Lengkap sekali. Saya tambahkan konteks zaman:
1. Di Malaysia, Chromebook gagal,
2. Era menteri sebelumnya, pak Muhadjir, menolak Chromebook. Kenapa menolak? Soalnya ketika diuji coba, gagal. Sesederhana itu.
3. Kajian teknis pertama yang dilakukan tim teknis, hasilnya tidak merekomendasikan Chromebook. Sinyal internet di sekolah masih di bawah 50%, user/ penggunanya di sekolah hampir tidak ada. Pengadaannya membengkal, tidak hanya laptop, tapi semua perangkat daya dukung kabel dll.
Saat ini, kebanyakan orang percaya Chromebook itu baik untuk pendidikan. Agaknya kalian perlu menonton Youtube tahun 2020/2021 saat kebijakan itu dibuat, ada beberapa reviewer laptop yang menghujat Chromebook. Karena sangat tidak efektif jika digunakan untuk belajar.
Disclaimer, saat itu, 2020-2021, isunya Chromebook akan dipakai oleh siswa. Ternyata saat ini, disebut Chromebook berguna bagi guru. Padahal tahun 2021, Chromebook disebut digunakan khusus untuk Asesmen Nasional.
Artinya, tidak jelas target Chromebook: targetnya siswa, kebutuhan guru, atau kebutuhan penyelenggaraan nasional? Saat disebut kurang efektif bagi siswa, disebut berguna bagi guru. Ketika dianggap tidak sesuai kebutuhan guru, maka disebut ini untuk Asesmen Nasional. Apapun alasan, digunakan untuk membuat Chromebook ini bermanfaat.
Saya tidak punya analisis canggih untuk melihat ini. Hanya perlu melihat kronologinya saja. Semua yang saya sampaikan, ada jejak digital dan beritanya.
kesalahan besar Nadiem Makarim waktu menjabat:
1. Ngacak kurikulum
2. Zonasi
3. Bikin sistem ga bisa ga naik kelas
4. Hampir menghapus pasal Tunjangan Profesi guru dalam draf RUU Sisdiknas 2022
5. Ngapus tukin dosen sekitar 4th-an
🇮🇩 INDONESIA MAKES HISTORY! 🏆🔥
Indonesia captured its first-ever AVC Men's Volleyball Cup title after defeating 🇰🇷 Korea in straight sets: 34-32, 25-16, 25-23.
Selamat kepada Tim Indonesia! 👏🏆
Luar biasa! Kalian telah mengukir sejarah!
#AVCMensCup#AVCCup2026#Volleyball #TimnasIndonesia
Korea Selatan 🇰🇷 0 - 3 🇮🇩 Indonesia
32 - 34, 16 - 25, 23 - 25
INDONESIA CHAMPIONS!!!
INDONESIA MENJADI JUARA AVC CUP UNTUK PERTAMA KALINYA DALAM SEJARAH!
TERIMA KASIH GARUDA!!!
#AVCCup2026
Water usage has been a hot topic in the AI data center world, but the numbers may surprise you.
According to the Manhattan Institute, data centers use 0.2 percent of daily water usage in the U.S. and that number has dramatically decreased in the past few years due to a new method: liquid cooling.
By moving to 45°C liquid cooling, AI factories in favorable climates can use dry coolers instead of conventional cooling-tower-based systems, cutting facility cooling water use from roughly 2.6M gallons per MW per year to near zero.
Liquid cooling enables AI factories to be both water and energy efficient, while creating opportunities for heat reuse and dispersal to local communities, allowing these factories to become energy grid assets.
Learn more below ⬇️
https://t.co/7WanoPNKTR