BREAKING!
Banyak hakim disandera kasus zarof ricar oleh jampidsus febrie
Makanya Tom Lembong dan Nadiem Makarim begitu mudahnya divonis bersalah meski fakta persidangan jelas2 menunjukkan bahwa mereka tidak bersalah
Di tengah sengitnya perseteruan dua institusi ini, muncul satu nama warga sipil yang disebut menjadi kunci penting, yaitu Feri Yanto Hongkirwang, atau yang lebih dikenal di lingkaran elite dengan nama Feri Boboho.
Perjalanan hidup Feri terbilang unik. Pengusaha kuliner asal Luwuk, Sulawesi Tengah, ini merintis nasib di Jakarta benar-benar dari bawah. Ia memulai karier sebagai staf penjualan kipas angin biasa, lalu perlahan masuk ke lingkungan korporasi hingga menjadi staf hukum di sebuah perusahaan properti besar. Selain dikenal lewat bisnis kulinernya, Feri juga memiliki hobi mahal di dunia otomotif.
Ia dikenal sebagai pendiri sekaligus promotor ajang balap mobil Japan Super Touring Championship atau GSTC yang rutin digelar di Sirkuit Sentul. Dari dunia balap inilah Feri diduga berhasil membuka jalan pergaulan dan memperoleh akses ke lingkaran elite pejabat Kejaksaan Agung. Namun, kedekatan itu disebut menyimpan sisi gelap. Hal ini pernah disorot oleh mantan personel Badan Intelijen Negara atau BIN, Kolonel Purnawirawan Sri Raja Sascandra.
Feri Boboho disinyalir berperan sebagai orang dalam, bahkan disebut sebagai tangan kanan Jampidsus. Ia diduga menjalankan peran ganda yang sangat sensitif, yaitu sebagai makelar kasus alias markus yang mengatur perkara, sekaligus sebagai penagih utang atau debt collector untuk kasus-kasus yang sedang berjalan di Gedung Bundar Kejaksaan Agung.
Lembaga pengawas Indonesia Police Watch atau IPW bahkan mengendus bahwa tugas utama Feri adalah mengamankan kepentingan para pengusaha swasta yang perkaranya sedang diperiksa oleh Jampidsus. Salah satunya disebut berkaitan dengan kasus besar yang dikenal sebagai perkara Tankian. Suhu politik yang makin panas ini akhirnya meledak menjadi benturan fisik di lapangan pada 25 Juli 2025.
Sore itu, di Bogor Cafe yang berada di dalam Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, seorang anggota Densus 88 Polri bernama Briptu Faisal Faizurrahman sedang menjalankan tugas rahasia untuk memantau gerak-gerik Feri Boboho. Namun, penyamaran Faisal terbongkar. Feri menyadari dirinya sedang diintai polisi, tetapi ia tidak panik.
Ia justru langsung memanfaatkan jaringan teleponnya dan menghubungi relasi perwira tinggi militer yang ia kenal. Dalam waktu singkat, sejumlah personel dari Badan Intelijen Strategis atau BAIS TNI tiba di lokasi atas permintaan Feri. Para prajurit militer itu disebut bergerak agresif. Mereka menyergap Briptu Faisal, merampas dan merusak telepon genggamnya agar bukti-bukti di dalamnya hilang, lalu membawanya pergi secara paksa untuk diinterogasi.
Insiden penyekapan dan kekerasan terhadap anggota kepolisian ini jelas memicu kemarahan besar di internal Polri. Polisi langsung bergerak cepat untuk membalas perlakuan tersebut. Hanya berselang tiga hari, tepatnya pada 28 Juli 2025, polisi resmi menangkap Feri Boboho.
Penangkapan Feri sebenarnya disebut dirancang oleh penyidik kepolisian sebagai pintu masuk strategis untuk melakukan penggeledahan besar-besaran di rumah pribadi Jampidsus, Febri Ardiansyah. Tujuannya untuk mencari bukti keterkaitan yang lebih dalam. Namun, rencana serangan pemungkas polisi itu gagal total di lapangan.
Begitu tim kepolisian bergerak menuju kediaman Febri, rumah sang Jaksa Agung Muda ternyata sudah dijaga ketat dan dibentengi pasukan bersenjata lengkap dari TNI. Benteng hidup militer itu memaksa polisi mundur. Dari titik itulah, misteri perseteruan dua lembaga ini semakin gelap, semakin panas, dan hingga kini masih menyisakan ketegangan tajam di bawah permukaan.
BREAKING NEWS
Pendiri Century Properties Group, Tan Kian telah diamankan polisi di kediamannya
yang berada di lantai 31 Apartemen Pacific Place Residence, Jakarta
Tan Kian Diduga ada kaitan nya dengan kasus yang dialami Ex Jampidsus Febrie Adriansyah
Aset Properti Mewah Milik/ Tan Kian yang lgi diperiksa:
1. Pacific Place Mall
2. The Ritz-Carlton Jakarta Mega Kuningan
3. The Ritz-Carlton Jakarta Pacific Place
4. The Ritz-Carlton Residences Pacific Place
5. JW Marriott Hotel Jakarta
6. Millennium Centennial Center
7. Sahid Sudirman Center
8. Plaza Mutiara
9. Pacific Place Office Tower
10. Apartemen Syailendra
11. Apartemen South Hills
12. The Capital Residence
13. Sequis Tower
14. One Pacific Place
15. Sailendra Executive Suites
16. Gedung Dua Mutiara
17. Kuningan E-Center
18. Mega Kuningan Kavling E.1.1
19. Mega Kuningan Kavling E.1.2
20. Sudirman Kavling 25
21. masih banyak gk muat
estimasi total nilai 20 aset tersebut berkisar sekitar Rp100 triliun (dengan rentang sekitar Rp80–150 triliun)