Guys Indonesia sudah tiga kali kena krisis besar dalam 30 tahun terakhir.
Dan setiap krisisnya berbeda penyebabnya.
Penting dipahami sekarang karena kondisi 2026 mulai punya kemiripan dengan beberapa dari mereka sekaligus.
Krismon 98 krisisnya datang dari luar dan menular.
Awalnya bukan dari Indonesia.
Tapi dari Thailand.
Ceritanya perusahaan-perusahaan Thailand pinjam uang Yen dari Jepang yang bunganya rendah 2 persen terus dipinjemin lagi ke dalam negeri dengan bunga tinggi 10 persen.
Selisihnya jadi profit.
Tapi begitu ekspor Thailand mulai kalah saing sama China kredit macet menumpuk.
Cadangan devisa habis buat pertahankan nilai Baht. Dan tanggal 2 Juli 1997 Thailand lepas nilai Baht. Turun 20 persen dalam satu hari.
Panik menyebar ke seluruh Asia.
Investor kabur dari negara berkembang termasuk Indonesia.
Rupiah yang tadinya Rp2.000 per dolar jatuh sampai Rp16.800.
Dan ini efek dominonya ke Indonesia.
Perusahaan yang punya utang dolar tiba-tiba utangnya membengkak 8 kali lipat dalam hitungan bulan.
Bukan karena mereka tambah utang tapi karena rupiahnya anjlok.
Bank-bank kolaps.
Seperempat rakyat Indonesia jatuh ke bawah garis kemiskinan.
Krisis 2008 krisisnya lahir dari dalam sistem keuangan Amerika sendiri.
Semua orang Amerika mimpi punya rumah.
Bank kasih KPR ke siapa saja termasuk yang tidak layak dapat kredit. Pedagang asongan.
Imigran tanpa kerja tetap. Semua bisa KPR.
Alasannya karena harga rumah terus naik.
Logikanya kalau tidak bisa bayar pun, jual rumahnya cukup untuk lunasi utang.
Surat utang KPR ini kemudian dijual ke investor seluruh dunia sebagai produk investasi.
Dijaminkan ke perusahaan asuransi raksasa.
Dan uang tabungan rakyat Amerika ikut dipertaruhkan di sana.
Lalu harga rumah berhenti naik. Kredit macet menumpuk.
Produk investasi yang isinya jaminan KPR itu nilainya hancur.
Perusahaan asuransi tidak sanggup bayar klaim.
Bursa saham seluruh dunia jatuh termasuk Indonesia.
Indonesia kena getahnya bukan karena salah sendiri. Tapi karena kita terhubung ke sistem keuangan global yang sedang meledak.
Resesi 2020 paling mudah dipahami karena kita semua mengalaminya.
Covid datang.
Lockdown.
Aktivitas ekonomi berhenti.
Pariwisata mati.
Restoran tutup.
Transportasi berhenti.
GDP turun di hampir semua negara. Indonesia masuk resesi untuk pertama kali sejak 1998.
Bedanya dengan dua krisis sebelumnya ini bukan krisis keuangan.
Ini krisis sektor riil yang kemudian merembet ke keuangan.
Nah sekarang 2026 dan ini yang perlu dicermati.
Kondisi sekarang punya elemen dari ketiga krisis itu sekaligus.
Dari krisis 98 ada tekanan eksternal yang besar. Perang Iran bikin rupiah tertekan ke Rp17.000. Persis seperti 97-98 nilai utang luar negeri kita yang 434 miliar dolar itu membengkak otomatis setiap rupiah melemah. Tanpa tambah utang sepeser pun.
Dari krisis 2008 ada ketidakpastian di pasar keuangan global. IHSG terkoreksi. Investor asing keluar. Short selling ditunda karena pasar tidak stabil.
Dari resesi 2020 ada gangguan sektor riil. Hormuz belum terbuka. Harga minyak naik 40 persen. Pupuk langka karena China tutup ekspor. Fasilitas LNG Qatar rusak diserang rudal.
Tiga elemen krisis berbeda hadir bersamaan dalam satu tahun.
Dan yang bikin ini lebih berat dari sebelumnya APBN kita sudah hampir di batas defisit 3 persen. Ruang fiskal untuk menyerap guncangan tidak sebesar dulu.
Habibie bisa pulihkan rupiah dari Rp16.800 ke Rp7.000 dalam 17 bulan karena dia punya ruang untuk bergerak dan keberanian untuk ambil keputusan yang tidak populer.
Pertanyaannya sekarang apakah kita punya keduanya.