JUST IN: IRAN PAIRED EACH DELEGATION AT GRAND AYATOLLAH KHAMENEI'S FAREWELL CEREMONY WITH A POLITICALLY TARGETED VERSE FROM THE HOLY QURAN:
🇸🇦 Saudi Arabia received a verse about two armies meeting in battle, one believing, one not.
🇱🇧 Hezbollah was told "do not weaken or grieve you are superior."
🇱🇧 The Lebanese government received a verse about people refusing to sacrifice if asked.
🇵🇸 Hamas got a verse honoring men who fulfilled their covenant with God, "some have died, others are waiting."
🇾🇪 Houthis verse was about praising believers who fought without weakening.
🇶🇦 Qatar’s verse was about forgiveness and divine favor, read as a nod to its mediating role.
🇹🇷 Turkey got a verse elevating those who fight over those who "sit."
Mumpung lagi ada waktu buat ngayal justeru JPO Donat itu lebih diperlukan di Rasuna Said. Lokasinya di mana? di persimpangan Jl. Rasuna Said dan Jl. Satrio/Casablanca.
Saat ini tidak ada cara yang mudah untuk pejalan kaki buat nyebrang dari sisi barat ke timur, dari Satrio ke Casablanca
Visi simpelnya menyatukan Stasiun LRT Rasuna Said dan Kuningan, dan Jembatan Donat di tengah simpang dengan akses menuju gedung dan mall sampai ke Kuningan City (atau bahkan sampe Lotte). Mirip-mirip konsep R-Walknya di Bangkok
Ini kalau dibangun pasti trafficnya akan sangat tinggi :)
Finally ada peta yang jelas banget nunjukin Jakarta di masa lampau. Ada beberapa hal yang cukup menarik perhatian
1. Axis Jakarta di masa lampau (sebelum Sudirman-Thamrin) adalah Kramat Raya-Gunung Sahari (garis biru). Ini menghubungkan pusat kota dengan kota satelit Batavia masa itu, Meester Cornelis (sekarang Jatinegara)
2. Kebayoran Baru (kiri bawah) masih terpisah dari Jakarta dan belum terhubung Jl. Jenderal Sudirman, yang baru dibangun setelahnya
3. Kanal Banjir Barat yang sekarang deket kawasan TOD Dukuh Atas adalah batas pengembangan kota Batavia sebelum makin meluas ke selatan, sebelum ada Setiabudi, Bendungan Hilir, dll.
Jangan cuma diromantisasi, ayo kita bertanya:
"Di tengah Dukuh Atas yg menjadi tumpuan jutaan orang setiap hari, kok ada komplek bangunan dibiarkan kosong sementara komuter harus jalan ratusan meter?"
"Ketika triliunan dana masyarakat digunakan utk konektivitas Dukuh Atas, kok bisa pemilik properti ini ikut menikmati keberadaan infrastruktur dan akses di sampingnya tapi ongkang-ongkang membiarkan propertinya kosong?"
"Ketika jutaan warga terpaksa cari hunian yg masih terjangkau di pinggiran, kok bisa ada DUA bangunan puluhan lantai dibiarkan kosong?"
"Ketika org kizmin punya Mio karbu dua biji kena pajak progresif, kenapa properti gak ada pajak yg serupa, bisa ditimbun semaunya?"
Buat apa ada negara, kalau ketimpangan ini terus langgeng tanpa solusi
Jawaban buat pertanyaan zee sebenernya udah jelas, namanya Telkomsel. Operator paling gede, paling kaya, paling banyak pelanggan di negeri ini, yang paling pertama maju dan paling lantang soal masa aktif 28 hari, lalu dengan entengnya bilang ini semua demi kebiasaan pelanggan. Seakan-akan jutaan orang Indonesia ngantri minta jatah internetnya dipotong dua hari tiap bulan.
Indosat ikut nimbrung, XL katanya ikut di sebagian paket walau katanya mayoritas paketnya masih 30 hari. Tapi yang ngebuka pintunya Telkomsel, dan mereka ngebungkusnya pakai kata manis soal customer behaviour. Padahal lo ga butuh gelar ekonomi buat ngerti, ga ada satu pun pelanggan yang behaviour-nya pengen bayar lebih sering buat barang yang sama.
Mainnya halus, makanya jarang ada yang ngeh. Setahun ada 365 hari. Masa aktif 30 hari berarti lo beli 12 kali. Begitu jadi 28 hari, lo dipaksa beli 13 kali buat nutup tahun yang sama. Satu belanja ekstra, tiap tahun, dikali puluhan juta pelanggan. Simulasi IDN Times nyebut selisihnya bisa sekitar Rp100 ribu per orang per tahun, walau angkanya tergantung ke paket dan pola pakai, jadi cek lagi sesuai kasus lo. Kecil di kantong lo, tapi jadi gunung everest di laporan keuangan mereka.
Belum kelar di situ. Sisa kuota yang udah lo bayar bakal hangus begitu masa aktif lewat. Operator ngotot istilah hangus itu ga tepat, katanya yang lo beli cuma hak akses jaringan buat periode tertentu, dianalogiin kayak obat yang ada tanggal kadaluarsa. Tapi pas PLN diseret ke sidang, mereka jelasin token listrik ga pernah hangus, karena yang ngurangin saldo itu pemakaian, bukan jam dinding. Pertanyaannya, kenapa listrik bisa, internet enggak?
Soal hukum gw ga mau lebay, sampe detik ini belum ada putusan yang nyatain operator bersalah, karena perkaranya emang masih jalan. Yang nggugat bukan orang gede, cuman pengemudi ojol Didi Supandi dan kawan-kawan, plus sekelompok mahasiswa hukum, yang nilai kuota dihapus sepihak tanpa kompensasi adil itu nabrak hak atas harta benda di UUD 1945. Dan lo tau siapa yang pasang badan belain operator? Pemerintah sendiri, lewat Komdigi, yang bilang rollover atau refund bakal nambah beban biaya.
Jalannya berdarah-darah. Satu gugatan emang udah dipentalin MK pertengahan Mei 2026, tapi gugurnya gara-gara berkasnya dianggap kabur, bukan karena isunya kalah. Ibarat lamaran ditolak gara-gara formulirnya nggak lengkap, bukan gara-gara orangnya nggak layak, hakim bahkan belum sempet nimbang inti perkaranya. Tiga gugatan lain masih bertahan dan lagi diperiksa isinya. Di sidang, ada hakim yang nanya tajem ke operator, "kok kuota belum habis tapi udah hilang". Dari luar, YLKI ikut ndorong. Jadi tekanannya datang dari dua arah sekaligus.
Tapi apakah bisa menang?
Di Afrika Selatan, rakyatnya ngeluh soal hal yang sama persis bertahun-tahun, kalah terus, sampe akhirnya regulatornya nyerah dan maksa operator ngerollover otomatis kuota yang belum kepake mulai 2027. Bedanya, di sana yang ngalah duluan itu lembaga pengawasnya yang bikin aturan baru, bukan hakim lewat pengadilan. Di kita malah sebaliknya, lagi diperjuangkan lewat gugatan ke MK. Beda pintu masuk, jadi belum tentu hasilnya bakal sama.
Sejarah udah berkali-kali ngebuktiin, raksasa kayak gini tunduk bukan gara-gara digoyang orang gede. Tapi karena orang-orang biasa yang capek haknya dirampok diam-diam, lalu mutusin buat ga diem. Pertanyaannya tinggal satu, dia bakal menang, atau jadi tumbal yang namanya kita lupain begitu palu diketok?
After Avatar Aang ended the 100 years war due to Roku negligence, he created Republic City so all nations could live together, but here is what he didn’t realize, His good intentions became a problem for Korra:
— The rise of inequality in Republic City
Aang helped create Republic City so all nations could live together peacefully. But over time, non-benders began feeling oppressed by powerful benders, gangs, and political elites. That imbalance eventually fueled Amon and the Equalist movement in Book 1.
—The bloodbending crisis
Aang spared Yakone instead of fully eliminating the threat. Yakone later raised his sons, Amon and Tarrlok, in abuse and revenge, creating one of Korra’s biggest enemies.
—An overly centralized world order
After the Hundred Year War, Aang’s era focused heavily on stability and peace through institutions like Republic City and international cooperation. But that system became rigid and politically weak. By Korra’s time, corruption, class divides, and power struggles had built up beneath the surface.
—The Southern Water Tribe’s dependence
During Aang’s lifetime, the South became more connected to the modern world and somewhat dependent on Northern support and influence. That tension later exploded in the civil conflict manipulated by Unalaq.
—The spiritual disconnect of the modern age
Even though Aang deeply respected spirituality, the world became increasingly industrialized after his era. By Korra’s time, many people were disconnected from spirits and tradition, contributing to the chaos surrounding the Spirit World in Book 2.
—The imbalance caused by removing the Fire Nation threat
Aang succeeded in ending Fire Lord Ozai’s tyranny, but peace created a new kind of problem: rapid technological growth, nationalism, and ideological extremism. Instead of one obvious evil empire, Korra faced many smaller, more complex threats:
-Equality extremism (Amon)
-Spiritual extremism (Unalaq)
-Anarchism (Zaheer)
-Authoritarian nationalism (Kuvira)
That’s part of the theme of the Avatar cycle:
Each Avatar fixes the crisis of their own age, but the solution changes the world in ways the next Avatar has to deal with.
END 📌
Izinkan gw jelaskan satu per satu, dengan sabar, siapa dan apa yang sebetulnya biang keroknya.
Penyebab pertama adalah pajak yang tidak masuk akal.
Tiket pesawat domestik kena PPN 11%. Tiket internasional? Bebas PPN. DPR sendiri mengakui bahwa Indonesia adalah salah satu dari sedikit negara di dunia yang masih mengenakan PPN untuk tiket domestik. Mayoritas negara justru membebaskan pajak ini karena penerbangan dianggap sebagai layanan publik yang vital, seperti jalan tol yang harusnya bisa diakses semua orang.
Ilustrasinya begini. Tiket CGK ke Banda Aceh ada yang seharga Rp 2,894 juta, itu bukan semuanya masuk ke maskapai. Dari angka itu, sekitar Rp 443 ribu langsung lari sebelum maskapai dapat sepeser pun: Rp 269.588 buat PPN yang masuk kas negara, Rp 168.720 buat biaya layanan bandara, dan Rp 5.000 buat iuran asuransi wajib.
Sisanya baru ke maskapai, dan dari situ maskapai masih harus bayar avtur, sewa pesawat, gaji pilot, perawatan, dan semua biaya operasional lainnya.
Jadi lo sebagai penumpang domestik menanggung pajak 11% yang tidak dikenakan sama sekali ke penumpang internasional.
Dua orang naik pesawat dari Jakarta, satu ke Singapura satu ke Bali, yang ke Bali bayar pajak lebih banyak. Masuk akal dari mana?
Dan ini yang paling bikin geleng kepala soal respons pemerintah terhadap kenaikan avtur April 2026: Pemerintah menggelontorkan PPN DTP alias PPN Ditanggung Pemerintah sebesar Rp 2,6 triliun untuk dua bulan supaya kenaikan tiket "dibatasi" di angka 9 sampai 13 persen.
Yang mau gw tanyakan adalah: Duit Rp 2,6 triliun itu asalnya dari mana? Dari pajak lo juga. Jadi lo dipajaki lewat tiket pesawat, lalu pajaknya dipakai untuk mensubsidi harga tiket supaya lo mau naik pesawat lagi. Lingkaran yang sangat efisien untuk semua pihak kecuali lo.
Namanya Unanimity Project.
Yangchen mewarisi masalah Szeto yang abai sama tanggung jawabnya di wilayah lain.
Ini menyebabkan wilayah lain saling curiga satu sama lain. Mereka ambil kebijakan isolationism deh.
Tidak boleh ada migrasi dan tidak boleh ada perdagangan. Kecuali di 4 kota terpilih yang merupakan kota khusus perdagangan internasional.
Bin er, Jonduri, Port Tuugaq, dan Taku. Lokasinya di peta ini masing-masing ada di nomor 7, 35, 52, dan 70.
Di kota ini lahirlah kongsi dagang "Shangs". Mereka jad pengelola kota-kota ini. Tapi mereka korup mentok dan sangat menindas buruh. Ketika Yangchen mampir ke Bin-Er, dia lihat kondisi ini.
Takutlah Shangs ini. Mereka takut izin dagang mereka dicabut Earth Kingdom. Apalagi mereka ga diizinin punya militer.
Akhirnya mereka bikin human experiment ini biar punya senjata ngimbangin Avatar dan militer Earth Kingdom.
unpopular opinion:
mie sedaap lebih enak daripada indomie. indomie tuh overated, bumbunya kurang nendang. mie gorengnya sedaap juga lebih enak daripada indomie
@gramedia Jepang aja, dari gunung laut danau hutan dan kota semua iconic & aesthetic, gampang di akses, tiap ganti musim berasa ganti negara dan kerasa banget kaya lagi tinggal di dunia animasi Ghibli, semua backsound Joe Hisaishi juga kerasa cocok banget banget banget sama suasana apapun
Russia sold gas to the EUat €15–25 per MWh. It sold oil at around €65 per barrel.
We cut that off as Russia invaded Ukraine.
As a replacement, the US sells us gas at around €50 per MWh while their actions mean we pay for oil at €140 per barrel.
As the US is involved in invading Palestine, Syria, Lebanon and Iran.
Someone, justify that.
Padahal pas 2024 Superindo udah pernah bikin label indikator kandungan gula kaya gini. Cuma gatau kenapa tahun 2025 sampe sekarang itu label ga keliatan lagi.
Syukurnya sekarang label yg menkes ga cuma pake warna, tapi ada istilah A,B,C,D dan bakal diterapin di minuman siap saji juga.
Kita tuh butuh banget info pengingat kaya gini, karena keterangan nilai gizi di minuman kemasan tuh sering terabaikan, apalagi tulisannya ada di belakang plus kecil-kecil pula.
1. Korra didn't master Airbending pretty well.
2. Zaheer became perfect quickly in few weeks after Harmonic Convergence, so much so that he unlock Flight abilities.
3. Aang received his Airbending Tattoo at age 12, and very skillful in his craft.
4. Tagah. Despite being sealed for 5'000yrs, he Taught Aang other techniques, withheld a giant rock with Airbending, singlehandedly defeated Team Avatar without breaking a sweat. Tagah can't be subdued until Aang got back the staff.
In my opinion, With or without the Staff, Tagah is more Dangerous than Aang, Zaheer, and Korra put together.