@iqqqbalmu Wahh sama nihh pake LG TopLoad... Beli ini karena mesin yg 2 pintu pengeringnya diservis, tapi kok rasanya lebih enak pakai mesin yang 2 pintu? Pemutarnya lebih kuat dan bau dan kotoran yg nempel di pakaian lebih cepat hilang dibanding yg topload.
Ada temen gw yang kerja di kantor pusat kawasan Gatot Subroto.
Posisinya udah Director level, belasan tahun hidup di dunia corporate.
Tiba-tiba dia announce di townhall kecil tim:
Dia pindah ke Malang.
Resmi relokasi base kerja ke sana.
Alasannya kedengeran dewasa banget.
“Gw mau deket sama orang tua. Kerja tetap serius, tapi hidup nggak cuma soal meeting room dan traffic.”
Gaji dia di Jakarta 55 juta.
Take home sekitar 47 jutaan.
Semua orang mikir: aman lah, mau tinggal di mana juga tetap tajir.
Perusahaan approve.
Tapi ada satu kebijakan yang jarang dibahas detail:
Regional Pay Adjustment Scheme.
Intinya simpel:
Base salary dan allowance mengikuti indeks biaya hidup sesuai lokasi penugasan resmi.
Dia tanda tangan addendum digital sambil jalan ke meeting berikutnya.
Scroll. Klik. Done.
Bulan pertama resmi berkantor dari Malang, gaji masuk.
Take home: 31,2 juta.
Turun lumayan jauh.
Dia nggak ngamuk.
Cuma chat gw satu kalimat:
“Ini final ya? Bukan sementara?”
Gw sempat duduk bareng dia di Zoom hampir sejam, bongkar satu-satu breakdown dari HR.
Yang hilang:
• Big City Incentive 4 juta
• Executive transport allowance 3,5 juta
• Urban living premium 2,2 juta
Yang muncul:
• Regional adjustment buffer 1,5 juta
• Area operational support 900 ribu
Di Jakarta dulu pengeluarannya kira-kira begini:
• Apartemen pusat kota 16 juta
• Supir + operasional mobil 6 juta
• Lifestyle & networking event 8–10 juta
• Total bisa nyentuh 38–40 juta
Di Malang sekarang?
• Rumah dua lantai sewa tahunan kalau dibagi per bulan sekitar 7 juta
• Mobil tetap ada tapi tanpa supir, operasional 2 juta
• Makan enak, ngopi, hangout paling 3–4 juta
• Total sekitar 14–15 juta
Secara angka?
Sisa uangnya justru lebih longgar.
Tapi dia tetap merasa ada yang “lepas”.
Karena 55 juta itu bukan cuma soal cash flow.
Itu simbol.
Simbol bahwa dia main di liga elite ibu kota.
Simbol bahwa dia masuk ruangan dan orang otomatis respek.
Sekarang nominalnya turun.
Egonya ikut goyang.
Dia sempat bilang di telepon:
“Rasanya kayak downgrade ya?”
Gw jawab pelan:
“Downgrade itu kalau tanggung jawab lo dikurangin.
Ini cuma lokasi kerja yang berubah.”
Empat bulan berlalu.
Update terbaru?
Dia tiap pagi bisa sarapan sama orang tuanya.
Sore olahraga tanpa harus mikirin macet.
Weekend nggak lagi habis di mall, tapi ke gunung atau kebun apel.
Dan yang nggak disangka:
Dia mulai investasi waktu buat bikin advisory kecil untuk bisnis manufaktur lokal.
Fee per proyek 20–30 juta.
Sekarang sebulan bisa ambil satu atau dua proyek ringan.
Total penghasilan?
Balik lagi bahkan kadang lewat dari masa Jakarta.
Tapi yang paling beda bukan nominalnya.
Ekspresinya.
Waktu terakhir gw video call sama dia, dia bilang:
“Dulu gw takut kalau nggak di Jakarta, karier gw mengecil.
Ternyata yang mengecil cuma gengsi.
Yang membesar itu hidup.”
Yang berubah bukan cuma kota.
Tapi standar tentang apa itu “naik level”.
Tiga tahun ini, saya mengikuti perkembangan dunia. Terlebih dinamika global bulan-bulan terakhir ini.
Sebagai seseorang yang puluhan tahun memperhatikan dan mendalami geopolitik, perdamaian dan keamanan internasional, serta sejarah peperangan dari abad ke abad, terus terang saya khawatir. Cemas dan khawatir kalau sesuatu yang buruk akan terjadi. Cemas kalau dunia mengalami prahara besar. Apalagi kalau prahara besar itu adalah Perang Dunia Ketiga.
Sangat mungkin Perang Dunia Ketiga terjadi. Meskipun, saya tetap percaya hal yang sangat mengerikan ini bisa dicegah. Tapi, day by day, ruang dan waktu untuk mencegahnya menjadi semakin sempit. Situasi dunia menjelang terjadinya Perang Dunia Pertama (1914-1918) dan Perang Dunia Kedua (1939-1945) memiliki banyak kesamaan dengan situasi saat ini. Misalnya, munculnya pemimpin-pemimpin kuat yang haus perang, terbentuknya persekutuan negara yang saling berhadapan, pembangunan kekuatan militer besar-besaran termasuk penyiapan ekonomi dan mesin perangnya, serta geopolitik yang benar-benar panas. Sejarah juga mencatat, bahwa meskipun sudah ada tanda-tanda nyata bakal terjadinya perang besar, tetapi sepertinya kesadaran, kepedulian, dan langkah nyata untuk mencegah peperangan itu tidak terjadi. Mengapa?
Mungkin bangsa-bangsa sedunia tidak peduli, atau tidak berdaya, atau mungkin tidak mampu untuk mencegahnya. Secara pribadi saya berdoa kepada Tuhan, semoga mimpi buruk terjadinya perang dunia disertai penggunaan senjata nuklir itu tidak terjadi. Banyak studi yang mengatakan bahwa jika terjadi perang dunia, perang total dan perang nuklir, maka kehancuran dunia tak bisa dihindari. Korban jiwa bisa mencapai lebih dari 5 milyar manusia. Tidak ada peradaban yang tersisa dan musnahnya harapan manusia.
Tapi tidak cukup dengan doa satu, dua orang. Andaikata 8,3 milyar manusia penghuni bumi juga berdoa secara khusyuk, Tuhan tak begitu saja mengabulkan kalau manusia dan bangsa-bangsa sedunia tidak bekerja dan berupaya untuk menyelamatkan dunianya.
Sesempit apa pun, masih ada waktu dan cara untuk menyelamatkan bumi dan dunia kita. Mari kita berbicara dan berupaya. Ingat kata-kata Edmund Burke dan Albert Einstein yang intinya mengatakan bahwa kehancuran dunia bukan disebabkan oleh orang-orang jahat, tetapi karena orang-orang baik membiarkan orang-orang jahat menghancurkan dunia. Atau juga, kalau yang baik-baik diam, yang jahat akan menang.
Saran dan usulan saya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengambil inisiatif mengundang para pemimpin dunia untuk berembuk di Persidangan Umum PBB yang sifatnya darurat (Emergency UN General Assembly). Agendanya adalah langkah-langkah nyata untuk mencegah terjadinya krisis dunia dalam skala yang besar, termasuk kemungkinan terjadinya perang dunia yang baru.
Saya tahu, boleh dikata saat ini PBB tidak berdaya dan tidak berkuasa. Tetapi, janganlah sejarah mencatat PBB melakukan pembiaran dan juga doing nothing.
Mungkin saja, seruan para pemimpin sedunia itu “bagai berseru di padang pasir”. Artinya, tak akan diindahkan. Tetapi, mungkin juga itu awal dari kesadaran, kehendak, dan langkah-langkah nyata dari bangsa-bangsa sedunia untuk menyelamatkan dunia yang kita cintai ini. Ingat, if there is a will, there is a way. *SBY*
All Paid Courses — 100% FREE (Part 3)
I'm giving you access to 81+ free courses. 👌👇
1. Social Media Marketing
2. Android App Development
3. Facebook Ads
4. SEO
5. Google Ads
6. Content Writing
7. Graphic Designing
8. Video Editing
9. Web Development
10. Hacking and more with 73+ courses.
To get, just:
- Comment "SEND"
- Like & Retweet
- Follow me (so that I can DM)
All Paid Courses — 100% FREE (Part 1)
I'm giving you access to 81+ free courses. 👌👇
1. Social Media Marketing
2. Android App Development
3. Facebook Ads
4. SEO
5. Google Ads
6. Content Writing
7. Graphic Designing
8. Video Editing
9. Web Development
10. Hacking and more with 73+ courses.
To get, just:
- Comment "ON"
- Like & Retweet
- Follow me (so that I can DM)
Kalau pengen tahu tentang vitacid, cek disini ya.. Aku lagi nyoba ngelayer vitacid sama viva whitening cream, disuruh sama followers ku di aplikasi sebelah wkwkw 🤣😅 ternyata banyak yg pake juga ya hehe
https://t.co/97DDLtTlXu
@Simemaki Susi Pudjiastuti cuma lulusan SMP tapi dia jujur ga bohongi rakyat, kejujuran itu lebih penting daripada ilmu yg tinggi..ini udah berilmu ngga pinter ga,cerdas ga suka bohong iya ,parah dah..