大家好!
✨Mindset Is Everything✨
sing ditenani kui ikhlas ~
tidak masalah, bukan siapa-siapa ❤️
يَارَبِّ صَلِّ عَلَی مُحَمَّدْ وَافْتَحْ مِنَ الخَيْرِ کُلَّ مُغْلَق
Setuju banget.
Masuk tahun ke 4 pernikahan, saya makin paham kalau "excited sendirian" itu salah satu jenis sepi yang paling melelahkan.
Di awal hubungan, jatuh cinta itu mudah karena semuanya serba baru. Tapi begitu masuk tahun-tahun penuh rutinitas, saat obrolan bergeser dari mimpi-mimpi masa depan ke urusan kebutuhan bulanan, dan kelelahan kerja, di situlah kesetaraan itu diuji.
Cinta yang setara di fase ini soal hal-hal kecil yang manusiawi.
Soal bagaimana dia tetap meletakkan ponselnya dan mendengarkan ceritamu yang itu-itu lagi dengan binar mata yang sama.
Soal bagaimana kamu tetap ingin menyeduh kopi kesukaannya tanpa perlu dia minta.
Soal perasaan lega yang muncul saat pintu rumah terbuka, karena kamu tau, kamu pulang ke seseorang yang juga menganggapmu tempat pulangnya.
Menikah itu melelahkan kalo cuma satu orang yang sibuk merawat api, sementara yang lain cuma numpang menghangatkan badan.
Hubungan bisa bertahan dewasa karena dua orang sama-sama keras kepala untuk menolak bosan, dan memilih untuk tetap jatuh cinta setiap hari, sekecil apa pun caranya.
Biar lelahnya hidup ini, setidaknya, kita tanggung berdua dengan porsi yang sama adilnya.
agree. punya pasangan yang bisa ngobrol sama kita berjam-jam, talking about anything. laughing until our stomach hurt. even still comfortable enjoying each other's silence is a privilege. tolak ukur paten jg buat jadi pasangan. ngga butuh fancy date melulu, quality time it is.
*BELAJAR JADI SUKSES ALA ORANG CHINA*
1. *DI CHINA ORANG GAK PAMER SIBUK*
mereka kerja pelan, sunyi, tapi konsisten. bukan ribut di proses karena yang dihargai cuma hasil.
2. *GAGAL ITU BUKAN MALU*
kalau kamu berhenti, kamu dianggap bodoh. gagal itu biasa, ulangi lagi dan belajar dari kegagalan.
3. *WAKTU DIANGGAP ASET, BUKAN PERASAAN*
telat 5 menit saja mereka sudah menganggap seperti kehilangan kesempatan.
4. *ANAK MUDA DIAJARIN NABUNG SKILL, BUKAN GAYA*
mereka gak tertarik dengan barang mewah. hp boleh biasa aja tapi ilmu harus luar biasa.
5. *BELAJAR ITU WAJIB, BUKAN NUNGGU MOOD*
yang mereka percaya kalau mood datang belakangan disiplin datang duluan.
“Dunia ini cukup untuk kita semua”
Aku tiba-tiba ingat kata Psikologku (iya, Psikolog juga ke Psikolog), begini katanya:
“Nell, kita semua itu punya peran masing-masing. Tidak semua orang harus ‘bersinar’ dengan intensitas yang sama.
Ada Psikolog yang terkenal, kayak xx tapi ada juga yang nggak, kayak saya.
Tapi kalau orang yang biasa-biasa aja kayak saya gak ada terus yang ngelayanin kamu konsul siapa?
Dunia ini cukup untuk kita semua.”
Pas dengar itu, aku merasa…lega. Separuh rasa cemasku mereda di tengah-tengah perkuliahan yang bikin aku merasa gak percaya diri dengan kemampuanku.
Aku membandingkan diriku dengan teman-teman lain yang menurutku hebat-hebat sekali. Ditambah standarku memang tinggi. Aku takut tidak jadi “apa-apa”, tidak dapat tempat.
Pelan-pelan aku mulai menata diriku lagi. Semuanya tidak harus sempurna. Aku hanya perlu tetap jalan.
Toh, secara objektif “biasa-biasa”nya aku sebenarnya buat orang lain itu bagus, tidak ada masalah.
Sampai sekarang, aku masih perlu mengingatkan diriku secara berkala,
“Setiap orang punya sinar yang berbeda, seperti bintang. Ada yang terlihat terang dan besar, ada juga yang kecil. Namun, keduanya sama-sama cantik dan penting.”
Hari ini pun aku mengingat kembali, aku mungkin tidak jadi musisi andal seperti Mozart tapi musikku cukup untuk anak-anak. Mungkin juga untuk sobat twitterku.
Dunia ini cukup untuk kita semua. Aku harap, kita yang lagi merasa tergesa-gesa bisa mengingat ini 💛
Gue punya temen yang pertama kali merantau ke Jakarta, dia masuk kerja di salah satu kantor di pusat kota.
Hari pertama, dia langsung ngerasa salah tempat.
Bukan karena dia nggak kompeten, tapi karena lingkungannya beda banget.
Orang-orang di kantornya ngomong campur Inggris, santai bahas kuliah di luar negeri kayak University of New South Wales atau Monash University, seolah itu hal biasa.
Sementara dia?
Dari kampus daerah, nongkrongnya dulu kopi sachet, mainnya kartu sama temen-temen.
Kontrasnya kerasa banget.
Hari pertama aja dia udah minder.
Dia cerita ke gue, Gue ngerasa paling nggak nyambung di ruangan itu.
Bahkan hal simpel kayak nanya kuliah di mana bisa jadi awkward, karena jawabannya beda dunia.
Dia sempet mikir kalau dia kurang pintar, kurang keren, bahkan sempet kepikiran apa gue nggak pantes di sini ya?
Tapi makin lama dia mulai sadar sesuatu yang cukup nendang.
Ternyata bukan dia yang kurang tapi banyak dari mereka emang udah punya start lebih dulu.
Dari SMA udah di luar negeri, udah biasa presentasi, udah terbiasa ngomong dengan cara yang terdengar pintar.
Jadi pas masuk kerja, mereka keliatan langsung siap. Sementara temen gue?
Baru belajar semua itu dari nol di dunia kerja.
Yang bikin dia makin kaget, ada beberapa orang yang keliatannya santai banget, kerjanya nggak terlalu keliatan, tapi posisinya aman.
Setelah dia cari tahu pelan-pelan, ternyata background keluarganya bukan kaleng-kaleng.
Dari situ dia mulai ngerti, di Jakarta itu bukan cuma soal kerja keras tapi juga soal lu mulai dari mana.
Dia juga pernah cerita pengalaman lain yang bikin dia makin kebuka matanya.
Pernah dia kerja di tempat yang secara logika bisnis nggak masuk akalnggak jelas profitnya, tapi tetap jalan terus.
Dia sampe nanya ke seniornya, ini kok bisa hidup ya? Jawabannya simpel, “Udah, nggak usah dipikirin.
Beda dunia.
Di situ dia sadar, buat sebagian orang, kerja atau bisnis itu bukan buat bertahan hidup, tapi cuma aktivitas
Tapi justru dari semua itu, yang paling berubah dari dia bukan skill teknis tapi cara dia melihat diri sendiri. Awalnya dia minder, ngerasa kecil.
Tapi lama-lama dia mulai ngerti
dia mungkin nggak punya privilege yang sama, tapi dia punya daya tahan yang nggak semua orang punya. Dia terbiasa adaptasi, belajar dari nol, dan itu pelan-pelan jadi kelebihan.
Sekarang, setelah beberapa tahun, dia bilang ke gue satu hal yang cukup pedas tapi jujur
Di Jakarta, lu bakal ketemu orang yang keliatan jauh di atas lu.
Tapi bukan berarti mereka lebih hebat kadang mereka cuma mulai lebih dulu.
Tugas lu bukan ngejar mereka, tapi jangan berhenti jalan.
Dan menurut gue itu poin paling real dari merantau.
baru sadar, ternyata setiap kita ‘level up’, pasti ‘kehilangan’ sesuatu.
entah itu kebiasaan, pertemanan, pasangan, atau versi diri kita yang lama.
tapi, itu bukan berarti kita benar-benar kehilangan melainkan kita bertumbuh. menyeleksi apa yang udah gak sejalan dengan versi kamu yang lebih baik diatas sana.
Dear anak FKIP, pikir dulu 99x sebelum nyemplung jadi guru/dosen. Sudahlah kadang kurang dibela negara, dijadiin tumbal konflik horizontal pula.
Saya gak bosan-bosannya menyayangkan keputusan dikti untuk oprec mahasiswa ppg prajab dengan iming-iming pengangkatan asn dan gaji 2x (gaji + serti) waktu itu. Jadinya pada nagih janji kan? Pengen segera jadi asn dan ngajar di sekolah. Ya wajar, namanya aja dikasih janji.
Saking terbuainya dg janji manis, sampe gak aware kalo masalah keguruan di lapangan itu ruwet. Konflik kepentingannya banyak. Mau diurai pun susah karena terlanjur kayak benang kusut. Persoalan honorer aja banyak kastanya dan belum rampung, eh ketambahan lulusan prajab. Semua saling audiensi dan memperjuangkan golongannya. Akhirnya di proses seleksi ASN lahirlah kasta prioritas, P1 P2 P3 P4 P5 P15281735 yg berlapis-lapis itu.
Adanya sistem prioritas ini bukan solusi, tapi nambah masalah baru yaitu konflik horizontal senggol bacok di sosial media. Semua merasa gak puas dan marah, karena pas "marah ke atas" gak ada yg gubris, akhirnya pada marah ke sesama.
Lulusan prajab ngejek honorer. Prajab berbekal serdik, merasa punya titel guru profesional, ngatain honorer gak kompeten dan ilegal. Padahal bestie, kalau memang profesional, semestinya kita bisa lebih manusiawi. Ketidakadilan yg kita terima, usahakan jangan di-channeling secara horizontal. Kemudian honorer pun gak terima, balik ngatain prajab.
Jujur getir banget ngelihat rakyat kecil gontok-gontokan kayak gini. Padahal kita semua korban sistem.
Honorer ada karena negara gak kunjung adain seleksi cpns, padahal angka pensiun semakin meningkat. Kelas yg kosong, mau diajar siapa? Lahirlah honorer. Ini namanya korban sistem.
Prajab ada karena negara pengen kualitas guru meningkat, tapi belum menyediakan sistem untuk menyerap lulusannya dengan baik. Ini namanya korban sistem.
Pppk ada karena negara tak kuasa sanggup bayar pensiun tenaga kerja. Ini namanya korban sistem.
Pns (asn) guru gajinya segitu tanpa dapet tukin karena pemda gak sanggup bayar, sementara pns kemenkeu dapet tukin sultan. Ini namanya korban sistem.
Jangan sampai sistem yang ruwet ini sukses memecah kita. Ketika sesama pendidik saling merendahkan, yang diuntungkan bukan kita. Sometimes we just need to step back and see the bigger picture, so that we can understand bahwa yg perlu dikritik adalah sistemnya, bukan manusianya.
Suka banget sama kalimat ini;
Apa yang kamu anggap sebagai keterlambatan, bisa jadi cara tuhan untuk menyelamatkanmu dari sesuatu yang belum siap kamu hadapi.
Setelah nonton drachin, ternyata drakor b aja. Sekelas alchemys of soul yg dibangga banggain aja tuh makanan sehari hari cdrama jirr, saking banyaknya gabisa diupload semua secantik apa cgi, cinematography, plot, set syuting, costume.
Di drachin lu bisa nonton dewa dewi jirr
Pepatah jawa bilang...
慢慢來就搞定就好
màn màn lǎi, gǎodìng jiù hǎo
Alias "alon alon asal kelakon"
1️⃣ Set a goal, HSK level itu udah oke. Kalau saya lebih ke bisa baca cuitan/manual tanpa kamus. Targetnya bisa guyon, ngobrol dan nguping: Tionghoa yg ngomong Mandarin, baru Native yang ngomong Mandarin kwowkkwkw.
2️⃣ Harus ada prioritas, mau 聽說 dulu atau mau 讀寫 dulu. Nada=聽說 Hanzi=讀寫. Saya mulai dari dúxiě dulu, jadi 聲調 shēngdiào aku belakangan. Yang penting bisa baca tulis dulu. Baru 2 bulan terakhir belajar shēngdiào. Kalo bareng² soalnya overwhelming.
3️⃣ Jangan paka 'bridge language' kaya Bahasa Inggris. Nanti jadi susahnya kuadrat. Langsung aja dari Mandarin ke Bahasa Indonesia.
4️⃣ Have Fun
Kalau diskusinya masih sebatas “laki-laki provide rumah, mobil, lalu perempuan provide apa,” berarti pemahamannya masih di level transaksi, bukan pernikahan.
Karena hari gini, banyak perempuan bisa provide rumah, mobil, dan kehidupannya sendiri. Itu bukan lagi sesuatu yang eksklusif milik laki-laki.
Yang jauh lebih langka dan jauh lebih mahal adalah kemampuan membangun dan mengelola kehidupan bersama.
Pernikahan bukan semata biaya rumah dan mobil. Itu bagian obrolan level permukaan banget 😅
Biaya terbesar dalam pernikahan adalah hal yang tidak bisa dibeli pake uang: kematangan emosional, kapasitas intelektual, stabilitas karakter, dan kemampuan mengelola rumah tangga sebagai sebuah sistem.
Apalagi kalau you memutuskan punya anak.
Biaya membesarkan anak bukan hanya makan dan sekolah. Tapi kemampuan orang tua menjadi figur yang stabil, hadir, dan layak dicontoh. Kemampuan mengelola emosi. Kemampuan membuat keputusan jangka panjang. Kemampuan menjaga struktur keluarga tetap utuh. Semua itu ngga bisa digantikan oleh uang.
Jadi kalau diskusinya masih berhenti di “siapa provide rumah dan mobil,” honestly bukan perempuannya yang perlu dipertanyakan.
Tapi kesiapan berpikir laki-lakinya.
Karena pernikahan bukan tentang siapa membawa apa. Tapi tentang apakah dua orang punya kapasitas untuk membangun sesuatu yang jauh lebih besar dari diri mereka sendiri?
Kalau masih melihatnya sebagai transaksi, mungkin memang belum siap untuk menikah.
Hal-hal yang terlihat seperti cinta :
1. Sleepcall
2. Fast respon
3. Long text
4. Kirim makan/minuman
5. Obsesi
6. Kado dan uang
Hal-hal yang sebenarnya cinta itu :
1. Respect
2. Support
3. Kepercayaan
4. Validasi
5. Komitmen
6. Memaafkan
7. Toleransi
8. Komunikasi
“di tempat yang salah, sekalipun kamu memberikan yang terbaik itu gaakan cukup — tapi di tempat yang tepat, kehadiranmu aja udah cukup untuk dirayakan”.
simple words, but enough for you who feel this.
Bismillah,
اِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا
“Inna fatahna laka fathan mubīnā”
Semoga Allah bukakan jalan yang terbaik, mempermudahkan setiap urusan dan melapangkan rezeki kita semua. Aamiin.
If you want to take a short pause from the insanity of world affairs for the calm and wisdom of Chinese etymology, I found this breakdown of the character 赢 (yíng, "to win") quite interesting.
So character that means "to win" or "success" (赢) is composed of:
- 亡 (wáng) on top, which means awareness of danger
- 口 (kǒu) in the middle, which means communication
- 月 (yuè) in the bottom left, which means time
- 贝 (bèi) in the bottom middle, which means money/resources
- 凡 (fán) in the bottom right, which means to stay grounded, humble
Fairly poetic. The character in and of itself is a self-help book 😅