liga libur, balbalan kita pindah ke jalur. sembari menyiapkan Gen Alpha Rawamangun supaya menjadi generasi yang kritis dan berani🔴⚫ #SepakBolaUntukSemua
tuhan melindungi setiap langkah mereka yang turun ke jalan hari ini. terima kasih sudah memperjuangkan kepentingan semua orang. doa baik selalu. ✊🇮🇩 tinju ke atas.
Prabowo dengan pidato ngawur, Teddy dengan jawaban ngasal, Gibran dengan rencana-rencan memoles diri doang, Purbaya dan anaknya yang ikut campur… terserah aja sih, asal bisa buktikan sebaliknya dari kepesimisan orang.
Gua agak aneh sih sama pemilih apalagi influencer “02” yg skrg kritik Prabowo dengan alasan “gua pilih maka gua kritik”
Masalahnya:
Apa Prabowo memungkiri jatidirinya sebelum & sesudah dipilih? Dia hanya menjadi dirinya. Apalagi Gibran.
Jadi ya akui saja, emang salah pilih.
Pada 1997, orang-orang Betawi mengadakan pembersihan terhadap wabah preman Hercules yang meresahkan area Jakarta.
Gerombolan bandit penjahat dari hutan Timor Timur yang jadi anjing peliharaan keluarga Cendana itu kicep dipukuli warga sampai mampus dan diusir dari Tanah Abang.
Sebelumnya, gerombolan bandit dan penyamun hutan yang berkhianat terhadap bangsanya sendiri di Timor Timur itu seakan tak tersentuh polisi, karena statusnya sebagai anjing peliharaan rezim keluarga Cendana yang saat itu menjadi the Lord of Crime di Indonesia.
Aparat, bukannya menghabisi dan menembak mati Hercules dan gerombolan rampok berbahayanya sampai musnah, malah melindungi dan membekinginya. Beking Hercules saat itu adalah seorang jenderal ABRI spesifik yang telah menjadi anggota dari rezim inti keluarga Cendana.
Atmosfer di Tanah Abang, yang adalah sentra tekstil terbesar di Asia Tenggara, jadi dipenuhi bau tengik dan pesing wabah penyakit teror, kebrutalan, pemalakan, pencurian, dan perampokan gerombolan preman mabuk buas Timor yang memukuli pedagang kecil tanpa konsekuensi. Menjijikkan.
Massa Betawi yang dipimpin orang yang dijuluki Ucu Kambing inisiatif melakukan aksi sepihak mengusir gerombolan preman mengerikan ini dari kampung dan pasar mereka dengan tangan dan golok mereka sendiri. Ini terjadi sebelum krismon.
Sayangnya, setelah keluarga Cendana digulingkan dan si jenderal bekingnya kabur dengan panik ke luar negeri, gerombolan bandit dan penjahat Timor liar ini gagal dibantai dan ditumpas mati sampai habis oleh negara hukum era Reformasi yang stabil. Kesempatan itu pun hilang.
Seperti zombie yang busuk dan penuh cacing, hari ini sepertinya gerombolan preman asing buas ini sudah hidup kembali lagi dengan sangat norak dan belagu, bahkan hari ini meludahi dan mengusir Persija dari kandangnya sendiri demi mempertontonkan coli kebelaguan ego mereka di ruang publik rakyat Jakarta.
Entahlah apakah suatu hari nanti, sejarah akan bisa kita ulang, dan apa yang dimulai Bang Ucu benar-benar dituntaskan sampai ke akar-akarnya.
Bukan hanya @Persija_Jkt yang perlu di evaluasi, tapi sikap @InfokomJakmania juga yang perlu dibenahi, dengan melaporkan pemain lawan kepada Federasi saja itu sudah aneh.
Sekali lagi bahwa @Persija_Jkt bukan milik satu organisasi, tapi milik semua!
Lagi dan lagi, kalah sebelum bertanding! Karena memang Sepakbola sudah bukan menjadi bagian penting dari kota Jakarta.
Memang penting supporter memiliki kepekaan terhadap gerakan serta literasi, biar apa? Biar tidak hanya menjadi public enemy!
Persija yang mengaku milik rakyat, tapi stadionnya dikuasai oleh agenda negara dan kepentingan.
Ketika tuan rumah harus berlutut di depan pintu gerbangnya sendiri, itu bukan soal sepak bola lagi.
Itu soal kekuasaan yang lupa: yang berkuasa seharusnya melayani, bukan menghalangi.
Pada akhirnya sepak bola tidak lagi murni menjadi olahraga rakyat. Semua karena kepentingan-kepentingan politik yang saling menusuk diatas dan selalu mengorbankan akar rumput.
Semua direnggut dari akar rumput, bahkan sampai ke skala sebuah 'hiburan'nya.
"Saya diminta meminta maaf kepada TNI AL karena unggahan saya di media sosial, terutama karena saya bilang ada intimidasi, ya jelas saya tolak dong," ujar Dewi.
Baca selengkapnya: https://t.co/2hPnEx7c8J
~SN #peluruNyasar#TNIAL