Saya ada cerita seorang bapak.
Dia kerja 20 tahun buat biayain anaknya kuliah S1.
Lembur.
Utang.
Sampai jual tanah warisan.
Anaknya lulus. IPK bagus.
Wisuda lengkap dengan toga.
Sekarang anaknya kerja serabutan. Gaji di bawah UMR.
Dan si bapak masih senyum bilang,
"Mungkin belum rezekinya."
Yang bikin saya merenung bukan cerita anaknya.
Tapi cerita si bapak.
Dia lahir tahun 70-an.
Gak tamat SMA pun bisa buka toko,
punya rumah,
besarin anak dengan layak.
Logikanya simpel dan masuk akal:
"Dulu gw gak sekolah tinggi aja bisa. Kalau anak gw kuliah,
hidupnya pasti jauh lebih baik dari bapaknya."
Logika itu benar. Di zamannya.
Masalahnya bukan orang tua yang salah didik.
Bukan juga anaknya yang kurang usaha.
Tapi janji yang mereka pegang sudah kedaluwarsa.
Ijazah dulu adalah tiket.
Sekarang ijazah adalah syarat minimum.
Yang bahkan kadang pun masih belum cukup.
Dua hal yang kelihatannya sama, tapi sebetulnya beda jauh.
Bayangin ya.
Tahun 1995,
fresh graduate langsung diperebutkan perusahaan.
Sekarang,
lowongan entry level minta pengalaman 2 tahun,
skill digital, bisa multitasking, dan siap ditempatkan di mana saja.
Gajinya?
UMR aja belum tentu.
Hampir sama kalau dikonversi ke harga waktu itu.
Tapi harga rumah, kontrakan, dan beras sudah tidak ikut berdiam di angka yang sama.
Generasi 90-an pasti hafal nasihat ini:
"Rajin sekolah, biar dapat kerja bagus."
"Kuliah dulu, baru enak hidupnya."
"Investasi terbaik itu pendidikan."
Nasihat itu bukan bohong.
Di zamannya, itu benar dan terbukti.
Tapi zamannya sudah ganti.
Nasihatnya tidak ikut ganti.
Dan anak-anak kita tumbuh sambil pegang peta zaman dulu
yang sudah tidak cocok sama jalanan yang mereka hadapi sekarang.
Saya pernah ngobrol panjang sama seorang teman.
Dia cerita,
"Bokap gw sampai jual motor buat bayar UKT semester terakhir gw."
Saya tanya, "Sekarang kerjanya apa?"
"Freelance desain. Kadang ada job, kadang enggak."
"Bokap lu tau?"
"Tau. Dia bilang sabar, rezeki ada aja. Tapi gw liat matanya... dia bingung."
Si bapak bingung bukan karena anaknya gagal.
Tapi karena cara yang dulu berhasil sekarang tidak lagi bekerja.
Dan dia tidak punya peta baru untuk dikasih ke anaknya.
Kalau anakmu masih sekolah atau mau kuliah,
jangan cuma pikirin jurusannya.
Tapi ajarin juga:
1. Ajarin dia cara kerja uang sejak kecil.
2. Bekali satu skill konkret yang bisa langsung menghasilkan.
Sebelum dia lulus dan bingung mau mulai dari mana.
3. Kasih ruang buat gagal kecil sekarang.
Biar dia gak gagal besar pertama kali justru di dunia nyata.
4. Jangan cuma bekali ijazah. Bekali juga kemampuan bertahan.
Bukan berarti kuliah tidak penting. Tapi kuliah saja sudah tidak cukup.
Soalnya begini.
Orang tua yang paling menyiapkan anaknya bukan yang paling banyak bayar biaya kuliah.
Tapi yang paling jujur bisa ngomong ke anaknya:
"Dunia yang kamu masuki berbeda dari dunia yang Ayah dan Ibu kenal.
Kita harus cari tau bareng-bareng."
Kejujuran itu lebih berharga dari SPP mana pun.
Dan seperti biasa, selalu ada dua kubu.
Kubu pertama bilang,
"Orang tua salah. Harusnya ajarin skill, bukan kejar gelar."
Kubu kedua bilang,
"Orang tua sudah benar. Anaknya yang kurang mau usaha."
Tapi ada kemungkinan ketiga yang jarang ada yang mau nyebut:
Dua-duanya sudah berusaha sebaik yang mereka bisa dengan informasi yang mereka punya.
Tapi sistemnya yang tidak pernah jujur ke keduanya.
Generasi kita mungkin adalah generasi pertama yang hidupnya lebih susah dari orang tuanya.
Bukan karena malas. Bukan karena manja.
Tapi karena peta yang diajarkan ternyata sudah tidak relevan saat mereka datang.
Dan orang tua mereka masih dengan tulus menunjuk ke peta yang didapat dulu.
Polisi menyaksikan langsung perlakuan tidak manusiawi yang dilakukan pengasuh terhadap anak-anak di lokasi tersebut. Petugas telah mengamankan sekitar 30 orang untuk menjalani pemeriksaan intensif. Mereka yang diamankan terdiri dari para pengasuh hingga pejabat di yayasan yang menaungi daycare tersebut.
Punya cowo, ijin buat ke acara ultah temen ku tanyain terus siapa temennya, ternyata mantan gebetan dia, aku yg baik hati mengijinkan🙂 seminggu setelah dia keacata ultah mantannya aku diputusin trs dia deketin mantan gebetannya itu lagi😂 23 april 2016 saya benci km mba
Pas kelas 3 sd aku ke sekolah jalan kaki, sampe kelas paling awal trs duduk diluar kelas sambil nunggu temen dateng tp ngeliat kakak kelas lg main sepakbola, aku bilang “risih bgt keringetan begitu, kelasnya nanti pasti bau” dan yap kakak kelas itu sekarang pacar saya🥰
@dipanggilarman Lg milih tempe dikantin dilabrak kakak kelas dikira deketin cowonya. Padahal cowo dia kakak sepupu aku. Aku diem aja kasian kalau aku jelasin ntar dia malu😂
Gw punya temen yang kalau libur panjang atau weekend dia menghilang total.
Bukan pergi ke mana-mana.
Tapi literally tidak kemana-mana.
Di kos.
Sendiri.
Kasur + Netflix+ GoFood Dan jadi combo hibernasi buat dia.
Tidak ada interaksi sama siapa pun.
Tidak ada chat yang dibalas kecuali yang penting. Tidak ada nongkrong.
Tidak ada janjian.
Bahkan untuk makan dia tidak mau kelur GoFood saja supaya tidak perlu ketemu orang.
Gw tanya lu tidak kesepian?
Dia bilang tidak.
Ini justru yang gw tunggu-tunggu seharian kerja.
Dan gw mulai paham.
Dia bukan pendiam.
Di kantor dia normal.
Diajak ngobrol nyambung.
Diajak nongkrong mau.
Tidak ada yang curiga dia tipe yang suka menyendiri.
Tapi ternyata semua interaksi sosial itu buat dia ada harganya.
Setiap meeting.
Setiap small talk di pantry.
Setiap zoom call.
Setiap 'eh lu sudah makan belum' dari rekan kerja itu semua menguras energi dia secara diam-diam.
Dan weekend adalah waktu dia bayar semua utang energi itu kembali.
Kata dia kalau Senin gw belum rebahan cukup di weekend, gw masuk kantor pasti susah fokus.
Ini yang psikologi menyebutnya introvert bukan dalam artian pemalu atau antisosial.
Tapi orang yang recharge energinya bukan dari keramaian tapi justru dari kesendirian.
Dan yang menarik dia tidak merasa ada yang salah dengan dirinya.
Tidak merasa harus diperbaiki.
Tidak merasa harus dipaksa lebih sosial.
Dia tahu persis cara kerjanya sendiri dan dia desain hidupnya sesuai itu.
Gw rasa banyak orang yang sebenarnya sama kayak dia tapi selama ini merasa bersalah karena tidak mau keluar di weekend.
Merasa ada yang aneh karena lebih pilih kasur daripada cafe.
Tidak ada yang aneh.
Lu mungkin cuma belum sadar bahwa diam itu bukan kesepian.
Kadang itu justru cara paling efisien untuk jadi manusia yang berfungsi normal keesokan harinya.
Suka banget sama kalimat ini;
Apa yang kamu anggap sebagai keterlambatan, bisa jadi cara tuhan untuk menyelamatkanmu dari sesuatu yang belum siap kamu hadapi.