Naik Gunung Jauh,
Naik-Turun Ojek,
Transportasi yang bagus,
Sudah tidak susah dan menyiksa lagi kalau naik gunung
Ternyata itu saya sekarang
Terima kasih
Palutungan, 14-15 Juni 2026
@saptaipb Ga bisa. Kasus kali ini unik. Pemerenta Konoha nembakin kaki sendiri berulang kali.
Harus ada yg berani ngambil pistolnya sembari ngobatin kakinya. Ga guna ngobatin kaki kalo terus ditembakin.
Tips sederhana dr sy
Kalau pulang kerja atau pergi, biasakan bawain oleh2 istri meski itu sekadar cilok 5rb atau permen cap kaki 2 biji
Lalu, makanlah berdua dan cerita ttg hari yg baru kalian lalui dr kedua belah POV
Komunikasi yg baik adl fondasi penting dalam pernikahan yg Insya Allah berusia panjang hingga maut memisahkan
Menikah itu ibadah seumur hidup, melelahkan memang, namun layak diperjuangkan bersama2
Moga langgeng terus mas mbak ๐คฒ๐ป๐คฒ๐ป๐คฒ๐ป
@jawafess kota Madiun...lokasi terhitung strategis, dilewati tol trans Jawa, dilewati bis AKAP setiap saat, kereta api ekse maupun ekonomi jalur selatan semua berhenti, mau ke bandara Solo cukup sejam, ke kota Yogya via tol 2 jam sampe, ke bandara Juanda 2 jam jg sampe, ke Sby 1,5an jam bs
Saya ada cerita seorang bapak.
Dia kerja 20 tahun buat biayain anaknya kuliah S1.
Lembur.
Utang.
Sampai jual tanah warisan.
Anaknya lulus. IPK bagus.
Wisuda lengkap dengan toga.
Sekarang anaknya kerja serabutan. Gaji di bawah UMR.
Dan si bapak masih senyum bilang,
"Mungkin belum rezekinya."๏ฟผ
Yang bikin saya merenung bukan cerita anaknya.
Tapi cerita si bapak.
Dia lahir tahun 70-an.
Gak tamat SMA pun bisa buka toko,
punya rumah,
besarin anak dengan layak.
Logikanya simpel dan masuk akal:
"Dulu gw gak sekolah tinggi aja bisa. Kalau anak gw kuliah,
hidupnya pasti jauh lebih baik dari bapaknya."
Logika itu benar. Di zamannya.๏ฟผ
Masalahnya bukan orang tua yang salah didik.
Bukan juga anaknya yang kurang usaha.
Tapi janji yang mereka pegang sudah kedaluwarsa.
Ijazah dulu adalah tiket.
Sekarang ijazah adalah syarat minimum.
Yang bahkan kadang pun masih belum cukup.
Dua hal yang kelihatannya sama, tapi sebetulnya beda jauh.๏ฟผ
Bayangin ya.
Tahun 1995,
fresh graduate langsung diperebutkan perusahaan.
Sekarang,
lowongan entry level minta pengalaman 2 tahun,
skill digital, bisa multitasking, dan siap ditempatkan di mana saja.
Gajinya?
UMR aja belum tentu.
Hampir sama kalau dikonversi ke harga waktu itu.
Tapi harga rumah, kontrakan, dan beras sudah tidak ikut berdiam di angka yang sama.๏ฟผ
Generasi 90-an pasti hafal nasihat ini:
"Rajin sekolah, biar dapat kerja bagus."
"Kuliah dulu, baru enak hidupnya."
"Investasi terbaik itu pendidikan."
Nasihat itu bukan bohong.
Di zamannya, itu benar dan terbukti.
Tapi zamannya sudah ganti.
Nasihatnya tidak ikut ganti.
Dan anak-anak kita tumbuh sambil pegang peta zaman dulu
yang sudah tidak cocok sama jalanan yang mereka hadapi sekarang.๏ฟผ
Saya pernah ngobrol panjang sama seorang teman.
Dia cerita,
"Bokap gw sampai jual motor buat bayar UKT semester terakhir gw."
Saya tanya, "Sekarang kerjanya apa?"
"Freelance desain. Kadang ada job, kadang enggak."
"Bokap lu tau?"
"Tau. Dia bilang sabar, rezeki ada aja. Tapi gw liat matanya... dia bingung."
Si bapak bingung bukan karena anaknya gagal.
Tapi karena cara yang dulu berhasil sekarang tidak lagi bekerja.
Dan dia tidak punya peta baru untuk dikasih ke anaknya.๏ฟผ
Kalau anakmu masih sekolah atau mau kuliah,
jangan cuma pikirin jurusannya.
Tapi ajarin juga:
1. Ajarin dia cara kerja uang sejak kecil.
2. Bekali satu skill konkret yang bisa langsung menghasilkan.
Sebelum dia lulus dan bingung mau mulai dari mana.
3. Kasih ruang buat gagal kecil sekarang.
Biar dia gak gagal besar pertama kali justru di dunia nyata.
4. Jangan cuma bekali ijazah. Bekali juga kemampuan bertahan.
Bukan berarti kuliah tidak penting. Tapi kuliah saja sudah tidak cukup.๏ฟผ
Soalnya begini.
Orang tua yang paling menyiapkan anaknya bukan yang paling banyak bayar biaya kuliah.
Tapi yang paling jujur bisa ngomong ke anaknya:
"Dunia yang kamu masuki berbeda dari dunia yang Ayah dan Ibu kenal.
Kita harus cari tau bareng-bareng."
Kejujuran itu lebih berharga dari SPP mana pun.๏ฟผ
Dan seperti biasa, selalu ada dua kubu.
Kubu pertama bilang,
"Orang tua salah. Harusnya ajarin skill, bukan kejar gelar."
Kubu kedua bilang,
"Orang tua sudah benar. Anaknya yang kurang mau usaha."
Tapi ada kemungkinan ketiga yang jarang ada yang mau nyebut:
Dua-duanya sudah berusaha sebaik yang mereka bisa dengan informasi yang mereka punya.
Tapi sistemnya yang tidak pernah jujur ke keduanya.๏ฟผ
Generasi kita mungkin adalah generasi pertama yang hidupnya lebih susah dari orang tuanya.
Bukan karena malas. Bukan karena manja.
Tapi karena peta yang diajarkan ternyata sudah tidak relevan saat mereka datang.
Dan orang tua mereka masih dengan tulus menunjuk ke peta yang didapat dulu.๏ฟผ
Dirumah mau ada arisan, anakku 4th udah tak kasih tau dari pagi. Seharian dia bener-bener sibuk, ikut bantu angkatin meja kursi, masukin snack ke box. Lipetin tisu. Tibalah sore menuju arisan, dia nanya
๐ถ๐ป : mah ini udah sore?
๐ฑ๐ปโโ๏ธ : udah
๐ถ๐ป : orang-orangnya udah mau pada dateng?
๐ฑ๐ปโโ๏ธ : iya, makanya mama mau turun mau siap-siap
๐ถ๐ป : (masuk kamar dia sendiri, ambil baju di lemari) uti, Keenan mau ganti baju
๐ต๐ป : kamu kan baru aja ganti
๐ถ๐ป : gapapa, biar rapi, kan mau arisan
Pas denger orang pada ngobrol, dia turun, langsung duduk di tengah ibu-ibu PKK sambil ikut campur. Mamanya bawa minum buat ibu-ibu yg baru dateng
๐ถ๐ป : Keenan juga mau
๐ฑ๐ปโโ๏ธ : (tak ambilin gelas yg daritadi udah dia pake buat minum)
๐ถ๐ป : gamau, mau kaya orang-orang, dikasih tutup
๐ฑ๐ปโโ๏ธ : nih
๐ถ๐ป : makasih mama
Lanjut ikut campur lagi sama ibu-ibu PKK,
kalau ada yg ketawa ikut ketawa padahal gatau konteksnya, pokoknya sepanjang arisan dia nyimak
Sekarang anaknya tidur lebih awal krn capek habis arisan
cc:threaddevivandara