15. Rendah kali yaaa harga dirimu menangis demi jabatan kek gitu. Hina kali yaa dirimu demi naik trus memijak kepala orang. Salah ternyata aku sudah bantu orang kek kau. Sadar diri lah kau. Kau wanita, punya anak cewek, jangan sampai anak cewekmu yang akan merasakan karmamu
14. Usut punya usut ternyata dialah yg menangis, merengek-rengek dan mengadu ke rektorat kalau dia mau jabatan kaprodi, dan dia yg sudah mengadukan adekku ke rektorat kalau adekku gak bisa kerja atau apalah.
13. Kalau mau jabatan yauda ambil, tapi gausa munafik gitu bilang gamau jabatan, capek lah punya jabatan, pengennya jadi dosen ngajarlah biar bisa momong anak.kalau emang gamau kenapa gak dilepas.
12. Dan aku dapat dari orang-orang sana (selain dari adekku) dia bilang gamau jabatan sama aku, nyatanya setiap event semua dia embat jabatan itu, kayak heeeehhhhhhh
11. Banyak orang-orang lama dari kampus dia yang sampein ke aku kalau dia sudah playing victim ke adek aku. Bahkan dia memfitnah aku. Dia buat cerita tentang aku ke semua orang disana. Dia bilang aku selalu menyindir dia. Aku ngapain dia lah.
9. What the fuck yakan. Yg kerja dia ngapain suaminya ikut campur. Haha. Aku hanya diam. Sampai dia wa aku kembali katanya mau kerumah aku, mau ketemu aku, mau silaturahmi dengan aku serta dengan mama papa aku. Kayak heeeehh mama papa aku aja gak kenal kau
8. Kakak mana sih yg akan diam aja ketika adeknya dipojokin, dibully seperti itu. Aku hanya bisa support adekku tanpa memasuki ranahnya dia, wilayahnya dia. Karna aku gamau ikut campur dengan alasan apapun. Sampai pada suatu hari aku tau dia bwa suaminya masuk ke ranah kampus itu
7. Bahkan menyebar cerita jahat ke orang-orang di kampus itu tentang adekku. Sampai aku dengar pun aku diceritain dia disana. Yg mana selama ini aku diam. Aku gak ada menyinggung dia. Gadak menghubungi dia terkait permasalahannya sama adekku. Sampe adikku dipojokkan dia.
6. Setiap harinya adekku di bully sama dia yg jauh lebih tua dari adekku. Dulu ketika adekku yg menjabat sebg kaprodi, dia selalu vokal "tugas kaprodi lah itu." "Kaprodi itu merangkul". Sementara dia tidak melalukan itu pada adekku. Dia malah membully adekku.
5. Sebenarnya aku gamau ikut campur karna bukan ranahku, jadi setlah kudengar cerita adekku, aku hanya balas "ya mungkin emang kakak mengincar jabatan itu kan makanya kakak bilangkan adekku begitu" hanya itu lah yg aku balas selebihnya tidak ada lagi
4. Aku yg gatau apa apa, belum balas wa dia. Aku dengarkan cerita adekku, ternyata dia berklompotan dengan yg lain melaporkan adekku dengan bilang adekku gak bisa kerja dll. Aku disitu hanya menenangkan adekku karna sudah dikhianati sama rekannya. Dan sebenarnya aku gamau ikut
3. Karna bukan ranah aku, sampai akhirnya adikku yang membangun prodi dia dan diangkat jadi kaprodi, di jatuhkan sama orang yg kutolong ini. Pada hari pemberhentian adekku dia wa aku bilang gni "gimana ya dek kakak ngomong sama V****"
2. Jual daster aku bantu beli dan begitu seterusnya. Sampai adikku butuh bantuan aku untuk mencari orang agar bisa mengisi kekosongan profesi dosen. Kutawarin lah dia, sekali dua kali dia nolak. Ketiga kali dia terima. Berjalanlah normal. Akupun tidak mengikutinya karna
1. Adalah dulu orang, dia sekelas aku waktu S2 dulu. Jadi berteman lah karna sekelas. Karna aku tau dia dan perekonomian keluarganya, setiap dia posting jualan dia, selalu aku bantu. (Disclaimer : bukan mengungkit tapi biar tau aja)
Dia jualan alpukat, aku bantu jualin,
Takut aku dengan karma. Mencoba gwenchana setiap hari dnegan tingkah laku dia setiap hari. Rada malas lagi berkomunikasi. Tapi tetap harus menjaga komunikasi itu. Lelah. Pengen banget teriak melepaskan penat ini. Mencoba lupakan tapi ku tak bisa
Setiap ada tugas dari atasan gak langsung, selalu dijawabnya "iya", "siap pak". Tapi untuk pengerjaannya gak dikerjain. Setibanya ditanya mana kerjaannya, baru ngomong ke aku kendalanya gimana. Kan jadi repot ngerjainnya buru-buru