Belajar menghargai diri sendiri.
Bukan berarti harus membenci orang lain,
cuma mulai tahu kapan harus pergi.
Jangan terus memberi kesempatan
kepada seseorang yang berkali-kali
membuatmu merasa nggak berharga.
Kamu sudah capek-capek
memperbaiki diri, belajar, dan bertumbuh.
Jangan sampai akhirnya
kamu justru bertahan
di tempat yang membuatmu
kembali meragukan dirimu sendiri.
Kadang pergi bukan berarti menyerah.
Kadang itu cara paling sederhana
untuk bilang:
“Aku juga harus menghargai diriku sendiri.”
Bayangin betapa tenangnya hidup
ketika kita berhenti sibuk
memenuhi ekspektasi orang lain.
Nggak harus menjelaskan
setiap pilihan kita.
Nggak harus terlihat berhasil
hanya karena orang lain sudah lebih dulu sampai.
Mungkin hidup memang terasa lebih ringan
ketika kita mulai hidup
untuk diri sendiri.
Karena yang harus merasa cukup
dengan hidup kita,
bukan mereka.
Kita.
Kalau hidup adalah sebuah buku,
aku nggak berharap semua orang jadi bab favorit.
Cukup beberapa orang
yang membuat kita bersyukur
pernah membaca sampai sejauh ini.
Menang atau kalah,
aku tetap akan kembali kepada-Mu, ya Allah.
Karena ternyata hidup bukan cuma tentang mendapatkan apa yang aku mau.
Ada hal-hal yang harus aku terima,
ada jalan yang harus aku lewati.
Jadi kalau hari ini belum sesuai harapan,
aku nggak mau berhenti percaya.
Mungkin jawabannya belum datang,
tapi aku tahu doaku nggak pernah sia-sia.
Kadang kita terlalu keras sama diri sendiri hanya karena pernah salah.
Padahal kita juga manusia.
Pernah salah pilih, salah langkah, salah memahami seseorang.
Nggak apa-apa.
Yang penting, kamu belajar dari semuanya.
Kamu nggak harus jadi sempurna untuk pantas merasa tenang.
Cukup terus bertumbuh, pelan-pelan.
Karena menjadi lebih baik bukan berarti nggak pernah salah, tapi tahu kapan harus memaafkan diri sendiri.
Semakin dewasa,
kita bukan semakin paham semua orang.
Kita cuma semakin mengerti
bahwa nggak semua orang
akan seperti yang kita kira.
Yang dekat bisa menjauh.
Yang dipercaya bisa mengecewakan.
Dulu kita sibuk bertanya,
“Kok dia bisa begitu?”
Sekarang kita belajar menerima.
Nggak semua hal harus dipahami.
Ada yang cukup diterima,
lalu kita lanjutkan hidup
dengan hati yang lebih tenang.
Kadang seseorang berubah
bukan karena banyak nasihat.
Tapi karena akhirnya
mengalami sendiri sesuatu
yang selama ini cuma dia dengar.
Ada hal yang cukup dijelaskan
supaya kita mengerti.
Tapi ada juga hal
yang baru benar-benar kita pahami
setelah kita mengalaminya.
Mungkin itu sebabnya
hidup nggak selalu memberi kita jawaban.
Kadang, hidup memberi kita pengalaman
supaya kita menemukan jawabannya sendiri.
Nggak semua perjuangan
harus diceritakan.
Kadang cukup kamu yang tahu
seberapa berat jalan yang kamu lewati.
Nggak perlu menjelaskan
kenapa kamu berubah,
kenapa sekarang lebih diam,
atau kenapa kamu memilih jalan sendiri.
Fokus aja sama hidupmu.
Tetap baik.
Tetap rendah hati.
Tetap jalan.
Nanti, biar hasil yang menjelaskan
kenapa kamu memilih bertahan.
Kalau hari ini lagi berat,
yaudah, nggak apa-apa.
Kamu boleh kecewa.
Boleh capek.
Boleh ngerasa semuanya nggak berjalan sesuai yang kamu mau.
Tapi jangan ikut nyalahin diri sendiri.
Kamu udah berusaha sejauh ini.
Kalau hari ini belum berhasil,
bukan berarti semuanya gagal.
Istirahat dulu.
Besok coba lagi.
Pelan-pelan aja.
Kamu nggak harus beresin semuanya hari ini.
Januari, niatnya mau berubah.
Februari mulai sibuk.
Maret mulai lupa.
April bilang nanti dulu.
Tahu-tahu sudah September.
Tapi mungkin kita memang nggak harus berubah sekaligus.
Ada hal-hal yang memang butuh waktu.
Ada yang pelan-pelan baru kelihatan hasilnya.
Jadi kalau tahun ini belum jadi seperti yang kamu bayangkan,
nggak apa-apa.
Kamu masih punya waktu untuk melanjutkan.
Memasuki jam-jamnya
ngobrol sama diri sendiri.
Nggak ada yang menyela.
Nggak ada yang perlu dijelaskan.
Cuma kita,
kepala yang masih ramai,
dan beberapa hal
yang akhirnya berani kita akui.
Kenapa rumah sakit cuma ada rumah sakit ibu dan anak?
Karena bapak dilarang sakit.
Bapak kalau demam: “masuk angin.”
Batuk: “biasa.”
Badan nggak enak: “nanti juga sembuh.”
Sampai akhirnya badan benar-benar nggak bisa diajak kompromi.
Mungkin sesekali bapak juga boleh bilang, “hari ini gue istirahat dulu.”
Mungkin bukan hidupmu yang terlalu berat.
Mungkin kita cuma terlalu sering menghadapi beratnya hidup dengan shalat yang masih sering terlambat.
Kita mencari ketenangan ke mana-mana,
padahal ada lima waktu yang sebenarnya bisa jadi tempat kita berhenti sejenak dan mengadu kepada Allah.
Hidup memang nggak selalu mudah.
Tapi mungkin, ada ketenangan yang selama ini kita cari ke mana-mana, padahal kita cuma perlu kembali mendekat kepada-Nya.
Tahun ini masih menyisakan September, Oktober, November, dan Desember.
Semoga di bulan-bulan terakhir ini, hidupmu dipenuhi hal-hal baik:
berkah yang cukup,
bersyukur lebih banyak,
beruntung dalam banyak hal,
berhasil dalam yang diperjuangkan,
dan berbahagia dengan apa yang dimiliki.
Setelah semua yang sudah kamu lewati tahun ini,
semoga akhirnya ada alasan untuk tersenyum dan berkata, “ternyata tahun ini belum selesai.”
Ada saatnya kamu berhenti mengejar apa yang dulu terasa begitu penting.
Bukan karena dunia kehilangan keindahannya,
tapi karena kamu mulai tahu mana yang benar-benar kamu butuhkan.
Kamu mulai mengenal dirimu sendiri, menerima apa yang nggak bisa kamu ubah, dan berhenti memaksa hidup berjalan sesuai keinginanmu.
Sampai akhirnya kamu mengerti:
tenang bukan ketika semua berjalan sesuai rencana, tapi ketika hati percaya bahwa Tuhan tetap punya alasan di balik semuanya.
Manusia memang sering merasa paling tahu,
sampai hidup menempatkannya di posisi yang sama.
Baru setelah merasakan kehilangan, dia paham kenapa seseorang berubah.
Baru setelah merasakan kecewa, dia paham kenapa seseorang memilih diam.
Baru setelah merasakan beratnya sendiri, dia tahu bahwa ternyata tidak semua hal sesederhana yang dia pikirkan.
Jadi kalau hari ini nggak ada yang benar-benar memahami apa yang sedang kamu jalani, nggak apa-apa.
Kamu nggak harus dipahami semua orang untuk tahu bahwa apa yang kamu rasakan itu nyata.
Pemerintah boleh membantu rakyat, tapi jangan sampai rakyat dibuat percaya bahwa mereka nggak akan mampu tanpa pemerintah.
Bantuan seharusnya membuat seseorang kembali berdiri, bukan selamanya bergantung.
Karena rakyat bukan sekadar objek yang harus dibantu.
Mereka punya kemampuan untuk bekerja, berpikir, memilih, dan membangun hidupnya sendiri.
Pemerintah yang baik bukan yang membuat rakyat merasa membutuhkan dirinya setiap saat, tapi yang membuat rakyat semakin mampu berdiri dengan kakinya sendiri.
Kadang orang menilai kita bukan dari siapa kita, tapi dari apa yang kita punya.
Saat belum punya apa-apa, kebaikan kita bisa dianggap biasa.
Saat sudah punya sesuatu, kesalahan kita pun kadang masih dicari pembenarannya.
Tapi jangan sampai cara orang memperlakukanmu membuatmu ikut meragukan nilai dirimu sendiri.
Harga diri kita nggak pernah ditentukan oleh seberapa banyak yang kita punya.
Kalau Allah masih mempercayakanmu melewati semua yang sedang kamu jalani, kenapa kamu terus meragukan dirimu sendiri?
Mungkin kamu memang belum tahu bagaimana semuanya akan selesai.
Mungkin sekarang masih terasa berat.
Tapi kamu sudah sampai sejauh ini.
Jadi kalau hari ini kamu sedang ragu pada kemampuanmu sendiri, ingat lagi:
kamu nggak harus tahu seluruh jalannya untuk tetap percaya bahwa kamu bisa melewatinya.