Buset.....Mayor Laut Faisal Mulia mengedarkan sabu dg pesawat militer jenis CN 235 bernomor lambung P-3085, milik skadron udara 800 Puspenerbal.
Serius ini Ndan
Kapten.. beli sabu.. dari mayor.. dikirim lewat.. pesawat TNI.
Sumpah, gua pikir ini cerita film 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Buat kalian yang kena kasus narkoba, santai aja.. kalian ga seancur itu kok 🤣🤣🤣🤣
Kembali Terjadi Polisi Membunuh Polisi, AWALNYA Kapolres Bilang Brigadir Eko Tew4s karena Terjatuh di Kosan. Usai Viral dan Ditangani Polda, Ternyata Dihabisi 5 Polisi lainnya. Peristiwa penganiayaan yang menewaskan Brigadir Eko terjadi pada hari Sabtu, 18 Juli 2026.
Tentara Thailand itu hobi berpolitik, samalah kek Myanmar.
Hobi intervensi dan kudeta pemerintahan sipil.
Sudah jadi rahasia umum di Thailand. Setiap ada PM yang “mengganggu kepentingan ekonomi raja”.
Militer Thailand akan turun untuk intervensi.
Tercatat sudah ada 22 kali percobaan kudeta militer di Thailand dan 13 kali berhasil.
Jadi karena militernya suka berpolitik.. kita ga usah heran sama statement PM Thailand ini.
Apalagi, dia memang dekat dengan militer.
Foto: Wikimedia
klarifikasi polisi soal anton timbang bisa hadir di istana:
- padahal dia lagi jadi tersangka kasus tambang nikel
- polisi bilang anton gak ditahan
- karena dia kooperatif
- dan selalu hadir tiap dipanggil
- bareskrim polri lewat brigjen m irhamni bilang kasusnya masih jalan
- berkas perkaranya udah dinyatain lengkap alias p21
Perwira polisi diduga menerobos lampu merah hingga menabrak sepeda motor dan menyebabkan seorang balita meninggal dunia.
Kecelakaan terjadi di perempatan Jalan Ahmad Yani–MT Haryono, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, Rabu (5/8/2026).
Polisi menyatakan pengemudi mobil merupakan perwira Polres Bone yang kini telah diamankan.
🎥:Facebook/An Ju
Penulis: Abdul Haq, Aloysius Gonsaga AE
Keratif: Muchammad Chadziq Hanggeni Utomo
Produser: Elizabeth Ayudya
#Kecelakaan #Polisi #Read
Polisi Tukar Barang Bukti Emas Asli Seberat 360 Gram Milik Korban Dengan Yang Palsu, Polisi: "Emas Yang Asli Sudah Hilang, Susah Ditemukan, Korban Harus Ikhlas.
Misteri hilangnya logam mulia milik Ahmad Fadil Mainaka terus bergulir di meja penyidik Sat Reskrim Polres Baubau
••
Tahun 2007 terjadi satu peristiwa paling bersejarah di Maluku, sekaligus paling memalukan bagi Gubernur Maluku saat itu.
Tidak pernah ada yang menyangka sekelompok orang dari gerakan separatis Republik Maluku Selatan berhasil menembus penjagaan ketat, lalu membawakan Tarian Perang Cakalele sambil mengibarkan bendera Benang Raja. Persis di depan Presiden, Ibu Negara, para menteri, gubernur, dan seluruh undangan yang hadir.
Begini ceritanya.
Semuanya bermula sebulan sebelumnya, di Desa Aboru, Pulau Haruku, Maluku. Sekelompok pemuda berkumpul diam-diam. Mereka latihan Tarian Cakalele berulang kali. Tombak dan parang mereka buat dari kayu.
Yang memimpin seorang guru. Johan Teterisa, kepala SD Negeri 1 Aboru, 45 tahun, ayah dari tiga anak. Bersama pemuda-pemuda kampungnya, ia menyiapkan satu hal untuk ditunjukkan di hadapan Presiden.
Hari itu tiba pada 29 Juni 2007, di Lapangan Merdeka, Ambon. Hujan turun deras.
Rombongan penari bertelanjang dada itu berjalan melewati polsek dan kantor kejaksaan tinggi. Tidak ada satu pun yang mencegat. Mereka terus masuk sampai ring 1 pengamanan Presiden.
Musik mulai. Mereka menari.
Lalu di tengah tarian, kain besar itu terbentang. Benang Raja berkibar di depan mata SBY.
Paspampres langsung bergerak. Johan Teterisa ditangkap sambil masih menari. Sebagian penari lari, tujuh orang tertangkap TNI. Malam itu polisi menciduk puluhan orang lagi.
Ia dibawa ke markas Densus 88 di Tantui. Ia mengaku dipukuli sekitar dua belas jam sehari selama sebelas hari, dengan batang besi dan batu.
April 2008, PN Ambon memvonisnya seumur hidup. Jaksa sendiri hanya menuntut 15 tahun. Sembilan belas penari lain dihukum 10 sampai 20 tahun.
Mereka lalu dipindah ke penjara di Jawa dan Nusakambangan, ribuan kilometer dari kampung. Keluarga hampir mustahil menjenguk.
Di Aboru, Martha Sinay membesarkan tiga anak sendirian. Mengangkat batu, mengangkat pasir, berkebun, apa saja supaya anaknya tetap sekolah.
Hukuman Johan Teterisa akhirnya dipotong jadi 15 tahun. Ia meninggal pada 4 Desember 2019.
Gambar hanya ilustrasi yang dibuat menggunakan AI.