Hari 1: Cadangan devisa dikuras semalam. "Tenang, sementara kok." Ibu ibu komplek diam diam udah mulai nimbun Indomie. Gandumnya? Impor. Semangat ya Bu.
Hari 2: Jam 3 pagi nelpon Menkeu minta disiplin fiskal. Menkeunya lagi tidur. Yg angkat telpon tengah malam cm Ferry Irwandi.
Hari 3: Anaknya posting IG: "Bapak lagi lawan Soros sama CIA πͺ." Sorosnya lg nonton Netflix.
Hari 4: Dolar 50rb. "Ini bagus buat eksportir, kalian aja yang gak ngerti makro." Bang, yang ngerti makro lagi antri minyak goreng.
Hari 5: BI naik 400 bps tengah malam, tanpa rapat. "Percaya sama saya, saya paling paham timing." Pas kamu bangun, cicilan KPR udah naik. Selamat pagi.
Hari 6: Dolar 75rb. Dia larang media pakai kata "depresiasi." Sekarang resminya: "rekalibrasi nilai tukar terencana." Bensin juga lagi rekalibrasi. 300%. Tapi terencana.
Hari 7: 100rb. "Yang gak punya PhD ekonometrika gak usah komentar." Anaknya: "Pah, Gimana CIA udah kalah?" Poorbaya: "... tenang mereka ga punya PhD nak dan ga ngerti market."
Psst, bercanda ya Pak π
@rickyho_1989 Yes, agree on LFP. It caps the EV upside.
On stainless, Iβd almost flip the blame: Tsingshan helped create the oversupply in the first place π.
@rickyho_1989 Fair point. LFP can cap the battery upside. But Indonesia's nickel story is not only batteries: much of the asset base is Class 2/NPI/ferronickel for stainless steel.
@rickyho_1989 Yes, agree on marginal capex. Iβd just separate that from an exit story.
They can diversify new spend outside Indonesia, but if they still need nickel at scale, Indonesia remains hard to replace.
If it's different metal like Bauxite, that is much easier to walk away from.
8/ Pelajaran dari 1998 bukan bahwa bunga ekstrem itu hebat. Pelajarannya: kalau kepercayaan sudah rusak, pilihan kebijakan yang tersisa biasanya sama-sama mahal. Bukan nasihat investasi.
1/ Rupiah sudah lewat 18.000 dan BI baru menaikkan BI-Rate 50 bps untuk stabilisasi. Di saat yang sama, revisi UU P2SK membuat pasar kembali menilai apakah independensi BI dan disiplin policy masih cukup kuat.
7/ Bagian yang membuat pasar lebih sensitif sekarang adalah arah kebijakan. Versi resmi DPR dan pemerintah: revisi P2SK memperkuat sektor keuangan dan mendukung growth. Reuters mencatat investor tetap khawatir soal potensi campur tangan politik.
Desperate times force desperate measures.
Di era Habibie, bunga tinggi masuk akal karena prioritasnya memutus spiral krisis: stabilkan rupiah, tahan inflasi, pulihkan confidence.
Pelajarannya: berbenah sekarang sebelum pasar memaksa kita bayar lewat bunga yang jauh lebih mahal.