This morning, after Nadiem was sentenced to 10 years in jail, it’s clear that Google needs to take a strong official stand.
The Indonesian judges sullied Google’s name, claiming without evidence the U.S. giant engaged in bribery to win a Chromebook laptop contract.
In this fiction, Google invested in Nadiem’s company, GoJek. In return, Nadiem, who left GoJek to become Education Minister, ordered the purchase of Chromebooks.
Prosecutors failed to put any evidence forward to back this defamatory allegation. Yet Nadiem got 10 years. Why? Because he tried to reform a corrupt ministry and made a lot of enemies.
How can Google remain silent in the face of these baseless allegations. Just because a judge said it, doesn’t make it any less defamatory.
I would expect Sapna Chadha and other senior Google leaders in the region to show the backbone to speak up now. Nadiem was Google’s trusted partner for years. They invested in his company. Will they remain quiet just to protect their business in Indonesia. Where are they in his time of need?
hasil putusan sidang vonis nadiem makarim :
- 10 tahun penjara
- pidana denda Rp 1M
- pidana tambahan pembayaran uang penganti senilai Rp 809 M sekian, apabila tidak dibayar dalam kurun waktu 1 bulan maka diganti dengan pidana penjara selama 5 tahun
PAHAMI KONTEKSNYA DAN LU PASTI NGAMUK 🤬
Kondisi PT Jasa Marga Persero
> Total debt Rp 90+ TRILIUN
> Utang jangka pendek Rp 15+ Triliun
Meanwhile
> Net profit Rp 3+ Triliun
> Padahal aset Rp 150+ Triliun
> Artinya RoA mereka cuma 2% +
Rasio keuangan Jasa Marga babak belur
- Jasa Marga DIPAKSA emban tugas negara jadi ujung tombak pembangunan jalan tol baru
- Sangat rentan sama perubahan suku bunga
- Butuh divestasi cepat dari tol yang dibangun
- Room of error sedikit
LAH TERUS ini anak usahanya PT JMTO malah dikasih komisaris
- Identitas utamanya penjilat wapres
- Bukan putra terbaik bangsa untuk posisi ini
- Bonus: Kemeja ketat. Kancing lepas satu
Ini perusahaan strategis dengan AMANAH BERAT BUAT DOBRAK PEMBANGUNAN. Malah dikasih beban tambahan buat gendong komisaris titipan
Kapan BUMN bisa naik kelas?
At this point buat apa ada BUMN?
Udah coba rekap semaleman. Dari 57 Wamen yang ada di Kabinet, 37 diantaranya merangkap jabatan sebagai Komisaris BUMN.
Persentase nya nyentuh angka 64.9%. Ini bukan lagi pencilan atau anomali, ini angka yang besar, bahkan bisa dikatakan MAYORITAS. Dan ini baru Wamen, belum petinggi dan pejabat lembaga atau badan setingkat menteri.
Awalnya mau bedah nama satu-satu, tapi dari angka itu seharusnya sudah menjelaskan, tidak perlu dibedah, kalian coba cari contoh 10 Wamen, seharusnya 6-7 diantaranya merangkap Komisaris BUMN.
Maaf ya teman-teman, jujur panik bahas hal ini, apalagi ada riwayat akun kena suspend, followers belum besar, tiba-tiba dapet impresi tinggi, jadi masih belum berani. Mungkin pertimbangannya bakal tulis artikel aja nanti untuk detail lengkapnya.
Btw ada nama "lucu" lagi di jajaran Komisaris BUMN, bukan akademisi, bahkan riwayat pendidikannya pun saya tidak nemu, mungkin bakal spill tipis kayak sebelumnya.
Lulusan Harvard dan Stanford university nggak laku di negara ini
yang ada jadi bawahan mereka ini
tips sukses di indo:
- cukup jadi penjilat presiden
- jadi tim sukses waktu pilpres
- kalo bisa ada adegan nangis poin +