Pelatih kepala tim nasional Senegal, Pape Thiaw, menjadi topik pembicaraan di Amerika karena pernyataan yang dibuatnya saat konferensi pers, terkait dengan ibadah sholat Jum'at
Wartawan :
"Hari ini ada angin yang sangat kencang di negara bagian New Jersey, dan petugas keamanan menyarankan anggota delegasi untuk tidak keluar demi keselamatan kalian... mengapa Anda tetap keluar untuk menunaikan sholat...?"
Pape Thiaw :
"Apakah ada yang lebih penting daripada sholat? saya rasa itu bukan urusan Anda... kalian takut pada angin, sementara kami takut kepada Allah, Zat yang menciptakan angin... kita datang ke sini untuk sebuah pertandingan hiburan, lantas kita lupa bahwa kita diciptakan untuk menyembah Allah...
Bahkan kalo final Piala Dunia FIFA digelar hari ini dan kami adalah salah satu tim finalisnya, kami tetap akan keluar untuk menunaikan sholat Jum'at, meski itu berarti kehilangan gelar juara...
Jangan ceramahi kami tentang ritual dan kewajiban agama kami..."
#PialaDunia
Alwi Farhan yang tidak bisa mengatasi tekanan saat tampil di Thomas Cup, bisa punya capaian cukup baik di 3 turnamen tur dunia terakhir.
- Singapore Open: Semifinal, kalah dari Alex yang jadi juara
- Indonesia Open: R16, kalah dari Jonatan yang mencapai final
- Australia Open: Juara!
Tipikal atlet favorit kita semua: Bisa bangkit lebih tinggi setelah alami hari buruk.
Terus berkembang dan tetaplah tengil, Alwi!
Pdhl gw serumah sma ibu gw, tapi ibu gw malah mentingin ipar gw, dan anak gw jadi terpaksa ga berangkat posyandu karena kondisi gw yg ga memungkinkan..
Ibu gw anterin anaknya ipar posyandu katanya kasian gaada yg anterin, pdhl ipar gw sehat, suaminya ada di rumah, anaknya yg lain juga udah gede2 bisa nganter, sementara gw saat itu habis kuret keguguran anak ke 2, punya toddler, suami kerja, gaada bantuan apapun buat gw..
Ipar gw tiap anaknya ultah gw kasih kado, anaknya 2 gw kasih kado semua, pdhl di keluarga gw gaada budaya itu, gw niatnya cuma menghargai budaya kasih kado di keluarga suami gw aja, eh pas anak gw ultah malah mereka gaada yg ngasih kado.. Kasian bgt anak gw..
Gw ulang tahun gaada yg ngucapin, mertua gw malah kirimin foto2 anaknya ipar gw yg lagi wisuda sambil nenteng hadiah, kayaknya nyindir gw karena gw belom ngasih hadiah, mana dikirimin sampe 20 foto..
"Saya dulu bentuk Kevin itu awal-awalnya juga dia punya problem. Problemnya apa? Belum keluar tengilnya. Dia pernah main di kejuaraan dan dia kurang pede."
"Pada saat satu kejuaraan saya bilang, 'Kamu kalah enggak apa-apa yang penting kamu lawan semua. Kamu kalah enggak apa-apa, yang penting di dalam lapangannya kamu harus menang mental. Masa kamu mau diketawain lawan?'
"Nah dari situ lah muncul yang disebut tengil-tengil itu. Saya tidak mengkritik ya, tetapi selama tengil itu bisa memenuhi kebutuhan, bisa mengeluarkan semua kemampuan, bisa mengeluarkan kepercayaan diri, pertandingan ada gregetnya, ya silakan."
"Kalau orang tengil kan otomatis dia punya tanggung jawab harus melakukan pukulan yang bagus gitu lho. Tengil kalau enggak ada kualitasnya ya diketawain, 'Tengil doang tapi kalahan,' gitu.
Wawancara panjang saya dgn Chafidz Yusuf, pelatih yg memasangkan Marcus dan Kevin, Fajar dan Rian, Greysia dan Apriyani, dan sekarang mencoba membantu Raymond dan Joaquin berprestasi.
https://t.co/1RYFreNBk0
Guys, ada momen di rapat DPR yang menurut gue paling jujur dan paling mewakili kondisi keuangan daerah yang sedang kritis tapi paling sedikit disorot media.
Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda bicara langsung di hadapan Mendagri, Menpan RB, dan seluruh kepala daerah. Dan apa yang dia sampaikan sangat sederhana tapi sangat berat.
Daerahnya tidak punya uang untuk bayar gaji PPPK sampai akhir tahun.
Ini kondisinya yang paling mengejutkan:
DAU Dana Alokasi Umum Maluku Utara hanya sekitar Rp960 miliar.
Tapi belanja pegawai daerahnya sudah mencapai Rp1,1 triliun.
Artinya: sebelum satu rupiah pun dipakai untuk bangun jalan, perbaiki sekolah, bayar tagihan rumah sakit, atau program apapun uang dari pusat sudah habis hanya untuk bayar gaji pegawai. Bahkan masih kurang Rp140 miliar lebih.
Dan ini bukan anomali Maluku Utara saja.
Gubernur Sulawesi Tengah dan kepala daerah lain menyampaikan keluhan yang sama.
Ini adalah kondisi yang merata di banyak daerah seluruh Indonesia.
Dan ini tentang solusi yang ditawarkan pusat yang tidak menyelesaikan masalah:
Pemerintah pusat memberikan relaksasi melongggarkan aturan penggunaan anggaran supaya daerah bisa lebih fleksibel menggeser pos untuk bayar gaji PPPK.
Sherly menerima relaksasi itu dengan apresiasi. Tapi dia langsung menyampaikan masalah yang lebih mendasar:
Relaksasi itu berarti daerah harus memotong belanja infrastruktur untuk bayar gaji. Jalan yang harusnya dibangun tidak jadi dibangun.
Jembatan yang harusnya diperbaiki tidak jadi diperbaiki. Fasilitas publik yang harusnya ditingkatkan tidak jadi ditingkatkan.
"Relaksasi yang diberikan ini adalah hal yang baik tapi akan mengorbankan belanja infrastruktur.
Dan infrastruktur itu diperlukan untuk pondasi percepatan pertumbuhan ekonomi di daerah.
Dan pertumbuhan ekonomi di daerah adalah pondasi pertumbuhan ekonomi nasional."
Artinya: solusi jangka pendek ini sedang menciptakan masalah jangka panjang yang jauh lebih besar.
Dan ini tentang DBH yang paling menyesakkan:
Sherly tidak meminta APBN membayar gaji PPPK mereka. Dia tidak minta bailout dari pusat.
Yang dia minta jauh lebih sederhana: kembalikan sebagian dari 60% Dana Bagi Hasil yang selama ini ditahan oleh pusat.
DBH adalah uang hasil sumber daya alam daerahnikel, tambang, hasil laut yang seharusnya kembali ke daerah penghasil. Tapi 60%-nya ditahan di pusat.
"Kami tidak meminta dari DAU. Kami tidak meminta dibayar oleh APBN. Kami hanya minta sebagian dari 60% DBH dikembalikan. Jika itu dikembalikan kita akan mengambil jalan tengah."
Maluku Utara adalah provinsi penghasil nikel terbesar di Indonesia. Nikel yang jadi tulang punggung hilirisasi yang dibanggakan pemerintah pusat. Tapi provinsinya tidak bisa bayar gaji pegawai.
Dan ini tentang ruang inovasi yang sudah dipersempit:
Sherly menyampaikan poin yang menurut gue paling fundamental dan paling jarang diakui secara terbuka oleh pemerintah pusat.
Ketika kepala daerah disuruh berinovasi mencari sumber pendapatan baru kenyataannya banyak kewenangan dan otoritas daerah sudah ditarik ke pusat. Ruang untuk bergerak sudah dipersempit oleh aturan yang tidak fleksibel.
Daerah disuruh mandiri tapi alatnya sudah diambil.
Daerah disuruh inovatif tapi kewenangannya sudah dipangkas.
Dan sekarang daerah disuruh cari solusi sendiri untuk masalah yang sebagian besar diciptakan oleh kebijakan pusat sendiri.
Ini bukan sekadar masalah Maluku Utara. Ini adalah potret dari sistem fiskal yang sedang tidak sehat di seluruh Indonesia.
APBN dipotong Rp306 triliun atas nama efisiensi. Transfer ke daerah menjadi yang terkecil dalam 10 tahun terakhir. DBH ditahan 60%.
Tapi PPPK yang diangkat atas kebijakan pusat gajinya harus dibayar oleh daerah yang tidak punya uang.
Dan di ujung rantai yang paling panjang dan paling tidak terlihat ada guru honorer, tenaga kesehatan, dan pegawai pemerintah daerah yang sudah bekerja berbulan-bulan dan belum menerima gaji.
Mereka bukan angka dalam spreadsheet keuangan negara.
Mereka adalah orang-orang nyata yang masih harus makan, masih punya cicilan, dan masih harus menghidupi keluarga sementara di Jakarta orang-orang berdebat tentang relaksasi anggaran.