇩 dlm acara penghormatan terakhir Ayatollah Khamenei (yg sayangnya tidak terjadi) seharusnya menjadi momen pembuktian diplomasi bebas aktif Indonesia, momen persahabatan RI-Iran sekaligus sinyal tegas dari Jakarta bhw adalah aksi pembunuhan Ayatollah Khamenei adalah aksi ilegal yg melanggar hukum dan norma internasional.
Jangan sampai kita selalu lantang bicara bebas aktif, tapi begitu diminta menentukan sikap dlm situasi yg sensitif, kita bersembunyi.
Please remember : bebas aktif adalah #diplomasiberprinsip, bukan #diplomasisungkan
Boleh dikutip.
BREAKING: President Trump reveals the details of his conversation with FIFA President Gianni Infantino over the controversial red card call on star American player Folarin Balogun.
"All I did was ask for a review because I didn't think it was a foul. And, you know, again, I'm good at this stuff. I didn't think it was a foul. I thought it was two great athletes that crashed into each other and got entangled."
"I think they made a really brilliant decision. I think the referee's call was horrible and nobody talks about that. They talk about the red card like it's fine, nobody talks the referee's decision to red card."