Jangan pernah tertipu dengan penguasa yang bicara lantang di atas mimbar seakan dia yang paling kuat. Retorikanya berapi-api, telunjuknya menuding ke sana kemari, suaranya menggelegar sampai mikrofonnya minta ampun. Kelihatannya saja gagah, galak, dan seolah bisa membelah lautan. Padahal, kalau mik-nya dimatikan dan teks pidatonya hilang, yang tersisa sering kali cuma ego rapuh yang butuh validasi tepuk tangan dari barisan audiens yang sudah di-breafing sebelumnya.
Sejarah selalu punya plot twist yang sama: semakin keras suara di podium, semakin kencang pula getar lututnya di balik layar. Tirani itu aslinya penakut kelas berat yang berlindung di balik seragam, panser, dan pasal karet.
Mereka ini punya penyakit bawaan, semacam alergi akut terhadap kewarasan publik. Coba perhatikan, mereka akan langsung gatal-gatal, meriang, dan panik kalau melihat rakyatnya mulai melek ilmu hukum, rajin mengunyah filsafat, atau berani menyentil lewat karya seni. Buat penguasa model begini, rakyat yang ideal dan "berbakti" adalah mereka yang sibuk memikirkan cicilan, gampang disuruh antre bansos, dan cukup dihibur dengan joget viral di media sosial.
Begitu ada sekelompok orang yang mulai membedah pasal-pasal konstitusi atau sekadar baca buku filsafat di pinggir jalan, penguasa mendadak keringat dingin. Tiba-tiba anggaran pengerahan buzzer dinaikkan, narasi "ancaman stabilitas negara" digoreng, dan aparat disiagakan. Padahal yang dihadapi cuma sekumpulan warga negara yang sedang pakai akal sehatnya.
Apalagi kalau rakyat sudah berani berorganisasi, merapatkan barisan, dan turun ke jalan. Wah, itu kiamat kecil buat mereka! Berkumpulnya warga yang teredukasi jauh lebih menakutkan bagi tirani daripada ancaman perang dunia. Mereka rela mengobrak-abrik aturan, merevisi undang-undang dalam semalam, dan mengerahkan segala instrumen negara hanya karena takut pada spanduk karton dan tagar di internet.
Jadi, besok-besok kalau Anda melihat ada yang teriak-teriak soal "demi kesejahteraan rakyat" sambil gebrak-gebrak meja, senyumin saja. Di balik jas mahal, pengawalan ketat, dan pidato heroiknya, dia sedang ketakutan setengah mati membayangkan Anda tahu cara menggunakan isi kepala. Teruslah membaca, berdiskusi, berkesenian, dan berserikat—karena tidak ada yang membuat penguasa tiran lebih tidak bisa tidur nyenyak selain melihat rakyatnya menolak untuk jadi bodoh. 🤫