One of the toughest jobs in education is being a principal.
Every day, principals are balancing mandates, district expectations, meetings, parent concerns, student needs, staffing issues, budgets, discipline, testing pressures, and a thousand other responsibilities most people never see.
And somehow in the middle of all that, the best principals still find ways to encourage their teachers.
They show up in classrooms. They check on people. They celebrate small wins. They protect staff when they can. They try to keep morale up even when they’re exhausted themselves.
Great principals live in the tension between leading systems and leading people.
And the ones who never lose sight of their staff in the middle of all the pressure deserve more appreciation than they often receive.
To the principals who continue fighting for kids while also trying to support, encourage, value, and appreciate their teachers:
Thank you.
Your staff may not always see everything you do behind the scenes, but your presence, support, and leadership matter more than you know.
Education is still a people business. And great principals never forget that. @NAESP@NASSP
Atmospheric scientist and Jesuit priest Christoforus Bayu Risanto has been honored by the IAU with a main-belt asteroid named after him, ‘(752403) Bayurisanto.’
Bagian tersulit dari menjadi dewasa adalah melihat orang tua kita menua.
Melihat daya dari sang waktu menyentuh dua orang yang paling mencintai kita, dua orang yang paling awal mengasihi, dan paling lama.
Semua yang mereka korbankan supaya kita bisa sampai di titik ini, pelan pelan berubah jadi keriput yang menempel abadi di wajah mereka, berubah jadi rambut yang memutih, dan kantung mata yang makin terlihat.
Katanya, setiap tahap hidup punya keindahan. Itu benar. Tapi hampir tidak ada yang menyiapkan kita untuk rasanya duduk di meja makan, melihat mereka makan, lalu sadar, senyum mereka tidak semuda dulu.
Ya dan kita juga.
Kita masih anak bagi mereka, tapi kita bukan anak kecil lagi. Aneh rasanya. Kita dan orang tua kita sama-sama orang dewasa, tapi dipisahkan beberapa puluh tahun jarak usia.
Tumbuh besar tidak pernah sempurna. Memang begitu. Karena kita juga cobaan pertama mereka menjadi orang tua. Mereka belum pernah menjadi orang tua sebelumnya.
Walaupun begitu, aku tidak akan menukarnya dengan versi apapun walau katanya lebih baik.
Aku baru mengerti, aku dan orang tuaku tumbuh besar bersama, dan ada sesuatu yang indah di sana.
Tapi yang kadang membuat haru adalah aku sadar aku punya kehidupan ini karena mereka pernah mengalah, pernah menepi, pernah memberi ruang.
Hidup yang aku jalani hari ini, dibangun dari hidup yang dulu mereka sisihkan untukku.
Dan sekarang aku menyaksikannya langsung di depan mata.
melihat mereka mulai lebih sering istirahat karena lelah yang ia simpan rapi.
melihat mereka lebih pelan saat berdiri, lebih hati hati saat melangkah, seolah sedang belajar menerima dahsyatnya kekuatan waktu pada tubuhnya.
Aku melihat tangan mereka. Tangan yang dulu kuat mengangkatku, menuntunku menyeberang, merapikan seragamku, mengusap-usap kepalaku, kini punya garis garis halus yang tidak pernah ada di masa kecilku.
Kadang aku menangkap momen kecil yang menghenyakkan.
Mereka mulai sering mengulang cerita yang sama, mulai sering lupa untuk hal-hal memori jangka pendek. Mulai menunjukkan semua hal yang aku baca di buku ajar geriatri, ilmu kesehatan usia lanjut.
Mereka bertanya hal yang sama dua kali, dan aku dulu tergesa menjawab, Sekarang aku memilih menatap mata mereka dengan senyum, menjawab pelan, karena aku sadar, yang mereka cari bukan sekadar jawaban, tapi kehadiran.
Aku mulai paham, ada doa yang tidak diucapkan lewat kata, tapi lewat kebiasaan mereka.
Mereka masih mencintaiku dengan cara yang sama, hanya saja tubuh mereka tidak lagi secepat hati mereka.
Di masa kecil, aku merasa waktu berjalan lambat. Aku ingin cepat besar. Aku ingin cepat punya kebebasan. Aku ingin cepat menjadi siapa pun yang aku impikan.
Sekarang, ketika aku sudah sampai, aku justru ingin waktu melambat.
Aku ingin satu makan malam lagi tanpa buru buru. Satu perjalanan lagi dengan tangan mereka di sebelahku. Satu pagi lagi mendengar suara mereka memanggil namaku dari ruang tengah. Satu kesempatan lagi untuk bilang, terima kasih untuk segalanya. Satu kesempatan lagi untuk memeluk lebih lama, tanpa alasan.
Karena aku sangat mengerti.
Orang tua tidak pernah meminta kita membalas semua pengorbanannya. Mereka hanya ingin kita hadir, sesering yang kita bisa. Mereka hanya ingin kita pulang, meski sebentar. Mereka hanya ingin kita baik baik saja menjalani kehidupan, meski mereka sendiri sedang belajar menua.
Sedikit lebih lambat. Sedikit lebih tua. Tapi tetap sama, dicintai, sepenuh itu.
Dan kalau suatu hari nanti garis garis itu makin banyak, langkah mereka makin pelan dan terbatas, aku ingin mereka tahu satu hal.
Aku tidak pernah benar benar pergi dari rumahnya. Aku sadar, cinta paling murni yang pernah kita terima, sedang berjalan menuju senja.
Dan tugas kita sederhana.
Menemani mereka sampai matahari benar benar turun, dengan hati yang lembut, dengan waktu yang kita sisihkan, dengan pelukan yang jangan kita tunda, dengan kata kata indah yang jangan kamu hemat.
Karena mereka tidak pernah hemat mencintaimu.
Bagian tersulit dari menjadi dewasa adalah melihat orang tua kita menua.
Melihat daya dari sang waktu menyentuh dua orang yang paling mencintai kita, dua orang yang paling awal mengasihi, dan paling lama.
Semua yang mereka korbankan supaya kita bisa sampai di titik ini, pelan pelan berubah jadi keriput yang menempel abadi di wajah mereka, berubah jadi rambut yang memutih, dan kantung mata yang makin terlihat.
Katanya, setiap tahap hidup punya keindahan. Itu benar. Tapi hampir tidak ada yang menyiapkan kita untuk rasanya duduk di meja makan, melihat mereka makan, lalu sadar, senyum mereka tidak semuda dulu.
Ya dan kita juga.
Kita masih anak bagi mereka, tapi kita bukan anak kecil lagi. Aneh rasanya. Kita dan orang tua kita sama-sama orang dewasa, tapi dipisahkan beberapa puluh tahun jarak usia.
Tumbuh besar tidak pernah sempurna. Memang begitu. Karena kita juga cobaan pertama mereka menjadi orang tua. Mereka belum pernah menjadi orang tua sebelumnya.
Walaupun begitu, aku tidak akan menukarnya dengan versi apapun walau katanya lebih baik.
Aku baru mengerti, aku dan orang tuaku tumbuh besar bersama, dan ada sesuatu yang indah di sana.
Tapi yang kadang membuat haru adalah aku sadar aku punya kehidupan ini karena mereka pernah mengalah, pernah menepi, pernah memberi ruang.
Hidup yang aku jalani hari ini, dibangun dari hidup yang dulu mereka sisihkan untukku.
Dan sekarang aku menyaksikannya langsung di depan mata.
melihat mereka mulai lebih sering istirahat karena lelah yang ia simpan rapi.
melihat mereka lebih pelan saat berdiri, lebih hati hati saat melangkah, seolah sedang belajar menerima dahsyatnya kekuatan waktu pada tubuhnya.
Aku melihat tangan mereka. Tangan yang dulu kuat mengangkatku, menuntunku menyeberang, merapikan seragamku, mengusap-usap kepalaku, kini punya garis garis halus yang tidak pernah ada di masa kecilku.
Kadang aku menangkap momen kecil yang menghenyakkan.
Mereka mulai sering mengulang cerita yang sama, mulai sering lupa untuk hal-hal memori jangka pendek. Mulai menunjukkan semua hal yang aku baca di buku ajar geriatri, ilmu kesehatan usia lanjut.
Mereka bertanya hal yang sama dua kali, dan aku dulu tergesa menjawab, Sekarang aku memilih menatap mata mereka dengan senyum, menjawab pelan, karena aku sadar, yang mereka cari bukan sekadar jawaban, tapi kehadiran.
Aku mulai paham, ada doa yang tidak diucapkan lewat kata, tapi lewat kebiasaan mereka.
Mereka masih mencintaiku dengan cara yang sama, hanya saja tubuh mereka tidak lagi secepat hati mereka.
Di masa kecil, aku merasa waktu berjalan lambat. Aku ingin cepat besar. Aku ingin cepat punya kebebasan. Aku ingin cepat menjadi siapa pun yang aku impikan.
Sekarang, ketika aku sudah sampai, aku justru ingin waktu melambat.
Aku ingin satu makan malam lagi tanpa buru buru. Satu perjalanan lagi dengan tangan mereka di sebelahku. Satu pagi lagi mendengar suara mereka memanggil namaku dari ruang tengah. Satu kesempatan lagi untuk bilang, terima kasih untuk segalanya. Satu kesempatan lagi untuk memeluk lebih lama, tanpa alasan.
Karena aku sangat mengerti.
Orang tua tidak pernah meminta kita membalas semua pengorbanannya. Mereka hanya ingin kita hadir, sesering yang kita bisa. Mereka hanya ingin kita pulang, meski sebentar. Mereka hanya ingin kita baik baik saja menjalani kehidupan, meski mereka sendiri sedang belajar menua.
Sedikit lebih lambat. Sedikit lebih tua. Tapi tetap sama, dicintai, sepenuh itu.
Dan kalau suatu hari nanti garis garis itu makin banyak, langkah mereka makin pelan dan terbatas, aku ingin mereka tahu satu hal.
Aku tidak pernah benar benar pergi dari rumahnya. Aku sadar, cinta paling murni yang pernah kita terima, sedang berjalan menuju senja.
Dan tugas kita sederhana.
Menemani mereka sampai matahari benar benar turun, dengan hati yang lembut, dengan waktu yang kita sisihkan, dengan pelukan yang jangan kita tunda, dengan kata kata indah yang jangan kamu hemat.
Karena mereka tidak pernah hemat mencintaimu.
🚨 JOINT FINLAND 🇫🇮 APPLICATION OPENS TOMORROW, 7TH JANUARY 2026.
You can move with your family straight up, even for a BSc program. No age limit too.
🇫🇮 Finland Joint MSc and BSc 2026.
📍Application timeline for English-taught programs:
▪︎ January 7th - January 21st, 2026.
📍Admission requirements:
▪︎ BSc Transcript,
▪︎ International passport,
▪︎ CV, IELTS/TOEFL (Some schools may waive this.)
📍Entrance Exam for BSc programs
-Pre-admission interview process for MSc programs.
📍For MSc, a CGPA of at least 2.88 is highly required.
📍Tuition Budget of €4,000 to €5,000+ for BSc and
€7,000 to €10,000+ for MSc, depending on the course.
📍Proof of Funds:
- Main applicant: €1,000 per month= €12,000 per year.
-Dependant: €700 per month= €8,400
- First Child: €500 = €6000
📍Example: A family of three (Father, Mother, and Child):- €12,000 + €8,400 + €6,000=€26,400.
The total POF needed for a family of three is €26,400…..
For more information, guidance, or assistance with the admission application, follow us on all our official platforms and also send us a DM:
Instagram: @japaconsults
Twitter: @Japaconsults_
WhatsApp: 08021244599
Email: [email protected]
Calls: +2349059942127
(Working hours: 9 am to 5 pm WAT, Monday to Friday ONLY)
Canadian schools are still open for 2026 resumption.
U15 schools give the most scholarships to International students.
Here’s the full list: 👇
1. University of Alberta – https://t.co/LuZmyxVBKS
2. University of British Columbia – https://t.co/K04YxCzusN
3. University of Calgary – https://t.co/AKpOK2fhK9
4. Dalhousie University – https://t.co/d2IPHgitmp
5. Université Laval – https://t.co/EMzqhwtZGa
6. University of Manitoba – https://t.co/sRAac9LjA9
7. McGill University – https://t.co/3hD05rqsxD
8. McMaster University – https://t.co/568tkmV9oY
9. Université de Montréal – https://t.co/AJyiUNW1ib
10. University of Ottawa – https://t.co/Xrk2wtz4DW
11. Queen’s University – https://t.co/k03yldVxme
12. University of Saskatchewan – https://t.co/J3jkpGBU1y
13. University of Toronto – https://t.co/gj0agosatC
14. University of Waterloo – https://t.co/Z1OuxNG2fC
15. Western University – https://t.co/gwt8DSPFIm
Research shows constant criticism rewires a child’s brain.
And the emotional stress shapes lifelong mental health.
Children raised in environments filled with constant criticism often develop a stress-response system that remains on high alert, even in the absence of actual threats.
This chronic activation of the fight-or-flight state interferes with a child’s ability to feel safe, calm, or emotionally grounded.
According to research from the Center on the Developing Child at Harvard University, persistent emotional stress in early life can alter brain architecture, leading to long-term issues with emotional regulation, anxiety, and attention. When everyday interactions are perceived as threatening, children may respond with hypervigilance, withdrawal, or emotional shutdown—defense mechanisms rooted in survival.
As these children grow, the expectation of judgment or harm becomes deeply ingrained in their nervous system, affecting their self-esteem and relationships. They may struggle to trust others or feel secure in social settings, constantly anticipating criticism or rejection. This state of chronic stress is known as "toxic stress," and it’s been linked to a range of lifelong impacts—from depression and learning difficulties to physical health problems. The findings underscore how emotionally unsafe environments can have a lasting effect on a child’s development, both psychologically and biologically.
Source:
The Center on the Developing Child at Harvard University. InBrief: The Impact of Early Adversity on Children's Development.
Dear Parents—your child doesn’t need to be the smartest in the class, the best on the field, or the most talented in the room.
But they do need to be teachable.
We’ve raised a generation that can Google every answer, but too many are forgetting how to listen, respect, and learn.
Being teachable isn’t about grades or intelligence—it’s about humility. It’s about realizing you don’t know everything and being willing to grow when someone tries to help you.
As parents, we don’t need to raise perfect kids.
We need to raise kids who can take feedback without falling apart.
Who can apologize.
Who can show respect even when they disagree.
Who can be corrected without becoming combative.
Because teachability will take them further than talent ever will.
The biggest medical scam:
ADHD.
It’s not a mental disorder, it’s a superpower in disguise.
Here’s how you turn ADHD into hyper-focus (backed by science):
I am on my way to create TedEd students talk for 12 to 17 years old children. If you are interested to join me as facilitators or if you have any students who can be a candidate, let me know!!
#TEDEdStudentsTalk#teachers#TedTalk
Do your little one’s art projects tend to devolve into a messy, muddy jumble of colors?
If so, fantastic! That’s exactly the point.
This week I’ve been unpacking play schemas - 9 common patterns that young children follow as they discover the world through play.
Today’s schema is transforming - which is all about exploring how things change.
On first glance, this little one might be making little more than a mess.
But he’s actually deeply engrossed in transformation play - exploring how colors mix and change as they are combined.
So before you write off paint and other materials as something your child isn’t quite ready to use “properly,” take a step back and consider this:
For young children the process IS the product.
Exploring how things transform when combined is “a masterpiece” unto itself - with each such experience an opportunity for your child to learn something new about the world.
There are steps you can take to mitigate the mess (@Crayola makes cool finger paints for bathtub walls that are actually soap, for example)… but sometimes it’s also important to remember that children themselves are washable.
And if they don’t come home from preschool occasionally covered in (child-safe, washable) paint - or evidence they’ve explored a mud puddle - you might need to find one better aligned with how young children learn.
Just dress them accordingly and chalk it all up to the allure of the transforming schema.
This little artist was shared to YT by bodytoss.
🗣️ Produce polished videos even faster with the help of AI. Add #Gemini to Google Vids ✨ to give educators access to gen AI tools that make producing, editing, and customizing videos quick and easy – no special skills needed! https://t.co/cPJt8CUbLO
10 years ago, #GoogleClassroom was born to help give teachers more time to teach and students more time to learn. Take a look back at our original Classroom announcement just to see how far we've come: https://t.co/D4jE29mPrA #HappyBirthdayClassroom
‘You can take away my arm or my leg and I will live,
But take away my spine and it's over’ - Ido Portal.
This highlights the importance of the spine.
Without it, we're doomed.
And to allow for optimal spine function, we need to move it regularly & precisely.
Here's how: