Warga dihebohkan dengan penampakan lereng gunung Sembalun, Lombok yang tiba-tiba banyak menciptakan air terjun, pasca hujan lebat melanda kawasan tersebut.
Warga mengatakan belum pernah melihat fenomena ini sebelumnya, mereka khawatir fenomena ini merupakan bentuk peringatan akan adanya suatu bencana.
Ruang pengadilan, rumah tahanan, dan penjara di Banten sepertinya dipenuhi rakyat Banten yg mempertahankan tanahnya dan dikriminalisasi atas laporan atau berperkara dg PIK-2.
Menghadiri pengadilan warga Alar Jiban yg pertahankan haknya
RRT
Roy Rismon Tifa
Di bawah langit Jakarta yang selalu tampak letih oleh kesibukan politik,
ada tiga manusia yang tidak pernah meminta takdir yang harus mereka jalani,
namun justru dipilih waktu untuk memikul beban kebenaran.
Roy Suryo, dengan matanya yang selalu menyala ketika bicara data,
datang dengan ketajaman analisis dan ketenangan seorang yang tahu
bahwa logika adalah senjata yang tidak bisa dirampas.
Rismon Sianipar, lelaki hening dengan ketelitian binari,
yang mampu membaca kebenaran di balik piksel,
yang tahu bahwa dunia digital mungkin bisa direkayasa,
tetapi jejaknya tidak pernah bisa berbohong.
Dan berdiri di antara keduanya adalah seorang perempuan,
bukan sekadar perempuan, bukan sekadar dokter,
tetapi dr. Tifa,
yang membawa dua senjata yang tidak dimiliki aparat mana pun di ruangan itu:
Epidemiologi perilaku dan Neuropolitika.
Ilmu yang membuatnya melihat manusia seperti pola.
Ilmu yang membuatnya paham bagaimana kekuasaan bekerja melalui otak,
bagaimana ketakutan disebarkan seperti virus,
bagaimana kebohongan ditanam sebagai memetic infection,
bagaimana publik dikendalikan melalui bias kognitif,
dan bagaimana pembungkaman dipetakan seperti wabah.
Di Polda Metro Jaya, mereka tidak hanya menjadi saksi, pelapor, kemudian tersangka,
mereka menjadi pembacaan terhadap seluruh dinamika ruangan.
Mereka tahu kapan interogasi mencoba mematahkan,
kapan pertanyaan disusun untuk memecah belah,
kapan tekanan diarahkan ke satu pihak untuk merenggangkan dua pihak lainnya.
Dengan epidemiologi perilaku,
Dr Tifa mendeteksi pola manipulasi seperti mendeteksi kurva wabah.
Dengan neuropolitika,
ia melihat strategi pembungkaman seperti memetakan serangan ke otak publik.
Itulah mengapa,
ketika pihak lawan mencoba memecah Roy, Rismon, dan Tifa,
mereka gagal.
Karena di dalam formasi mereka,
ada seorang perempuan yang telah mempelajari
cara kekuasaan mencoba menginfeksi kesadaran.
Ada seseorang yang memahami bahwa propaganda dan tekanan
memiliki basic reproduction number seperti virus,
dan jika tidak diputuskan mata rantainya,
maka mereka bertiga akan tumbang satu per satu.
Maka Tifa memutus rantainya.
Ia menjaga moral Roy ketika tekanan datang dari arah tak terduga.
Ia menjaga ketenangan Rismon ketika kebenaran digital hendak dikecilkan.
Ia menjaga fokus timnya setiap kali muncul operasi psikologis halus
yang bertujuan memecah kesatuan mereka.
Kadang orang bertanya:
"Apa persamaan ahli digital forensik, pakar telematika, dan epidemiolog perilaku?"
Jawabannya satu:
Mereka bertiga tidak bisa dibeli, tidak bisa ditakuti, dan tidak bisa diasingkan dari kebenaran.
Dan di koridor panjang Polda Metro Jaya,
ketika jam sudah melewati angka yang tidak manusiawi,
ketiganya masih berjalan bersama, saling menjaga,
seperti tiga obor kecil yang menolak padam di tengah badai.
Mereka tidak menang hari itu.
Mereka tidak butuh menang.
Yang penting bagi mereka adalah tetap tegak.
Tetap bersama.
Tetap satu.
Sebab Roy membawa data.
Rismon membawa bukti.
Tifa membawa peta pikiran manusia
dan kemampuan membaca permainan kekuasaan
bahkan sebelum permainan itu dimulai.
Dan ketika mereka bertiga melangkah keluar dari Polda di senja yang berat,
tidak ada tepuk tangan,
tidak ada kamera,
hanya angin yang membawa satu pesan:
Mereka tidak berhasil dipecah.
Tidak di ruang interogasi.
Tidak di balik tekanan politik.
Tidak di tengah operasi psikologis.
Tidak di antara godaan untuk masing-masing menyelamatkan diri.
Karena persaudaraan mereka bukan sekadar persahabatan,
tetapi persatuan metodologi perlawanan kebohongan.
Dan sejarah, bila kelak menoleh ke belakang,
akan menemukan tiga nama itu berdiri dalam satu garis:
Roy – Rismon – Tifa
yang pernah menjaga kebenaran,
bukan dengan kekuatan,
tetapi dengan ilmu, keberanian, dan kesetiaan yang tidak bisa dipecah belah.
Hari ini, Kamis 11 Desember 2025
Sebuah mobil MBG ( Makan Bergizi Gratis ) sedang membawa MBG ke SDN 01 Clincing, Kalibaru, Jakarta Utara, menyeruduk siswa² SD yang sedang melaksanakan giat baris di halaman sekolah.
⚠️ Update sementara :
21 anak dikabarkan menjadi korban, 3 anak meninggal
Tiga Otak, Tiga Hati, Satu Aksi: RRT
Paliiiing bahagia, jika bisa duduk bertiga begini.
Kesempatan mahal, karena kesibukan dan concern kami masing-masing.
Tetapi hati selalu bertaut.
Dan setiap bertemu, selalu ada saja ide dan gagasan yang segera akan terwujud
Kami bertiga, mas Roy, Rismon, dan saya dr Tifa, adalah jenis manusia action, bukan manusia wacana.
Dan pikiran, jiwa, dan hati kami adalah untuk bangsa dan negara ini.
Maka selain kami bertemu untuk rapat soal hukum dan konferensi pers, kami langsung bahas, bagaimana kontribusi kami kepada masalah besar di depan mata, yaitu Bencana Sumatera.
Sepakat kami membuat Program yang kami namakan: Program Biorestorasi Pasca Bencana Besar Sumatera Berbasis Data Science
Inisiator kolaboratif: Roy Suryo - Rismon Sianipar - dr Tifauzia Tyassuma
Visi dan Misi: Merestorasi Kesehatan dan Kehidupan Masyarakat Pasca Bencana Sumatera berbasis Epidemiologi, Perilaku, dan Digital Forensik.
Roy Suryo akan merancang visual mapping, account ability, dan community digital evidence
Rismon Sianipar akan merancang audit digital, metadata analysis, public disaster forensic dashboard, dan forensic disaster report for transparent recovery
dr Tifa akan merancang Protokol Biorestorasi, Pemulihan Fungsi Biologis, Imunitas, dan Kesehatan, dampak dan antisipasi lingkungan dan provinsi pandemi, Komunitas Pasca Bencana.
Tentu saja kontribusi dan dukungan dari banyak Ilmuwan sangat kami harapkan.
Doa dari seluruh masyarakat kami sangat butuhkan.