“Saya menghabiskan belasan tahun meneliti tentang perlindungan sosial di banyak negara. Saya menyelesaikan S2 dan S3 saya di inggris. Tidak ada satu pun negara di dunia yg program makan bergizi gratisnya dilakukan oleh aparat keamanan. Dari semua program perlindungan sosial di seluruh dunia, MBG adalah program terbesar dari segi anggaran, inefisiensi dan potensi korupsinya, di seluruh dunia.”
Video ini adalah paparan paling clear soal kekacauan tata kelola embege. Kalo ada yg nanya “emang apa salahnya sih embege?”, cukup suruh nonton video ini.
Selamat kpd POLRI yg tlh menjebol tembok penyembunyian harta2 yang diduga hasil korupsi di sebuah kafe dan beberapa titik lainnya. Selamat kpd KEJAGUNG yang terus memburu koruptor di BGN dan MBG. Silahkan berlomba utk saling bongkar korupsi. Itu bagus utk pemberantasan korupsi.
Berikut video analisa saya berjudul "Rakyat gaduh : Presiden Prabowo 1 dari 6 hari berada di luar negeri ? 5 saran saya". Semoga didengar Pemerintah. Silahkan dikomentari, dibahas, disebarkan, dikutip & boleh juga diliput media. Salam, Dr. Dino Patti Djalal
we’re hiring 10 Masturbation Consultants
$2,000/month to test our new Daily Guided Masturbation feature and document the effects on stress, sleep and mood
yes it’s real
yes you get paid
Lo buka Netflix. Scroll 30 menit buat nyari film. Akhirnya gak nonton apa-apa. Tidur.
Lo buka Shopee mau beli charger. Ada 200 pilihan. Banding-bandingin 2 jam. Beli satu. Besoknya nyesel.
Seorang psikolog dari Swarthmore College udah riset kenapa ini terjadi. Dan jawabannya bikin kesel.
Guys, Ferry Latuhihin baru ngomong sesuatu yang menurut gue paling jujur dan paling tidak takut konsekuensi dari semua kritik yang beredar soal pemerintahan Prabowo sekarang.
Dan dia mulai dengan satu angka yang langsung bikin gue terdiam.
108 wakil menteri.
Lebih gila dari zaman Soekarno:
Soekarno terkenal dengan kabinet
gemuknya 100 menteri.
Itu sudah dicatat sejarah sebagai salah satu pemborosan birokrasi terbesar Indonesia.
Prabowo melampauinya.
108 wakil menteri saja
belum termasuk menterinya.
Ferry bilang dengan sangat datar: "Birokrasi, Bos. Wakil menteri itu 108 loh.
You can imagine ini kabinet yang lebih gila
dari zaman Soekarno."
Dan ini bukan soal gaya atau
estetika pemerintahan.
Ini soal uang.
Setiap wakil menteri punya gaji, tunjangan, staf, kendaraan dinas, protokol, dan anggaran operasional.
Dikali 108 angkanya tidak kecil.
Dan semua itu dibayar dari pajak rakyat yang sama yang katanya sedang dihemat untuk efisiensi.
Soal Purbaya Ferry akui ada yang menarik,
tapi ada yang lebih penting:
Ferry tidak membabi buta mengkritik Purbaya.
Dia mengakui keberanian Purbaya berani head to head dengan Luhut, berani buka Pandora Box soal mafia-mafia yang selama ini nyaman, berani mengakui ada kebocoran di sistem restitusi pajak.
Tapi Ferry memisahkan dengan sangat tajam antara administrasi dan kebijakan.
Memindahkan Rp200 triliun dari BI ke Himbara?
Itu administrasi.
Bukan fiscal policy.
Dan hasilnya pun menunjukkan itu: undisbursed loan di perbankan sekarang sudah hampir Rp3.000 triliun.
Bank sudah punya likuiditas berlimpah tapi kredit growth tetap jatuh dari double digit ke 7%.
Debitur tidak mau ambil kredit bukan karena tidak ada uang di bank tapi karena economic
outlook-nya tidak meyakinkan.
Bisnis tidak ekspansi di tengah ketidakpastian.
Jadi pertanyaan Ferry sangat sederhana dan sangat keras: kebijakan apa yang Purbaya tawarkan untuk membalikkan tren ekonomi yang sedang turun ini?
Solusi Ferry dan ini yang paling provokatif:
Ferry tidak hanya mengkritik. D
ia kasih resep yang sangat berlawanan dengan narasi pemerintah sekarang.
Turunkan pajak.
Semua pajak.
PPN dari 11% ke 10%,
idealnya ke 5%.
Corporate tax diturunkan.
PPh diturunkan.
Biarkan uang itu tetap di tangan rakyat dan swasta bukan masuk ke kas negara yang menurut Ferry makin besar penerimaannya makin ngawur spendingnya.
Logikanya:
semakin besar uang yang dikuasai pemerintah semakin besar ruang untuk misallocation of resources.
Hambalang. BLBI. IKN. IKTP.
Semua terjadi bukan karena kekurangan uang
tapi karena uang yang terlalu banyak di tangan yang salah.
"The more money the government get,
itu makin kacau ekonomi kita."
Dan kalau penerimaan pajak turun spending harus dikecilkan juga.
Tidak ada jalan lain.
Defisit harus dijaga.
Negosiasi dengan kreditur kalau perlu.
Tapi cara membangun negeri ini harus berubah secara radikal dari government-driven menjadi private sector-driven.
Karena yang menciptakan lapangan kerja adalah bisnis. Bukan pemerintah.
Dan kalau bisnis punya ruang lebih besar untuk bergerak mereka yang akan menggerakkan ekonomi, bukan program pemerintah yang penuh kebocoran.
MBG salah dari awal, salah dalam desain:
Ferry tidak malu-malu:
Terus terang saja saya tidak setuju dengan program-program ultra populis macam MBG dan Koperasi Merah Putih.
Ini sudah salah dari awal."
Bukan karena niatnya buruk.
Tapi karena desainnya tidak masuk akal secara data.
Berdasarkan data statistik hanya 7,1% atau sekitar 20 juta orang yang benar-benar dalam kondisi urgen membutuhkan perbaikan gizi.
Dari 20 juta itu, mungkin 10 juta adalah anak-anak.
Tapi program MBG dirancang untuk menyuapi 83 juta orang dengan anggaran Rp328 triliun.
Pertanyaan Ferry: "
Kenapa yang harus disuapin 83 juta orang?
Kalau memang mau fokus gizi kenapa tidak targetkan 20 juta yang benar-benar butuh,
di daerah tertinggal, dengan sistem kupon yang jauh lebih efisien?
Paling mahal 5 triliun."
Dan kemudian muncul kabar ada 11 yayasan yang ikut di dalam ekosistem MBG.
Ferry langsung tanya:
Purbaya berani tidak mengcounter ini?
Kalau berani saya cium tangannya."
Kabinet 108 wakil menteri yang lebih gemuk dari Soekarno.
Program gizi yang menyuapi 83 juta orang padahal yang darurat hanya 20 juta. Anggaran Rp328 triliun untuk program yang tidak menyentuh akar masalah.
Dan tidak ada satu kebijakan fiskal yang benar-benar radikal untuk membalikkan tren ekonomi yang sedang turun.
Ferry tidak bilang Purbaya jahat. Dia bilang Purbaya belum cukup.
Dan selama kebijakan yang diambil masih bersifat kosmetik terapi kejut administrasi tanpa perombakan struktural yang nyata angka 8% growth yang terus digembar-gemborkan akan tetap menjadi angka yang indah di slide presentasi, bukan kenyataan yang dirasakan di dompet rakyat.
Guys, lo udah dengar kan angka 5,61%? Udah pada seneng, udah pada bangga, udah pada share-share di medsos bilang Indonesia tertinggi di Asia.
Tapi tunggu dulu.
Rayon Chin baru bedah angka itu sampai dalam. Dan hasilnya bikin dahi mengernyit.
5,61% itu bagus.
Tapi bagus dari mana?
Bayangin lo punya warung.
Omsetnya Rp10 juta sebulan.
Terus lo utang Rp3 juta pakai kartu kredit, terus lo belanjakannya ke warung lo sendiri.
Omset naik jadi Rp13 juta.
Lo seneng?
Seneng lah.
Tapi utang Rp3 juta itu harus dibayar besok plus bunganya.
Nah itu yang lagi terjadi sama ekonomi Indonesia sekarang.
Yang bikin 5,61% itu bukan karena industri kita makin kuat, bukan karena ekspor kita lagi gacor, bukan karena manufaktur kita lagi ngebut.
Yang bikin angkanya segede itu adalah belanja pemerintah naik 21,81% dalam satu kuartal dari yang sebelumnya cuma 4,5%.
Lima kali lipat. Dalam tiga bulan.
Dari mana asalnya?
THR PNS menjelang Lebaran.
Distribusi MBG yang dipercepat di awal tahun.
Total belanja negara di Q1 tembus Rp815 triliun naik 31% dari tahun lalu.
Sektor yang ikut meledak?
Akomodasi dan F&B naik 13% ya karena Lebaran dan liburan. Konsumsi rumah tangga naik 5,52% ya karena orang belanja pas Lebaran.
Ini bukan engine yang jalan terus. Ini momen. Setelah Lebaran lewat, THR habis, MBG balik ke ritme biasa angkanya mau dibawa ke mana?
Yang bikin lebih serem bagian yang jarang diomongin media:
Di kuartal yang katanya tertinggi sejak bertahun-tahun, mesin terbesar ekonomi Indonesia justru melambat.
Manufaktur yang nyumbang 19% dari total GDP — tumbuhnya turun dari 5,4% ke 5,04%. Ekspor cuma tumbuh 0,9% padahal dua kuartal sebelumnya 9,14% terus 3,25%.
Trennya turun terus turun terus turun.
Impor malah naik ke 7,18%.
Pertambangan anjlok 8,20%.
Yang naik adalah sektor yang sifatnya musiman dan tidak akan terulang di Q2.
Yang turun adalah sektor yang harusnya jadi tulang punggung pertumbuhan 10 tahun ke depan.
Dan ini bagian paling tidak enak:
Belanja pemerintah naik 31%.
Pendapatan negara naik cuma 10%.
Defisit APBN di Q1 sudah Rp240 triliun naik 2,5 kali lipat dari Q1 tahun lalu yang cuma Rp83 triliun.
Tapi yang lebih serem lagi adalah defisit primer ini ukuran paling jujur kesehatan fiskal negara.
Tahun lalu Q1 masih surplus Rp22 triliun.
Tahun ini Q1 defisit Rp95 triliun.
Bukan cuma memburuk tapi berputar total.
Dari plus ke minus hampir Rp100 triliun dalam setahun.
Artinya: pendapatan rutin negara tidak cukup untuk biayai operasional dasar bahkan sebelum bayar bunga utang.
Jadi negara harus utang baru bukan untuk bangun jalan atau sekolah, tapi untuk bayar tagihan harian dan cicilan utang lama.
Dan cadangan devisa BI turun 8,4 miliar dolar di Q1 karena harus terus intervensi supaya rupiah tidak makin babak belur.
Siklusnya muter terus:
defisit lebar, utang baru, yield SBN naik, asing kabur, rupiah lemah, BI intervensi, cadangan devisa terkuras.
Dan pertumbuhan 5,61% ini nikmatin siapa?
MBG mengalir ke vendor, catering, kontraktor lalu ke petani dan peternak supplier. Idenya bagus.
Tapi transparansi suppliernya masih gelap.
Belum jelas berapa persen yang benar-benar sampai ke rakyat paling bawah.
THR PNS?
Yang nikmatin ya PNS.
Sementara 60% pekerja Indonesia ada di sektor informal.
Tidak dapat THR.
Tidak dapat kenaikan apapun dari belanja pemerintah ini.
Lebaran spending?
Yang nikmatin kelas menengah ke atas yang punya kapasitas belanja.
Mall, hotel, restoran ramai.
Yang tidak punya duit lebih ya tidak ikut merasakan apapun.
Pekerja manufaktur, buruh harian, petani yang harga gabahnya tidak naik secepat sembako, pekerja informal yang upahnya kalah cepat dari inflasi mereka tidak ikut menikmati 5,61% itu.
Tapi siapa yang nanggung biayanya?
Defisit lebar ujungnya rupiah lemah.
Rupiah lemah ujungnya harga impor naik.
Harga impor naik ujungnya inflasi.
Dan yang paling keras kepukul inflasi adalah mereka yang paling tidak ikut menikmati pertumbuhannya.
5,61% itu angka yang nyata dan sah. BPS tidak bohong.
Tapi angka itu datang dari mesin suntikan belanja pemerintah yang melonjak lima kali lipat, Lebaran yang tidak terjadi setiap kuartal, THR yang hanya dirasakan sebagian kecil pekerja.
Sementara manufaktur melambat, ekspor trennya turun, defisit primer berbalik total dari surplus ke minus hampir Rp100 triliun, dan cadangan devisa terkuras.
Q1 2026 kemungkinan adalah puncaknya. Q2, Q3, Q4 Lebaran sudah lewat, THR sudah habis, MBG kembali ke ritme biasa. Angkanya mau dibawa ke mana?
Itu yang harus dijawab pemerintah. Dan itu yang harus lo kawal.
Guys, ini gilaa sihh
Suster Natalia.
Perempuan yang tidak menikah.
Tidak punya harta pribadi.
Mengabdikan seluruh hidupnya untuk gereja dan umatnya di Labuhanbatu, Sumatera Utara.
Dan sekarang dia harus menanggung beban Rp28 miliar yang raib bukan uangnya sendiri
tapi uang 1.900 jiwa umat yang dia jaga amanahnya.
bahkan dia bilang
ke teman dia yang suster juga
dia akan masuk penjara.
dia cerita
Setiap kali ketemu umat yang sederhana itu,
saya selalu katakan:
mari, masa depan anak-anakmu melalui menabung.
Tapi sekarang masa depan mereka itu hancur di tangan saya.
Kronologi yang perlu semua orang pahami:
Credit Union Paroki Aek Nabara koperasi simpan pinjam di bawah naungan gereja sudah berjalan 45 tahun tanpa masalah.
Umat menabung perak demi perak.
Untuk sekolah anak.
Untuk biaya sakit.
Untuk masa depan.
Total yang terkumpul dan ditempatkan di deposito: Rp28 miliar lebih dari 1.900 anggota.
Di 2019 Andi Hakim Febriansyah
Kepala Kas BNI Unit Aek Nabara
mendatangi pengurus CU.
Menawarkan produk bernama BNI Deposito Investment
dengan bunga 8% per tahun.
Lebih tinggi dari deposito biasa.
Pengurus percaya.
Karena siapa yang tidak percaya kepada kepala kas bank negara yang datang dengan seragam resmi, ID card BNI, dan pick-up service resmi yang sudah berjalan sejak 2015?
Tujuh tahun berjalan.
Bunga masuk rutin setiap bulan.
Tidak ada masalah.
Sampai Desember 2025 dan semuanya mulai runtuh:
CU mengajukan pencairan Rp10 miliar untuk pinjaman ke anggota.
Bertahap minta Rp2 miliar dulu.
Januari 2026 tidak cair.
Februari 2026 tidak cair.
5 Februari Suster Natalia panggil Andi.
Andi bilang besok.
Besok tidak cair.
Andi minta semua bilyet deposito untuk pembaruan. Suster menyerahkan semuanya karena percaya.
Sore hari Andi sudah di jalan ke Medan katanya cuti.
Lalu 23 Februari bukan Andi yang datang.
Tapi kepala kas baru.
Dengan kalimat yang mengubah segalanya:
Per hari ini saudara Andi Hakim Febriansyah bukan pegawai BNI lagi.
Dan produk yang ditawarkan itu bukan produk BNI.
Suster Natalia pingsan lima menit.
Yang lebih ngeri dari hilangnya uang itu:
Bilyet deposito yang dipegang Andi dibakar. Sengaja. Supaya tidak ada barang bukti.
Tapi Andi salah hitung.
Satu bilyet tersimpan di tangan pastor lain yang kebetulan tidak ada di tempat saat pengambilan.
Satu bilyet itu yang menjadi bukti bahwa semua ini nyata.
Andi sudah menyiapkan skenario dari jauh hari. Tanggal 23 Februari itu hari yang sama dia ambil semua bilyet dia sudah mengajukan pengunduran diri. Dan dua hari kemudian dia terbang ke luar negeri bersama istrinya lewat Bali ke Australia, lalu ke New Zealand.
Sambil cuti dia masih angkat telepon Suster Natalia. Masih bilang "aman, Suster."
Masih janjikan pencairan.
Setelah red notice diterbitkan oleh Interpol dan Australian Federal Police Andi kembali ke Indonesia 30 Maret 2026 dan ditangkap di Kualanamu.
Di dalam pemeriksaan dia mengakui semua perbuatannya.
Uangnya?
Dipakai untuk sport center, kafe, mini zoo, tanah, dan berbagai aset yang kini sedang dilacak dalam proses TPPU.
Dan sekarang masuk ke bagian yang paling mengkhawatirkan:
BNI melakukan verifikasi internal sendiri.
Tanpa transparansi.
Tanpa melibatkan korban dalam proses.
Hasilnya: BNI bersedia mengganti Rp7 miliar.
Dari Rp28 miliar lebih.
Dan pada 26 Maret 2026 tanpa persetujuan CU-PAN BNI mentransfer Rp7 miliar itu ke rekening korban secara sepihak.
Seolah dengan mentransfer itu kasus selesai.
Kuasa hukum CU-PAN dari Gani Djemat & Partners menolak keras.
Karena:
Berdasarkan prinsip Vicarious Liability perusahaan bertanggung jawab atas tindakan pegawai yang dilakukan dalam kapasitas jabatannya.
Andi beroperasi dengan ID card BNI, jabatan BNI, fasilitas pick-up service BNI, dan atas nama BNI selama tujuh tahun.
Ini bukan tindakan pribadi yang kebetulan dilakukan oleh orang yang bekerja di BNI. Ini tindakan yang bisa terjadi karena dia adalah BNI di mata korban.
POJK Nomor 22 Tahun 2023 Pasal 10 ayat 1 juga menegaskan: pelaku usaha jasa keuangan wajib bertanggung jawab atas kerugian konsumen akibat kesalahan pegawainya.
Tidak ada klausul kecuali kalau pegawainya nakal.
Dan respons BNI yang paling menyakitkan menurut korban:
Enam kali mediasi.
Satu kali aksi damai.
Sepanjang itu tidak satu pun pejabat BNI dari kantor cabang atau wilayah yang mengucapkan kata "maaf" atau kami prihatin kepada korban.
Yang datang dari pihak BNI hanya satu permintaan berulang: Berikan kami bukti pendukung.
Padahal semua data transaksi ada di sistem BNI sendiri.
Semua perpindahan uang dari kas lancar ke rekening Andi tercatat di rekening koran BNI.
Bukan di tangan korban.
Baru Wakil Menteri BUMN yang mengundang korban dan itulah pertama kalinya ada pejabat yang mengucapkan kata permohonan maaf dan rasa prihatin.
Satu hal yang tidak bisa diabaikan:
Suster Natalia sekarang punya utang pribadi ke beberapa orang.
Karena ada anggota CU yang butuh uang untuk berobat yang tidak bisa dia biarkan meninggal di rumah sakit sementara dana CU tidak bisa diakses.
Dia yang tidak punya harta pribadi meminjam uang untuk membayar tagihan rumah sakit umatnya.
"Saya tidak bisa biarkan umat meninggal di rumah sakit, Pak."
BNI adalah bank BUMN.
Bank milik negara.
Diawasi oleh OJK.
Dijamin kepercayaannya oleh nama negara Indonesia.
Dan di bawah namanya selama tujuh tahun seorang kepala kas menjalankan skema penipuan yang menyedot uang 1.900 jiwa umat gereja yang menabung perak demi perak untuk masa depan anak-anak mereka.
BNI tidak bisa menyebut ini hanya masalah oknum lalu cuci tangan dengan transfer Rp7 miliar yang tidak transparan prosesnya.
Karena korban bukan menyimpan uang kepada Andi Hakim.
Korban menyimpan uang kepada BNI.
Dan BNI harus mengembalikannya penuh tanpa pengecualian.
Kalau tidak ini bukan hanya kasus kriminal biasa.
Ini adalah konfirmasi bahwa di negeri ini orang miskin yang menabung untuk masa depan anaknya bisa kehilangan segalanya karena sistem yang seharusnya melindungi mereka justru membiarkan hal ini terjadi selama tujuh tahun.
Guys, lu pada tau Gayus Tambunan?
Pegawai pajak.
Golongan 3A.
Gaji sekitar Rp12 juta sebulan.
Yang punya rekening Rp28 miliar.
Dan itu baru yang ketahuan.
Gayus Halomon Tambunan lahir 1979 di Jakarta. Kerja di Direktorat Jenderal Pajak tepatnya di subdirektorat banding pajak.
Posisinya bukan posisi strategis tingkat tinggi.
Dia bukan direktur.
Bukan pejabat eselon satu.
Tapi posisinya adalah posisi kunci.
Karena di situlah ditentukan nasib sengketa pajak antara perusahaan-perusahaan besar dan negara.
Di sinilah pajak miliaran bisa dikurangi.
Sanksi bisa dihapus.
Dan semua itu dengan imbalan tertentu.
Dan sistem pengawasannya?
Nyaris tidak ada.
Ini yang bikin gue diem lama.
Gayus bukan orang yang tiba-tiba jadi jahat.
Dia adalah produk dari sistem yang memberinya kekuasaan besar tanpa kontrol memadai.
Dalam kultur birokrasi yang sudah terlanjur permisif terhadap penyimpangan.
ICW bilang posisi Gayus adalah posisi kunci dalam ekosistem mafia pajak.
Dan hampir mustahil dia mengelola aliran dana miliaran sendirian tanpa bantuan atau perlindungan dari internal DJP, institusi perbankan, atau aparat penegak hukum.
Gayus bukan pelaku tunggal.
Dia simpul kecil dari jaringan yang jauh lebih besar.
Lalu kasusnya meledak.
Dan negara mulai bergerak.
Tapi geraknya aneh.
Dari rekening Rp28 miliar yang ditemukan penyidikan awal hanya menjerat Gayus dalam satu kasus penggelapan pajak senilai Rp395 juta.
Rp395 juta.
Dari rekening Rp28 miliar.
Ini bukan ketidakmampuan investigasi.
Ini pilihan.
Pilihan untuk melihat sesempit mungkin supaya yang di balik Gayus tidak perlu disentuh.
Dan hasilnya?
Maret 2010 Pengadilan Negeri Tangerang membebaskan Gayus.
Bebas.
Dengan rekening Rp28 miliar yang sumber uangnya tidak pernah dijelaskan secara memadai.
Publik marah.
Dan kemarahan itu masuk akal.
Tapi yang paling gila bukan vonisnya.
Yang paling gila adalah September 2010, ketika Gayus sudah berstatus tahanan, publik dikejutkan oleh foto yang beredar di media.
Gayus dengan rambut palsu dan identitas palsu ketahuan nonton turnamen tenis internasional di Bali.
Sebagai tahanan.
Yang seharusnya ada di balik jeruji.
Dan ini bukan kebetulan.
Ini bukan kelalaian.
Gayus sendiri mengaku dia membayar oknum petugas rutan dan aparat agar bisa bebas bergerak.
Dia tidak kabur lewat tembok.
Dia jalan keluar lewat pintu yang sengaja dibuka.
Dan dari sini semuanya mulai terbongkar bukan karena sistem bekerja.
Tapi karena media bekerja.
Foto-foto itu tersebar.
Investigasi jurnalistik masuk.
Publik menekan.
Dan baru setelah tekanan itu mencapai titik didih negara mulai bergerak serius.
Ini yang kemudian dikenal sebagai asal-usul istilah yang kita kenal sekarang no viral, no justice.
Tanpa foto itu mungkin Gayus selesai dengan dakwaan kecil dan hukuman ringan.
Dan dunia tidak pernah tahu.
Akhirnya Gayus masuk pengadilan serius.
Januari 2011 vonis 7 tahun.
Publik marah, jauh dari tuntutan jaksa yang 20 tahun.
Banding naik jadi 8 tahun.
Masih dianggap tidak sebanding.
Kasasi ditolak Mahkamah Agung.
Tapi kasus tidak berhenti di satu perkara.
Satu per satu kasus lain disidangkan terpisah pencucian uang, pemalsuan paspor, penyuapan pejabat rutan, suap aparat.
Total akumulasi hukuman dari semua perkara sekitar 30 tahun penjara.
Tapi ini yang paling penting dan paling jarang dibahas.
Di ruang sidang, Gayus mulai bicara.
Dia mengaku tidak bekerja sendirian.
Dia sebut nama-nama.
Dia klaim ada oknum polisi, oknum jaksa, oknum hakim yang terlibat dalam jaringannya.
KPK memeriksa.
Media meliput.
Publik berharap.
Dan kemudian sunyi.
Sebagian besar nama yang disebut Gayus tidak pernah benar-benar sampai ke meja pengadilan. Pengakuannya berhenti jadi wacana.
Tidak berkembang jadi tersangka baru dalam skala besar.
Dan ini adalah pola yang selalu berulang di Indonesia.
Individu dihukum.
Sistem diselamatkan.
Gayus dipenjara 30 tahun.
Tapi struktur yang memungkinkan mafia pajak dan mafia hukum tumbuh tidak pernah sepenuhnya dibongkar.
Pertanyaan yang paling jujur dari kasus ini bukan berapa tahun Gayus dipenjara.
Tapi apa yang benar-benar berubah setelah Gayus?
Apakah sistem perpajakan lebih bersih sekarang?
Apakah posisi-posisi kunci di DJP sekarang punya pengawasan yang memadai?
Apakah masih ada Gayus-gayus lain yang belum ketahuan kamera?
Kalau jawabannya tidak pasti maka kasus Gayus Tambunan bukan sejarah yang sudah selesai.
Guys lu pada tau dulu presiden habibie pernah selamatin rupiah dari Rp17.000/USD ke level Rp6.500–Rp7.000-an per dolar AS dalam kurun waktu sekitar 17 bulan pada masa krisis ekonomi 1998–1999.
Bayangin lagi krisis tapi bisa buat nilai rupiah menguat
segila dan sejenius itu beliau
Bayangin ini dulu:
Tahun 1998, Indonesia itu hampir runtuh total:
Rupiah tembus hampir Rp17.000/USD
Bank-bank kolaps
Perusahaan bangkrut massal
Rakyat narik duit → panic everywhere
Dunia internasional:udah gak percaya sama Indonesia
Lalu masuk Habibie.
Bukan ekonom.
Bukan banker.
tapi Engineer.
Tapi justru di situ letak “gila”-nya.
Habibie ngerti satu hal:
Kalau bank hancur, ekonomi pasti mati.
Langkahnya brutal tapi perlu:
Bank yang gak sehat → ditutup
Bank yang masih bisa diselamatkan → direstrukturisasi
Hasilnya:
Lahir Bank Mandiri (gabungan 4 bank bobrok)
Bank Central Asia diselamatkan dan jadi raksasa
Banyak bank lain ikut pulih
Ini bukan sekadar “nyelamatin bank”
ni balikin kepercayaan orang buat naro uang lagi
Sebelum Habibie:
Bank sentral bisa “diatur” pemerintah
Habibie ubah total:
Lewat UU No. 23 Tahun 1999
Bank Indonesia jadi independen
Kenapa ini penting?
Karena dunia luar mikir:
Kalau bank sentral bisa diintervensi politik → negara ini gak bisa dipercaya.”
Dengan langkah ini:
Investor mulai balik
Rupiah mulai stabil
Indonesia dapat bantuan besar dari International Monetary Fund (~$43 miliar)
Tapi bedanya Habibie:
Dia gak nurut 100%
Contoh:
IMF mau subsidi dicabut
Habibie nolak
Kenapa?
Kalau subsidi dicabut saat rakyat lagi hancur → daya beli mati total
Jadi dia:
Pakai dana IMF buat stabilisasi
Tapi tetap jaga rakyat bawah
Ini yang bikin kebijakan dia tegas tapi manusiawi
Masalah waktu itu:
Banyak perusahaan utangnya dolar → tiba-tiba meledak
Solusi Habibie:
Restrukturisasi utang
Konversi ke rupiah
Bentuk lembaga khusus (INDRA)
Perusahaan yang selamat:
Astra International
Sinar Mas Group
Kalau ini gak dilakukan:
PHK massal bisa jauh lebih parah
Ekonomi gak akan pulih kalau politik chaos.
Habibie:
Buka kebebasan pers (UU Pers 1999)
Legalin banyak partai politik
Siapin Pemilu 1999
Dunia lihat:
Indonesia berubah.
Dari otoriter → demokratis.
Dan ini efeknya besar:
Kepercayaan internasional balik
Hasil Nyata (Bukan Teori)
Dalam ±17 bulan:
Rupiah: dari ~16.800 → ~7.000/USD
Inflasi mulai turun
Perbankan stabil
Investor mulai masuk lagi
Ini bukan recovery biasa
Ini comeback ekstrem dalam waktu super singkat
comeback tergila sepanjang republik ini berdiri
Tapi sekarang berbanding terbalik
bank indonesia mulai disusuti orang2 yang kompeten
gk pernah kerja di bank indonesia
tapi tiba2 bisa jadi deputi bank indonesia
karna keponakan presiden
jadi kalau lu lihat rupiah melemah
ihsg melemah
ekonomi lesu
asing keluar terus
yaa ini kebalikan dari semua yang dilakuin pak habibie dulu
ya tinggal copas aja deh
apa yang dilakuin sama pak habibie
pasti gk bakal mau
orang niat nya jadi pemimpin juga udah jelek
Kejeniusan Habibie bukan karena dia ekonom.
Tapi karena dia berpikir seperti engineer:
lihat masalah → bongkar sistem → perbaiki dari akar
Dia berani ambil keputusan gak populer, tapi benar.
Pada 1983, Soeharto memulai operasi pembasmian premanisme di seluruh Indonesia yang disebut Petrus.
Pada 1983 juga, Deng Xiaoping juga memulai operasi pembasmian premanisme di seluruh China yang disebut Strike Hard Campaign.
Apa bedanya?
Sederhananya, Soeharto tidak berniat membasmi preman.
Soeharto malah melestarikan dan melembagakan premanisme. Ia ingin menjadi bos preman se-Indonesia, seperti Don Corleone dalam film mafia "The Godfather".
Dengan kata lain, Soeharto sendiri adalah preman. Petrus hanyalah konflik antar preman, yaitu gerombolan mafia Soeharto vs gerombolan-gerombolan kecil anarkis dan tak teratur.
Berkat Petrus, Soeharto, istri, dan anak-anaknya pun berhasil menjadi the Lord of Crime. Barangsiapa tidak mau tunduk dan setor pada hierarki mafia preman se-Indonesia yang diketuai dinasti Soeharto, ia akan dibantai di jalanan.
Berapa yang mati? Sekitar ribuan. Hmm. Cuma segitu?
Berapa yang ditangkap? Sebenarnya tidak banyak-banyak amat. Hmm.
Ternyata, yang penting para preman tidak boleh ribut dan harus patuh pada Soeharto. Boleh memalak, boleh merampok, boleh memungli selama diawasi oleh rezim Orde Baru yang sangat memprioritaskan harmoni ala Jawa. Dan tentunya, selama setoran pungli dibayar.
Karena tujuannya hanya ini doang, yang dibunuh dan ditangkap selama Petrus tidak usah terlalu banyak. Yang penting para preman menjadi takut dan patuh dengan rezim.
Sistem ini masih berlangsung hingga hari ini. Premanisme masih merajalela di Indonesia.
Ayo kita bandingkan dengan pemberantasan preman di China di bawah rezim Deng Xiaoping.
Mirip seperti di Indonesia, saat itu China sangat penuh sesak dengan kriminalitas, pencurian, pembunuhan, pemalakan, dan pemerkosaan oleh preman dan bandit di jalanan, sebagaimana dapat dilihat di film-film kungfu zaman dahulu.
Kota-kota besar China dikuasai triad, mafia, preman, bandit, dan rampok yang melimpah gila-gilaan dan saling tawuran. Mereka sangat merajalela sejak kekosongan kekuasaan daerah akibat anarki Teror Revolusi Kebudayaan.
Bagaimana Strike Hard Campaign menghadapi masalah ini?
Deng Xiaoping menurunkan tentara dan polisi untuk membantai massal preman, kriminal, mafia, triad, begal, dan gerombolan rampok yang meresahkan kota-kota di China. Markas-markas mafia dikepung tentara, diserang, dan seluruh isinya dibantai.
Puluhan ribu preman dan rampok diciduk aparat bersenjata dari gang dan kos-kos kumuh China, diseret ke jalan, dan ditembak mati bergelimpangan di tempat. Eksekusinya tidak sok misterius, melainkan diumumkan, terbuka, terang-terangan, dan ditonton penduduk setempat.
Petrus tidak pernah diumumkan. Tiba-tiba saja mayat sudah bergelimpangan di jalanan, entah siapa mereka. Strike Hard Policy diumumkan, dikaji, dan dievaluasi.
Itu saja? Ternyata tidak. Pembeda terbesar Strike Hard Campaign dengan Petrus bukan di jumlah kematian, melainkan jumlah penangkapan.
Ternyata, 1.7 juta orang preman dan bandit berhasil diburu dan ditangkap aparat China pada 3 tahun pertama operasi.
Inilah perbedaan terbesar antara Strike Hard Campaign dan Petrus: penangkapan.
Kalau anti-premanisme Indonesia disetarakan dengan China dalam rasio populasi, seharusnya Indonesia saat itu minimum menangkap 200.000 orang preman dan bandit.
Sayangnya, Soeharto bukan menangkap, melainkan hanya meneror dan melembagakan.
Kalau preman bisa dikaryakan untuk mencari setoran pungli, kenapa harus ditangkap? Kalau ormas bandit bisa disewa untuk memukuli aktivis dan melindungi aset-aset keluarga Cendana, kenapa harus ditangkap?
Meanwhile, rezim Deng Xiaoping mendata, menangkap, dan menumpas sekitar 200.000 kelompok ormas rampok dan gerombolan kriminal yang berbeda dari kota-kota. Padahal jika ditotal, jumlah anggota mereka mencapai jutaan. Tapi tetap ditumpas.
Tidak seperti Soeharto, Deng Xiaoping tidak ingin menjadi the Lord of Crime di China. Yang ia inginkan adalah menumpas, memusnahkan, membersihkan total. Ia tidak mau hanya membunuh segelintir kecil, tetapi harus langsung membasmi seluruh jutaan populasi preman dan bandit di seluruh China sampai kosong.
Petrus selesai begitu saja tahun 1985 dengan tidak jelas. Preman di Indonesia tetap merampok dengan buas, tetapi kali ini dengan teratur dan dengan setoran pungli.
Preman-preman yang sudah dijinakkan ini bahkan direkrut dan menjadi bagian inti dari rezim di Indonesia, seperti dalam Peristiwa Kudatuli 1996 dan Kerusuhan Mei 1998. Pada Mei 1998, Asia Week mengabarkan bahwa beberapa jenderal membawa ratusan preman dengan pesawat dan kereta dari Timor Timur dan ke Jakarta. Indonesia masih menjadi Negara Preman sampai hari ini.
Meanwhile, Strike Hard Campaign ternyata tidak selesai tahun 1985, tetapi terus berlanjut secara rutin selama 20 tahun kemudian sampai premanisme liar di jalanan China benar-benar habis dan kosong.
Hari ini kota-kota besar China teratur, sangat aman, dan relatif bersih dari binatang ormas dan preman jalanan liar yang useless dan tak terkontrol seperti tumbuhan hama Indonesia.
Di Indonesia, sejak kejatuhan keluarga Cendana dan fragmentasi struktur premanisme nasional, banyak binatang ormas preman itu yang berpindah majikan ke dinasti politik daerah dan berbagai institusi. Di China, potensi ini tidak ada karena pentolan-pentolan semacam ini sudah dibasmi selama program antikorupsi yang dimulai sejak 2011.
Dalam program antikorupsi itu, 4 juta orang pejabat ditangkap. Lebih banyak pejabat yang ditangkap daripada preman. Pentolan-pentolan pejabat yang paling korup dan bodoh dihukum mati dan ditembak di kepala. Benefit program anti korupsi ini banyak, salah satunya adalah bahwa preman yang tersisa takkan punya calon majikan korup untuk melindungi.
Tidak heran reformasi industrialisasi pabrik China sangat berhasil dan sangat maju. Ketika kita bikin pabrik di Shenzen, kita takkan didatangi 40 kelompok preman buas rampok yang berbeda. Cukup hubungi 12345, maka para binatang preman belagu dan berliur akan segera dicari dan ditumpas habis.
Hari ini pertumbuhan industri dan pabrik di China sangat maju.
---
Deng Xiaoping membasmi preman. Soeharto adalah preman.
Polanya kemungkinan gini:
• Buzzer ngebocorin harga bahan bakar nonsubsidi padahal confidential
• Pemerintah melihat reaksi masyarakat
• Pasti protes karena kenaikannya signifikan
• Pas pengumuman kenaikan, tidak seperti yang beredar (bisa lebih rendah)
• Pemerintah mengklaim keberhasilan karena kenaikan tidak separah yang dikhawatirkan
Pengambilan kebijakan berdasarkan hasil tes ombak 🙏😂
Di bidang astronomi, jarak yg sangat jauh diukur dgn satuan “tahun cahaya”
Di Indonesia ada satuan baru dlm perhitungan harga/biaya yg sangat mahal, yaitu “hari MBG”
* Anggaran beasiswa LPDP: 5 hari MBG
* Subsidi BPJS Kes: 40 hari MBG
* Biaya pembangunan Whoosh: 94 hari MBG
😁
Como 1907 is deeply saddened by the passing of Michael Bambang Hartono.
We extend our sincere condolences to the Hartono family and to all at the Djarum Group.
Under the family’s leadership, the Club has entered a new chapter in its history, and we remember him with gratitude and respect.
Kata aktor Jepang Hiroyuki Sanada:
Ada kontradiksi dlm watak manusia. Ada yg mimpi pengen punya kolam renang di rumah, sementara yg sudah punya jarang pakai. Ada yg pengen memiliki seseorang yg dicintai, sementara yg sudah punya malah mengeluh mengenai pasangannya. Yang lapar pengen makan, tetapi yg sudah kenyang sering protes makanan yg ia santap tak enak.
Kunci kebahagiaan pada dasarnya adalah syukur.
Iran (Parsia) ini sejak 2300 thn lalu memang dikenal punya peradaban sains yg ngeri.
Istilah algoritma yg sekarang mendunia diambil dari nama penemunya : Al-Khwarizmi dari Iran pd thn 800.
Ibnu Sina bapak kedokkteran yg lejen itu juga orang Iran.
Al Biruni yg menemukan ilmu astronomi pd thn 900 dari Iran juga.
Saat Islam raih golden age pada era Abbasiyah di thn 750, semua teknokrat dan Menkeu diambil dari orang2 Iran.
Teknokrat Iran itu dianggap sbg biang keladi kenapa Abbasiyah jadi superpower dunia di thn 800an.
Yang unik, di era abbasiyah, para peneliti utama Baitul Hikmah (harvard di era abbasiyah) adalah orang Yahudi.
Raja Abbasiyah yg muslim suka sekali dg kinerja para ilmuwan Yahudi tsb, dan dijadikan pegawai andalan kerajaan. Gajinya tinggi. Makanya ilmuwan Yahudi di era 800an sangat happy kerja di negara abbasiyah islam.
Jadi Abbasiyah maju sekali krn kolaborasi teknokrat Iran x ilmuwan Yahudi.
Orang2 Iran dan Yahudi di jaman abbasiyah sangat akrab. Dekat sekali relasinya. Masjid dan sinagog Yahudi berdampingan di kota Bahgdad (episentrum dunia yg amat indah di tahun 800an).
Asli. Kalau baca buku2 sejarah era 800an, saat Golden Era Abbasiyah, kita terpana dg kolaborasi indah Iran Persia x Arab dan Yahudi. Mrka amat kompak majukan peradaban dunia.
Kenapa kolab indah di tahun 800an itu gak bisa diulang?
Orang Yahudi, Arab dan Iran jaman now gak pada mau baca sejarah lama mereka.
Jejak sejarah lama era abbasiyah itu jarang dibaca saat ini sama warga yahudi, arab dan iran. Atau mrka sengaja melupakannya.
Some people never post photos online.
No selfies. No updates. No “look at me” moments.
In a world built for attention, their silence stands out.
Here’s what psychology says it really means: