A farmer, tired of rats destroying his crops and stealing his grain, came up with a clever but cruel plan. He threw a dead pig into a deep, abandoned well. Attracted by the smell, nearly 80 rats rushed into the well to feast on the carcass. At first, everything seemed wonderful. There was more than enough food for everyone, and the rats ate until they were satisfied.
But when the food was gone, they discovered something terrifying. The walls of the well were too steep to climb. They were trapped. Days passed, and hunger turned into desperation. Desperation turned into aggression. The rats that had once eaten peacefully beside one another began fighting for survival. Eventually, they began killing and eating each other.
One by one, their numbers dwindled until only a single rat remained. Its eyes were bloodshot, and it had survived by consuming its own kind. Then the farmer returned, lowered a rope into the well, and rescued the last surviving rat. But he didn't save it out of kindness or compassion.
The farmer knew the rat had learned to survive by hunting other rats. When he released it into his fields, it would continue killing its own kind instead of eating his grain. The farmer had turned his enemy into his greatest weapon.
And that is the lesson of divide and conquer. Those who control the trap don't need to fight the battles themselves. They simply create the conditions in which others turn against one another.
The rats believed their enemies were the other rats. They never realized that the true enemy was the farmer who had put them there.
The greatest danger isn't always the enemy standing in front of you. Sometimes it's the one who created the conflict and stands quietly watching you destroy each other.
Before you turn against your neighbor because of their political beliefs, ask yourself who benefits from keeping Americans divided. While we fight each other over Republican and Democrat, we may be overlooking those who profit from the conflict. Perhaps the real question isn't which side you're on, but who built the well—and why they want us fighting at the bottom of it.
Mengingat janji janji Prabowo.
Puter ini aje trus biar rakyat ga lupa dan terus tagih semua janji janjinye.
Ayo....kite tagih. Kaum 58% Lo tagih noh pilihan Lo dari pade Lo Kena dosa juga 🤭
Jejak digital itu kejam jenderal😎
Ujung ujungnye hidup Jokowi 🤣
Perlu diingatkan lagi, Joko Widodo berulang kali menyatakan proyek KCJB menggunakan skema business to business (B2B), sehingga tidak menggunakan APBN dan tidak memerlukan jaminan pemerintah.
Luhut Binsar Pandjaitan, sebagai Menko Kemaritiman dan Investasi, berkali-kali menegaskan bahwa utang proyek tidak akan dibayar menggunakan APBN dan mengkritik pihak yang menyebut proyek itu akan menjadi beban negara. Bahkan pada 2025 ia kembali mengatakan tidak pernah ada permintaan agar utang Whoosh dibayar memakai APBN. (tautannya: https://t.co/CJjEJwqPn4)
Sejumlah pejabat KCIC dan kementerian pada masa itu juga konsisten menyampaikan narasi bahwa proyek bersifat komersial (B2B) sehingga risikonya berada pada perusahaan, bukan negara.
Tak terhitung juga para politisi dan buzzer pendukung Jokowi saat itu yang menyampaikan narasi ini dan menyerang mereka yang mengritik KCIC. Jika sejak awal proyek dijanjikan sepenuhnya B2B tanpa membebani negara, mengapa kini penyelesaiannya harus diambil alih pemerintah?
Bagaimana pertanggungjawabannya? Kemana mereka sekarang?
Kalau LBP sih masih punya jabatan sih.
@VIVAcoid ~ 12 Des 2024: ORANG PINTAR TAPI TIDAK LOYAL BIASANYA MERUGIKAN
~ 07 April 2025: ORANG TERLALU PINTAR ENGGAK JADI APA-APA
~ 08 April 2025: KEBIJAKANNYA TAK PERLU ORANG PINTAR
~ 2 Feb 2026: ORANG PINTAR KITA LEBIH PERCAYA ORANG ASING
~ Skarang: "minta akademisi bantu"
😪😪
Wamil di Korsel: Selama 10 thn diikuti 2 jt org dan 4 orang MD
Latsarmil KDMP: Diikuti 32 ribu orang dan dalam 2 minggu 5 orang MD
Indikasi adanya kelalaian yg menyebabkan kematian sangat kuat pada Latsarmil KDMP
Latihan Dasar Kemiliteran untuk manajer Koperasi Merah Putih itu memang bukan untuk urusan capacity building.
Gak usah repot-repot dibandingin sama Alfamart.
Ini strategi menanamkan dominiasi militer terhadap ide supremasi sipil. Agar mereka selalu ingat siapa "superior" nya.
Bedanya program bener dan enggak: liat kalau dicabut, yang protes yang nerima manfaat.
***
Kalau BPJS dihentikan yang protes rakyat yang berobat
Kalau KIPK dihentikan yang protes mahasiswa penerima
Kalau Subsidi BBM dikurangi yang protes rakyat kecil
***
Kalau MBG dihentikan, yang protes siswa dan ortunya?
Nggak. Bukan.
Yang protes pegawai SPPG.
***
Jadi siapa penerima manfaat MBG?
Tahun 2011, Sea Games vs Vietnam di GBK. Gue bawa banner muka Tan Malaka di tribun Selatan. Zen RS yang bantuin gue ngiket2 tali buat masang.
Setelah terpasang, orang di sebelah kami nyeletuk polos, "bang itu muka siapa? Caleg ya?"
Penggunaan kata kasar adalah respons natural untuk melepaskan stres dan emosi yang tertekan.
Dalam konteks seorang pemimpin, penggunaan kata kasar justru menurunkan nilai dan persuasi dari pesan yang akan disampaikan.
Penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan kata kasar dalam konteks politik berasosiasi dengan erosi kepercayaan publik.
Sumber ilmiah:
-How profanity in influences perceived authenticity and perceived helpfulness of online reviews: The moderating role of review subjectivity
-The Effects of Political Incivility on Political Trust and Political Participation: A Meta-Analysis of Experimental Research
Sakit sakit ya Pak, semoga segala kesusahan/kesengsaraan banyak orang jadi tanggung jawabmu.
Dan semoga hukuman atas banyaknya kesengsaraan tidak hanya diberikan waktu di akhirat, tetapi juga saat dirimu masih di dunia.
“EMANG GUE PIKIRIN!!”
Sebuah pernyataan paling dongo yg pernah gw dengar dari seorang pemimpin. Gila. Kayak percuma pada demo, kritik, percuma.. kaga dipikirin. 😂
Enteng bener seorang Presiden ngomong 'Ndasmu' dilanjut 'Emang gue pikirin' di sebuah forum resmi dan mendapat tepuk tangan dari yg mendengar.
Pemimpin tanpa etika yg dipilih oleh orang orang yg tak punya etika dan nalar.