Hubungan Yahudi & Islam sering dibayangkan serba seram dan berdarah-darah. Padahal ada gambaran lain yang memperlihatkan sangat bisa, bahkan sudah biasa, jika komunitas Yahudi dan Muslim hidup bersama dalam damai, tanpa binasa-membinasai.
https://t.co/scQTVl8ex4
Kamu tau gk?
Di Singapura, AQUA (600 ml) harganya 15 ribu 💀
terlihat lebih mahal tapi kalau kita lihat lebih detail:
🇸🇬 Singapura
- Gaji rata" = 70 juta
- Harga AQUA = 15 ribu
Maka, dengan gaji di Singapura bisa beli 4.785 botol
🇮🇩 Indonesia
- Gaji rata" = 3,3 juta
- Harga AQUA = 4 ribu
Maka, dengan gaji di Indonesia CUMAN bisa membeli 825 botol
Banyak yang bilang,
"Gaji di Singapura memang tinggi, tapi biaya hidupnya juga tinggi."
Padahal, di Indonesia malah lebih lucu
Biaya hidupnya tetap terasa mahal, tapi pendapatan masyarakatnya jauh lebih rendah
bayinya umur 3 bulan. Nangis 4 jam nonstop.
Sudah disusui. Sudah digendong. Sudah diayun. Sudah dinyanyiin.
Tetap nangis.
Bidan bilang kolik. Tetangga bilang "bayi emang gitu." Ibunyau bilang kerokan.
Tapi ada satu hal yang NGGAK ada yang periksa.
Kalau telat 6 jam, anaknyau bisa kehilangan jari kakinya.
Itu terjadi di hari ke-93 anaknya lahir.
Sore hari, jam 4. Tiba-tiba nangis kenceng banget. Bukan nangis biasa, ini nangis sampai mukanya merah, badannya kaku.
Istrinya baru selesai mandi. Rambut masih basah, belum diikat.
Dia langsung gendong. Kasih ASI. Ganti popok. Cek suhu 36,8°C, normal.
Bayi tetap nangis.
Jam 5. Jam 6. Jam 7.
Masih. Nangis.
SEMUA BILANG KOLIK
Dia telepon bidan. Jawabannya: "Kemungkinan kolik, Pak. Bayi umur 3 bulan memang sering. Coba pijat perutnya searah jarum jam, kasih kehangatan."
Dia coba. Nggak berhasil.
Ibunya datang. "Masuk angin itu. Kerokin pake bawang merah."
dicoba lagi. Nggak berhasil.
Google: "Kolik bayi normal, biasanya terjadi sore-malam, berlangsung 3 jam atau lebih."
Semua jawaban mengarah ke satu hal: kolik. Normal. Sabar aja.
Dan dia hampir percaya.
SATU HAL YANG NGGAK DICEK
Jam 8 malam. Sudah 4 jam.
Istrinya nangis juga. Karena capek, karena bingung, karena nggak bisa bikin anaknya berhenti nangis.
dia ambil keputusan: bawa ke UGD.
Di UGD, dokter jaga periksa standar , suhu, THT, perut. Semua normal.
"Coba lepas kaus kakinya, Pak."
dia ku lepas.
Dan di jari kelingking kaki kanan, ada sehelai rambut istrinya yang melilit SANGAT kencang sampai jarinya bengkak dan mulai membiru.
Rambut rontok yang jatuh ke dalam kaus kaki.
Dokter bilang: "Ini namanya Hair Tourniquet Syndrome. Sehelai rambut melilit jari bayi dan memotong aliran darah."
Fakta yang aku baru tahu malam itu:
→ Paling sering terjadi di usia 3–5 bulan, tepat di masa rambut ibu rontok deras pasca melahirkan → Bisa melilit jari tangan, jari kaki, bahkan kelamin bayi → Kalau telat ditangani lebih dari 6 jam → kerusakan saraf, jaringan mati, dan bisa berujung amputasi
Anaknya sudah 4 jam.
2 jam lagi dan ceritanya bisa sangat berbeda
Dokter mencoba lepas rambut itu dengan pinset. Tapi rambutnya sudah masuk ke dalam alur kulit yang bengkak , nggak kelihatan.
Akhirnya pakai krim penghilang rambut (depilatory cream) yang dioleskan tipis ke area yang melilit. Rambut larut dalam 10 menit.
Jari anaknya perlahan kembali ke warna normal.
Tangisnya berhenti.
Dalam 10 menit. Setelah 4 jam.
Bukan kolik. Bukan masuk angin. Bukan rewel biasa.
Satu helai rambut.
Malam itu dia nggak bisa tidur.
Bukan karena bayinya nangis — dia sudah tidur pulas.
Tapi karena dia mikir:
Kalau dia percaya "kolik biasa" dan nunggu sampai besok pagi?
4 jam → 12 jam → jari membiru → jaringan mati.
Dan semua orang — bidan, ibunya, Google — bilang normal.
Semua benar secara umum. Kolik memang umum (40% bayi Indonesia mengalaminya). Tapi malam itu, anaknya bukan kolik.
Dan satu-satunya alasan kami tahu adalah karena kami MEMUTUSKAN untuk bawa ke UGD.
Ini bukan cerita anti-kolik. Kolik itu nyata dan umum.
Tapi ini yang perlu setiap Bapak tahu:
Tangisan bayi itu satu-satunya cara mereka bilang ada yang salah.
Mereka nggak bisa nunjuk jari yang sakit. Nggak bisa bilang "Pak, ini perih." Yang bisa mereka lakukan cuma NANGIS.
Bedanya: Bapak yang punya CHECKLIST vs Bapak yang cuma ikut kata orang.
Checklist sederhana sebelum menyimpulkan "kolik biasa":
✅ Suhu demam nggak?
✅ Popok ruam, iritasi?
✅ Jari tangan & kaki, ada yang melilit? Bengkak? Warna berubah?
✅ Perut, keras, kembung?
✅ Telinga , tarik-tarik telinga? (bisa tanda infeksi)
✅ Mulut ,sariawan, gusi bengkak?
2 menit. 6 titik pemeriksaan. Bisa menyelamatkan jari. Bisa menyelamatkan nyawa.
Pak, rambut rontok istri pasca melahirkan itu BANYAK BANGET.
Di bantal, di kasur, di baju, di lantai & bisa masuk ke kaus kaki, sarung tangan, bahkan popok bayi tanpa kita sadar
Abdul Samad, 67 tahun, pedagang soto.
Kerja malam hari, dorong gerobak di pinggir jalan.
Jam 02.00 WIB ditabrak pengemudi mabuk yang sambil ambil HP dari lantai mobil.
Meninggal dunia.
Putusan Pengadilan Negeri Surabaya, 30 Juni 2026:Terdakwa: 8 bulan penjara.
Pertimbangan hakim yang meringankan:
sudah damai,
bayar santunan Rp 75 juta,
sopan di persidangan,
belum pernah dihukum.
Mabuk.
Jam 2 malam.
Sambil ambil HP.
Tabrak orang yang lagi kerja.
Orang itu meninggal.
Hukumannya: 8 bulan , lebih ringan dari tuntutan jaksa 9 bulan.
Nyawa pak Abdul Samad dihargai kurang dari setahun dan Rp 75 juta.
Di negara ini, jadi korban itu mahal.
Jadi pelaku, murah.
Menkes bilang ke prajurit TNI-Polri di Nusakambangan:
"Sehebat-hebatnya yang meninggal tertembak, kebacok, ketusuk, jauh lebih sedikit daripada stroke, jantung. Percaya sama saya."
Oke, gue percaya.
Tapi justru itu yang bikin aneh.
Tiap tahun negara gelontorin puluhan triliun buat jet tempur, kapal perang, drone canggih , alasan resminya: demi nyawa prajurit.
Tapi pembunuh nomor satu prajurit itu ternyata bukan musuh di medan tempur.
Pembunuhnya kolesterol, tensi, gula darah , penyakit yang harusnya bisa dicegah sama gaji layak, jam kerja manusiawi, dan akses kesehatan rutin yang bukan modal CKG kalau ulang tahun doang.
Menhan sendiri udah ngaku: gaji prajurit kecil karena duitnya "harus" ke alutsista dulu.
Pertanyaannya simpel , kalau ternyata musuh terbesar prajurit kita itu duduk di kantin, bukan di garis depan, kenapa anggaran kesejahteraan & kesehatan mereka yang selalu ngantre paling belakang?
🤔
Luis Suarez membandingkan situasi Julian Alvarez di Atletico Madrid dengan apa yang dialaminya di Liverpool:
“Saya menghadapi situasi yang sama ketika saya di Liverpool, pada tahun 2013, saat saya mengumumkan bahwa saya ingin pergi ke Arsenal.
Kapten tim, Gerrard, datang ke saya. Arsenal saat itu berada di Liga Champions, sementara Liverpool tidak, dan saya ingin pergi karena saya ingin bermain di kompetisi itu. Gerrard meyakinkan saya untuk tetap tinggal, sambil berkata, 'Kamu tidak bisa pergi ke Arsenal tahun ini; jika kamu punya musim yang hebat, dan kami akan meraihnya, dengan pelatih, klub, dan semua orang yang mendukungmu, kamu bisa pergi ke Barcelona, Real Madrid, Bayern Munich, atau ke mana pun yang kamu inginkan. Pilihan ada di tanganmu, tapi untuk tahun ini, tinggallah di sini.'
Dia berhasil meyakinkan saya. Saat itu saya meminta maaf secara publik karena komentar saya sebelumnya tidak tepat; saya mendedikasikan diri sepenuhnya untuk Liverpool, dan dalam dua atau tiga pertandingan, para penggemar sudah mencintaiku. Itu menjadi musim terbaik saya di klub."
(via El Larguero)
@keluhkesahkonoh Kaya pernah kena nih gue. Modusnya ke semarang, tapi banyak yg kena juga ke bandung. Lupa dah ini orang sama apa bukan ya. Modus ya ilang hape sama laptop tp ada sisa hape game aja katanya
Listrik mati —> Pasang panel surya sendiri
Air mati —> Ambil air tanah sendiri
Sampah —> Disuruh kelola sendiri
Jalan rusak —> Warga ngaspal sendiri
Tapi saat coba dilakukan rakyat,
Pasang panel surya -> kena pajak harus izin Karna matahari punya pemerintah ama partai
Air tanah bor sumur -> kena pajak harus izin Karna tanah punya pemerintah ama partai
Kelola sampah -> kena pajak gabisa kelola sendiri
Jalan rusak -> gaboleh benerin sendiri, bukan wewenang rakyat.
KAN ANJEMM....
Bapak-bapak yang dipanggil "ndan" viral ini secara kebetulan satu pace dan barengan terus sampe finish. Jadi tau beberapa kali marshall ngasih tau yang ga pake bib ga boleh dijalur lari.
Abis finish juga tlp seseorang dan bilang pengawalnya dicegat ga boleh lewat 😃 (ga maksud nguping, tapi gimana kan kdengeran)
Selain itu juga aku mendengar hal-hal lain lainnya 😆
Udah feeling bakal viral. Bener aja 😂
Sumber: thread prangginezha
Maksud saya, gini lho cara yang benar kalo emang harus bawa ajudan di event race ya pak Jenderal Bintang satuh yang tiketnya undangan dari Mandiri.
Pak @ganjarpranowo setiap event lari selalu memastikan ajudan/fotographernya punya BIB. Bahkan nomor BIBnya ga jauh, artinya Pak Ganjar emang seniat itu mendaftarkan ajudannya jauh-jauh hari agar dapat BIB.
Apalagi kalo ngaku dapat jatah dari Mandiri, kan bisa direquest tambahan 1 slot untuk pengawal. Ahhh beda kelas emang...!
Gua pernah lihat orang kaya buka kado, ternyata isinya adalah iPhone.
Sepertinya harganya puluhan juta.
Busettt.
Tapi si orang yang dikasih langsung nelpon ke yang pemberi.
"Saya ga bisa terima gift ini, nanti saya akan berhutang sesuatu padamu"
Setelah dipikir, bener juga nih orang. Jatohnya bisa jadi dia nerima itu karena si pemberi ada maunya.
Mungkin ga sih orang ngasih sesuatu tapi bener bener ngasih aja?
Selain ke suami istri ya tentunya.
Ini adalah debat capres - cawapres 23 Desember 2023 silam. Hanya selisih satu tahun sebelum ribuan kubangan lumpur (espepege) dibangun, dan insentif 6jt/hari secara serampangan masuk ke rekening-rekening babi yang serakah.
Nampak wapres kebanggaan kalian ini menyebut diksi-diksi yang sama sekali tak berkaitan dengan proyek embege ketika saat ini sudah satu setengah tahun berjalan. Warteg? Usaha-usaha katering? Ibu-ibu masak bersama?
Inilah potret rezim ini. Mereka lantang teriak ingin melakukan tugas mulia dengan melahirkan program ini dan itu, tetapi perencanaanya 0 (NOL) besar.
Gak usah heran kalau KDMP juga sudah menghabiskan dana sekian ratus milyar untuk pembangunan gerai fisik, ujian seleksi manajer, menggandeng parjo-parjo pengangguran, tetapi banyak hal dasar nan fundamentalnya yang belum keurus.
Rezim sampah!
Sekitar dua tahun setelah lulus SMA, saya pernah nganggur berat, cari kerjaan susah betul. Tiap pekan sudah rutin beli koran KR sabtu khusus buat cari lowongan kerja, tetep ga dapet-dapet. Susah tembus. Sekalinya dapet ternyata kena tipu (Daftar jadi admin tapi tesnya disuruh jual tuxedo).
Ga enak sama orang tua, akhirnya saya ngekos di daerah Jalan Godean. Cari indekos yang paling murah. Sengaja ngekos biar nggak tinggal di rumah.
Saya terpaksa bohong sama orang tua, bilang kalau saya sudah kerja, padahal belum. Sekadar buat ngayem-ayemi bapak dan ibu.
Selama ngekos, ongkos hidup ditanggung dari hasil nge-dropship jualan kaos online yang hasilnya tidak tentu. Kadang sehari dapat pembeli satu, kadang nggak dapat sama sekali.
Nggak punya laptop, jualan full dari browsing di warnet deket kos, sengaja pilih happy hour pukul 01.00 sampai subuh biar murah.
Hidup harus ngirit setengah mati, sehari cuma makan dua bungkus nasi kucing dan dua potong tempe goreng, beli dari angkringan. Hidup benar-benar penuh dengan kepayahan.
Satu-satunya hiburan cuma nonton tayangan Upin-Ipin di tivi portabel hitam putih yang dulu saya bawa buat hiburan di kos.
Nangis? Tentu saja sering. Kelewat sering. Air mataku api.
Dan karena pengalaman itu, saya tak pernah berani ngecengin pengangguran, sebab saya tak tahu, ikhtiar apa saja yang sudah mereka lakukan agar tidak nganggur.