Banyak yang mengira industri keju di Indonesia dikuasai brand-brand impor, padahal produsen lokal yang namanya jarang jadi obrolan ini justru pegang pangsa pasar terbesar nasional. Namanya KEJU.
KEJU adalah PT Mulia Boga Raya Tbk, produsen keju dan mayones dengan merek Prochiz dan TopChiz. Perusahaan ini berdiri sejak 2006, pabriknya di Cikarang, dan merupakan anak usaha dari Garudafood Group.
Produknya dibagi ke segmen keju blok, keju slice, dan lainnya, lalu disalurkan lewat jaringan distributor ke general trade, modern trade, sampai segmen food service yang jadi mitra industri kuliner seperti restoran, kafe, dan bakery. Bayangin kayak tukang bumbu dapur yang jarang jadi bintang utama, tapi hampir selalu ada di balik layar. Pizza, roti isi keju, kue, semua kemungkinan besar pakai keju blok atau slice dari pabrik ini tanpa konsumen sadar siapa yang bikin.
Yang bikin hype belakangan ini kinerja keuangannya yang konsisten naik. Sepanjang 2025, laba bersih tumbuh 22 persen jadi hampir Rp180 miliar. Momentumnya berlanjut ke 2026, kuartal kedua laba bersih naik cukup signifikan dibanding periode yang sama tahun lalu, ditopang penjualan produk Prochiz yang melonjak tajam di semester pertama.
Direktur utama mereka juga tegas menyebut perusahaan masih pegang posisi sebagai produsen keju nomor satu di Indonesia, dan sedang menyiapkan ekspansi agresif mulai pertengahan tahun ini untuk memperdalam penetrasi pasar domestik sekaligus mulai menjajaki peluang ekspor di luar Asia Tenggara.
Ini kayak toko kelontong keluarga yang tadinya cuma jualan ke warung sekitar rumah, sekarang mulai berani kirim ke luar kota bahkan mulai melirik pasar luar negeri karena permintaan yang terus membesar.
Nah soal cocok swing atau dividen, KEJU ini punya profil yang cukup menarik buat dividend investor. RUPST tahun ini menyetujui dividen tunai Rp16 per saham dari laba 2025, setara sekitar separuh dari total laba bersihnya, jadi payout ratio-nya cukup royal untuk ukuran emiten consumer menengah.
Kombinasi laba yang terus naik plus komitmen bagi dividen yang konsisten bikin KEJU jadi kandidat layak dipantau buat yang cari sektor consumer staples yang relatif defensif.
Dari sisi swing, ada juga katalis jangka pendek dari lonjakan penjualan dan rencana ekspansi, tapi karena ini saham consumer staples, pergerakannya biasanya nggak seliar saham commodity atau saham spekulatif, jadi swing trader di sini perlu ekstra sabar nunggu momentum breakout terbentuk.
Soal prospek, strategi diversifikasi ke kategori makanan ringan dan penguatan sinergi dengan grup Garudafood plus ekspansi ekspor jadi sinyal manajemen serius menjaga momentum pertumbuhan.
Cuma perlu dicatat, rasio utang terhadap ekuitas mereka juga ikut naik beberapa tahun terakhir seiring ekspansi yang makin agresif, jadi ini bagian yang perlu terus dipantau supaya pertumbuhan nggak dibarengi risiko leverage yang berlebihan.
Kalian lebih suka pegang saham consumer staples yang adem kayak KEJU buat jangka panjang, atau tetap lebih excited main di saham yang pergerakannya lebih liar?