It's time for #VisibleWomen!
Hello I'm Diani from Indonesia.
I make illustration for children books & magz. My art style is always changing, but I love drawing children & beautiful things.
🌟https://t.co/N2hcY90R4U
🌟@dianiapsari
🌟ig: (at)dianiapsari
#SEArtist#ArtistOnTwitter
bu fotoğraftan da anlaşıldığı üzere ‘çalışan kadın’ terimi bir totolojidir. çalışmayan kadın diye bir şey hiçbir zaman var olmamıştır, yalnızca yaptığı iş karşılığında para alamayan kadın diye bir şey vardır.
bueno, pues el revuelo que está causando este video de GENER8ION y los debates sobre videos musicales modernos y que "ya nadie hace videos así" me inspiraron a hacer un hilo de mis videos musicales modernos favoritos
Diliat liat kok supir taksi ijo malah dijadiin samsak? Kalo pun mau marah, marah ke perusahaan.
Dan harusnya lebih marah lagi ke pemerintah yang membiarkan perlintasan ilegal, harusnya lebih marah lagi sama DJKA.
Kalo kita akhirnya malah benturan rakyat sama rakyat mah percuma, gak bakal ada habisnya.
Ayo dong tuntut solusi ke pemerintahan, tuntut pembaharuan sistem, tuntut tambah jalur rel kereta!
Jalur kereta Stasiun Bekasi - Cikarang itu cuma 2 lho, kita tiap hari berselisih sama Kereta Argo Jarak Jauh diantara 2 jalur itu setiap harinya.
@cutemistakess Brgkt tuk menghidupi rumah, menguatkan dapur agar tetap mengepul. Ada doa yg tak putus dari ibu, ada cemas yg disembunyikan ayah, ada anak yg mnunggu pelukan saat pulang, ada pasangan yg mnunggu dibalik pintu. Musibah tak prnh memberi tanda, tak pernah bertanya siap atau tidak 🥀
El clip colaborativo del rapero sueco Yung Lean y GENER8ION supera los límites de un simple videoclip musical y ya es un festín visual extraordinario. 🔥
La coreografía, a cargo del gran coreógrafo francés Damien Jalet. 💥
Hoy, 29 de abril, Día internacional de la danza.
There is a lot to unpack here, kalo mau duduk tenang & ngobrol bareng.
Bahwa korban byk perempuan karena yg pertama kena hantam adalah gerbong khusus perempuan. Tapi mereka pun ada di sana karena apa? Karena gerbong dibikin as a safe space utk terhindar dari sexual offender. (c)
Belum selesai kasus daycare, ada duka kecelakaan KRL yang korbannya kebanyakan juga perempuan. Sebagian mungkin perempuan pekerja yang sedang mengusahakan hal-hal baik untuk keluarganya.
Pedih sekali rasanya mendengar berita buruk bertubi. Peluk jauh untuk kita semua.
leave it to indonesians to witness a railroad accident with a 100% women casualty and come to the conclusion that the problem is the fact that women has to work and not the fact that the government has failed to provide adequate public transport and an even spread of jobs
“Apakah kalian akan suka rela ninggalin pekerjaan kalian demi menjaga anak kalian, mendidik mereka sendiri di rumah?”
Emang dipikirnya perempuan yg bekerja di luar rumah tuh lantas samsek gak ikut jagain dan mendidik anaknya sendiri ya? Daycare-nya 24 jam, 7 hari seminggukah?
Kenyataannya mah kerjaannya DOBEL. Kelar urusan kantor, pas pulang ke rumah ya lanjut ngurusin bocah dan rumah.
Bedanya, dia kerja di kantor dia dibayar + dapet cuti + benefit, di rumah dia kerja gak ada cuti dan seringnya gak dibayar.
Boro-boro dihargai, masuk itungan GDP negara aja nggak.
“Kok tega ya nitipin balita ke daycare??”
Coba gih ngomong sama petani/peladang perempuan (43% dari total pekerja pertanian, data FAO) yg nyaris tiap hari kudu kerja di luar rumah.
Sekali-kali tuh pas mau makan nasi sama lauk pauk di rumah coba disambi mikir, ada berapa banyak perempuan yg kudu nitipin/ninggalin bocah sehingga piring gue penuh hari ini??
Gw ibu pekerja dan mengurus anak-anak dengan tangan sendiri, tapi gw marah luar biasa membaca case penitipan anak di Jogja.
Lebih marah lagi membaca bagaimana banyak orang justru menyalahkan ibu instead of mempertanyakan sistem yang tidak mendukung ibu bekerja dan kepemilikan day care yang katanya tanpa proses standarisasi/sertifikasi.
Kasus day care kejam ini bukan pertama kali. Tapi kita belum melihat respon kebijakan yang serius dan sistematis.
Padahal ini bukan isu kecil. Ini soal keselamatan anak di usia paling krusial dalam hidupnya.
Day care bukan sekadar tempat “menitipkan”, ini adalah ruang tumbuh.
Artinya, yang mengelola tidak cukup hanya bisa “jagain anak”. Mereka harus paham pedagogi anak usia dini, perkembangan emosi, dan keselamatan dasar.
Kalau tidak, yang terjadi bukan pengasuhan tapi potensi risiko. Di titik ini, negara punya tanggung jawab terbesar.
Pertama, negara harus melakukan standarisasi wajib. Setiap daycare harus memenuhi standar minimum:
1. Tenaga pengasuh terlatih (bukan sekadar “suka anak-anak”)
2. Rasio pengasuh–anak yang jelas
3. Pelatihan keselamatan dan pertolongan pertama
4. SOP pengasuhan, disiplin, dan penanganan kondisi darurat
5. Fasilitas yang aman dan layak
6. Lengkapi dengan teknologi yang memungkinkan orangtua bisa memantau anak.
7. Mekanisme pelaporan dan pengaduan yang transparan
Kedua, pemerintah wajib melakukan sertifikasi dan perizinan yang ketat. Tidak boleh ada daycare yang beroperasi tanpa lisensi resmi dan audit berkala.
Ketiga, pemerintah juga wajib melakukan pengawasan aktif, bukan reaktif. Bukan hanya bergerak setelah ada kasus.
Tapi inspeksi rutin, monitoring, dan penegakan hukum yang jelas.
Lalu siapa yang paling bertanggung jawab? Menurut saya, harusnya lintas sektor.
Kementerian Sosial: perlindungan anak dan pengawasan layanan pengasuhan
Kementerian Pendidikan (PAUD): standar pedagogi dan kurikulum usia dini
Kementerian Kesehatan: aspek kesehatan dan keselamatan anak
Pemerintah daerah: izin operasional dan pengawasan langsung di lapangan
Keselamatan anak bukan tanggung jawab ibu atau orangtua saja. Ini tanggung jawab bersama dimana negara seharusnya memimpin terdepan.
Mengapa filosofi pendidikan “sesuai industri” itu problematis?
Saya agak gelisah baca wacana menutup prodi yang dianggap “tidak relevan dengan industri”, yang disampaikan Sekjen Kemendikti, Prof Bakri Munir Sukoco.
Bukan karena saya anti industri.
Tapi… industri yang mana?
Yang hari ini?
Atau yang bahkan belum ada 10 tahun lagi?
Masalahnya sederhana: industri sendiri sering belum tahu arah masa depannya.
Laporan World Economic Forum dan McKinsey & Company berulang kali bilang hal yang sama: banyak pekerjaan masa depan belum eksis hari ini.
Jadi kalau kampus sibuk “menyesuaikan diri” dengan kebutuhan sekarang, kita mungkin sedang menyiapkan lulusan… untuk dunia yang sudah lewat.
Dan biasanya, yang pertama dikorbankan itu selalu sama:
Filsafat.
Sejarah.
Sastra.
Yang dianggap tidak praktis.
Padahal banyak pemimpin, pembuat kebijakan, bahkan inovator yang lahir dari sana.
Sekarang bahkan keguruan dan kedokteran ikut disorot oleh Sekjen Kemendikti. Keduanya dibutuhkan masyarakat tapi katanya terlalu “market-driven”, harus jadi “market-driving”.
Tapi jujur saja kedua istilah ini masih dalam logika yang sama: pasar sebagai penentu. Bedanya hanya soal siapa yang lebih pandai meramal pasar.
Padahal masalah utamanya bukan di situ.
Masalah pendidikan di Indonesia itu ada di tata kelola.
Prodi dibuka karena tren. Karena peminat. Karena pemasukan. Bukan karena visi pendidikan.
Kalau akarnya di situ, menutup prodi dari atas itu cuma seperti memotong daun, tanpa menyentuh akar.
Yang kita butuhkan bukan sekadar menutup prodi, tapi membenahi cara kita menilai dan membiayai pendidikan. Quality control dan akreditasi tetap penting, tapi ukurannya harus nyata: kualitas belajar, daya pikir lulusan, dan dampaknya bagi masyarakat, bukan sekadar dokumentasi.
Yang dibutuhkan adalah pendanaan berbasis kualitas, kurikulum yang lentur, dan keberanian menjaga ilmu yang tidak selalu “laku”.
Karena saat industri jadi satu-satunya ukuran, dunia kampus menjelma hanya melatih tenaga kerja bukan melahirkan manusia yang mampu berpikir, menilai, dan membentuk zamannya sendiri.
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Counter "jadi ibu juga harus berpendidikan karena etc etc" adalah narasi seksis dan patriarkal yang selalu gue omongin ke orang-orang sekitar. Perempuan harus sekolah ya karena itu hak kami, bukan karena ada tuntutan ABCD. Udah, titik. #MALAS_MENANGGAPI 🤦🏻♂️