Ekonomi kita terpuruk, krena tata kelola ekonomi kita tdk bagus. Banyak Pejabat yg tdk kompeten di bidangnya. Koordinasi tumpang tindih saking gemuknya. Pemimpin yg sering salah ucap dan data. Klop sdh.....
@Hidupsebagai62 Adduuh....
Bisa gak sih presiden kita ini gak usah pidato2 lagi ? Kalaupun pidato, baca teks saja lah. Bahaya banget lho isinya.
Minta anggaran 5 T, dikasi 10 T. Sdh gitu bilang dirinya gagah. Parah sih ini min @Gerindra.
Guys, ada pidato dari SBY yang menurut gue paling relevan dengan kondisi Indonesia sekarang dan paling terasa seperti sindiran halus yang ditujukan kepada pemerintahan yang sedang berjalan.
SBY berbicara di forum internasional tentang bagaimana Indonesia bertahan dari krisis 2008.
Dan setiap kalimatnya kalau dibaca dengan cermat adalah perbandingan diam-diam dengan kondisi hari ini yang jauh berbeda.
Pertama SBY langsung menyatakan dunia sekarang tidak baik-baik saja:
Perubahan iklim bukan lagi prediksi jauh sudah jadi bencana nyata setiap hari. Ekonomi global terpecah belah. Perdagangan tidak lagi didorong efisiensi tapi geopolitik.
Dan tekanan keuangan negara meningkat di mana-mana banyak negara berkembang menghabiskan lebih banyak untuk cicilan utang sementara kebutuhan pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur terus naik.
Ini bukan deskripsi abstrak tentang dunia di luar sana. Ini adalah potret Indonesia sekarang hampir kata per kata.
Dan ini pelajaran 2008 yang paling penting:
Ketika krisis keuangan global 2008 melanda Indonesia tidak kebal. Tapi Indonesia selamat.
SBY menyebut empat hal yang membuatnya bisa bertahan:
Menjaga kepercayaan.
Kehati-hatian fiskal.
Menjaga daya beli domestik.
Koordinasi kebijakan yang baik.
cukup 4 hal sederhana itu saja
tidak ada program aneh aneh
tida ada program populis ala ala soekarno
Lalu dia menambahkan satu kalimat yang menurut gue paling berat maknanya:
"Di masa ketidakpastian pasar tidak hanya mendengarkan angka.
Mereka mendengarkan kualitas tata kelola."
Ini kalimat yang sangat sederhana tapi sangat dalam. Investor asing dan lokal tidak hanya melihat angka pertumbuhan 5 persen seksekian.
Mereka melihat apakah kebijakan yang diumumkan hari ini akan masih berlaku besok.
Mereka melihat apakah data yang disampaikan pemerintah bisa dipercaya.
Mereka melihat apakah pemimpinnya benar-benar memahami masalah yang sedang dihadapi rakyatnya.
Dan ketika presiden bilang dolar tidak mempengaruhi orang desa kepercayaan itu runtuh.
Tidak hanya di mata investor asing.
Tapi di mata rakyat sendiri.
Dan ini tentang tiga fondasi yang SBY sebut sebagai syarat pembangunan yang berkelanjutan:
Fondasi pertama: kebijakan yang jelas dan konsisten.
Kebijakan harus memberikan arah yang jelas dan stabil untuk jangka panjang.
Ketidakpastian kebijakan itu mahal menunda investasi, melemahkan kepercayaan, membuat semua proses transformasi makin sulit.
Dan yang paling penting:
kebijakan harus kredibel. Kredibilitas datang dari tata kelola yang bersih, transparansi, dan kepastian hukum.
Inovasi tanpa integritas itu berbahaya.
Bisa menghasilkan efisiensi tanpa keadilan.
Keuntungan tanpa tanggung jawab.
Perubahan tanpa perlindungan sosial.
Fondasi kedua: pelaksanaan yang nyata di lapangan.
SBY sangat jujur di sini dan ini yang paling relevan dengan kondisi MBG hari ini.
Dunia punya banyak kebijakan bagus tapi pelaksanaannya sering gagal.
Kenapa? Karena di sinilah kepentingan bertabrakan.
Di sinilah birokrasi diuji.
Di sinilah regulasi bertemu dengan mereka yang ingin mengambil keuntungan.
Program pembangunan gagal bukan karena kekurangan ide tapi karena lembaga yang lemah, koordinasi yang terpecah, korupsi, cara berpikir jangka pendek, dan ketidakmampuan eksekusi.
Pemimpin harus berani berpikir melampaui kepentingan jangka pendek.
Bukan hanya memikirkan pemilihan berikutnya.
Fondasi ketiga: keuangan yang bertanggung jawab.
Pembangunan butuh investasi besar.
Infrastruktur, energi, kesehatan, pendidikan, ketahanan pangan semua butuh uang yang besar.
Tapi tekanan fiskal meningkat di mana-mana.
Bank harus mendukung sektor produktif.
Pasar modal harus mendorong investasi jangka panjang.
Regulator harus menjaga stabilitas sambil mendorong inovasi yang bertanggung jawab.
Dan ini kalimat SBY yang paling menohok di seluruh pidatonya:
"Kesetiaan kepada partai berakhir ketika kesetiaan kepada negara dimulai."
Di hadapan ruangan penuh politisi dan pejabat SBY menyampaikan ini.
Dan disambut tepuk tangan panjang.
Ini bukan sekadar kutipan indah.
Ini adalah kritik yang sangat tegas terhadap pola loyalitas yang selama ini terjadi
di mana menteri-menteri mempertahankan kebijakan bukan karena itu yang terbaik untuk rakyat, tapi karena itu yang menguntungkan kelompok atau partai tempat mereka berutang jabatan.
Dan ini yang paling penting untuk investor lokal maupun asing:
SBY membangun argumen yang sangat logis tentang mengapa kepercayaan adalah aset nasional yang paling berharga dan paling mudah hilang.
Perusahaan atau negara yang mengabaikan kualitas tata kelola mungkin masih bisa bertahan sementara.
Tapi dalam jangka panjang tekanan dari investor, regulator, konsumen, dan masyarakat akan terus datang sampai perubahan terjadi atau semuanya runtuh.
Dan ketika data pertumbuhan tidak sinkron dengan data penerimaan pajak yang minus investor tidak bisa memercayai narasinya.
Ketika kebijakan hari ini bisa dibatalkan besok tanpa penjelasan tidak ada yang berani merencanakan investasi jangka panjang.
Ketika pejabat tinggi bicara berlawanan satu sama lain dalam 24 jam kredibilitas negara runtuh sebelum angka apapun bisa meyakinkan siapapun.
SBY tidak menyebut nama. Tidak menuding langsung. Tapi setiap poin yang dia sampaikan tentang kredibilitas kebijakan, konsistensi arah, kualitas tata kelola,
dan kepercayaan sebagai fondasi ekonomi adalah cermin yang sangat jelas dari kondisi yang sedang terjadi sekarang.
Di 2008 Indonesia selamat karena empat hal terjaga: kepercayaan, kehati-hatian fiskal, daya beli domestik, dan koordinasi kebijakan yang baik.
Sekarang keempat hal itu sedang dalam tekanan berat semuanya bersamaan.
Kepercayaan terkikis.
Fiskal berdarah.
Daya beli rakyat ditopang pinjaman bukan pertumbuhan nyata. Dan koordinasi kebijakan seperti yang ditunjukkan oleh drama BGN masih jauh dari yang dibutuhkan.
SBY mengalami 2008 dan Indonesia selamat. Pertanyaannya sekarang:
apakah pelajaran itu sudah benar-benar dipelajari oleh mereka yang memegang kemudi hari ini?
@AnKiiim_ Orang ini siapa sih?
Rakyar menyampaikan saran dgn baik dan sopan kok malah tantrum.
Lagian elo jadi DPR juga cuma hah hoh hah hoh aja kerjaannya. Goblok !
@dinopattidjalal Ternyata separah itu kerja rezim ini.
Bravo Pak Dino. Anda hebat karena berani sampaikan kritik dan kebenaran ke rezim yg sering budeg. Rezim yg kalau dikasi masukan, denial dan melawan.
@KemensosRI Menteri kok lapornya ke Seskab. Menteri itu laporannya ke Presiden. Menteri itu pembantu presiden. Kok mau2nya toh Gus Ipul ini laporan ke si Tedy. Pantasnya laporan ke cak @cakimiNOW dulu. Lbh pntas. Ya kan cak ?
Saat masih kuliah di UGM, saya mendengar kabar seorang diplomat muda Indonesia di London berani tampil di BBC World Debate, berhadapan dgn diplomat senior Ramos Horta, di saat atmosfer internasional sedang menyudutkan Indonesia. Diplomat muda Indonesia itu tampil gemilang menjaga nama Indonesia tegak berwibawa. Di situlah pertama kali saya mendengar namanya: @dinopattidjalal.
Beberapa tahun kemudian, saat sedang menempuh progam PhD di Illinois, kami berjumpa langsung. Dino datang ke Chicago menjelaskan keadaan mahasiswa dan diaspora Indonesia pasca-9/11. Yg kami temui adalah diplomat muda yg cerdas, artikulatif, dan mampu menangani persoalan rumit dgn ketenangan diplomatik yg sulit ditiru.
Tahun 2012, sebagai Dubes di AS, Dino menggagas Kongres Diaspora Indonesia pertama di Los Angeles, mempertemukan diaspora dari seluruh dunia. Saya termasuk yg ia undang. Ia lalu mendirikan FPCI, komunitas kebijakan luar negeri terbesar dan berpengaruh, yg ikut melahirkan generasi diplomat baru, ujung tombak kita di panggung global.
Menguasai substansi, rekam jejaknya teruji, dan pengalaman memimpinnya luas. Itulah Dino. Karier diplomatiknya panjang dan ajeg, kecintaannya pada politik luar negeri Indonesia begitu dalam. Dino Patti Djalal, bukan karbitan jadi diplomat, bukan pula karbitan jadi pejabat.
*Pemimpinnya narsistic.
*Bela2in naikin pangkat si bocil dgn menabrak berbagai aturan.
* Bocil mkin bertingkah sperti pemimpin, bisa panggil dan kasi arahan menteri.
* pemimpinnya bebal, tdk bisa dikasi masukan. Yg kasi masukan atau pendapat berbeda dianggap musuh
Ampun deh.
@kangdede78@prabowo Harusnya dia sadar, dia seorang presiden yg kata2nya bisa mempengaruhi kondisi ekonomi. Positif ataupun negatif. Bisa nggak sih bapak itu hentikan dulu pidato2nya...
Lagian konsep menenangkan kok dgn cara membodohi masy.
SBY buruk, Jokowi buruk. Tapi mereka sama sekali gapernah ngomong kayak gini dalam forum resmi. Seorang presiden, pemimpin negara bicara dengan kapabilitas yang cuma seperti ini.
Orang-orang yang memilih dia karena kasihan atau karena apapun, kalian berdosa sekali untuk seluruh manusia di negeri ini. Bajingan kalian dan pilihan kalian. Bedebah.
Guys, ada pernyataan Prabowo yang menurut gue paling berbahaya yang pernah gue dengar dari seorang presiden soal mata uang negaranya sendiri.
Dan dia ngomong ini bukan di forum terbatas.
Bukan slip of the tongue.
Tapi di depan ribuan rakyat dengan penuh keyakinan:
Mau dolar berapa ribu kek
kalian di desa-desa kan enggak pakai dolar.
Yang pusing yang suka ke luar negeri.
Ini bukan candaan.
Ini adalah cara berpikir yang sangat berbahaya.
Gue mau kasih lo contoh nyata negara yang pemimpinnya pernah berpikir persis seperti ini.
Dan apa yang terjadi setelahnya.
Zimbabwe
ketika presiden bilang rakyat desa tidak butuh mata uang yang kuat:
Robert Mugabe selama bertahun-tahun bilang kepada rakyatnya bahwa pelemahan nilai mata uang adalah konspirasi Barat.
Bahwa rakyat desa yang tidak bertransaksi dalam dolar tidak perlu khawatir.
Hasilnya?
Inflasi Zimbabwe mencapai 89,7
sextillion persen per tahun di 2008.
Orang membawa uang keranjang penuh hanya untuk beli roti.
Petani di desa yang "tidak pakai dolar" mendapati hasil panennya tidak bisa dibeli siapapun karena harga berubah setiap jam.
Tabungan seumur hidup hilang dalam semalam.
Mereka akhirnya menyerah dan menggunakan dolar Amerika sebagai mata uang resmi.
Mata uang mereka sendiri sudah tidak ada nilainya sama sekali.
Venezuela
ketika pemerintah melarang rakyat khawatir soal kurs:
Hugo Chavez dan Maduro selama bertahun-tahun meyakinkan rakyat bahwa kurs tidak relevan bagi rakyat kecil.
Yang penting ada subsidi.
Yang penting ada program sosial.
Hasilnya?
Inflasi Venezuela mencapai 1.000.000% di 2018.
Dokter, guru, insinyur semua yang punya pendidikan dan bisa pergi pergi.
Lebih dari 7 juta warga Venezuela meninggalkan negaranya.
Rakyat desa yang "tidak pakai dolar" itu akhirnya mengantri berhari-hari untuk dapat sekarung tepung.
Mereka juga akhirnya terpaksa bertransaksi dalam dolar di pasar gelap karena mata uang mereka sendiri tidak dipercaya siapapun.
Dan sekarang kembali ke Indonesia yang ternyata sangat relevan:
Prabowo bilang rakyat desa tidak pakai dolar.
Tapi benarkah demikian?
Kedelai bahan baku tempe dan tahu yang dimakan rakyat desa setiap hari 90% diimpor dari Amerika Serikat.
Harganya ditentukan dalam dolar.
Ketika rupiah melemah dari Rp13.000 ke Rp17.000 โ harga kedelai naik.
Harga tempe naik.
Harga tahu naik.
Penjual tahu dan tempe di desa yang "tidak pakai dolar" itu langsung merasakan dampaknya di meja makan mereka.
Gandum bahan baku roti, mie instan, biskuit yang dikonsumsi rakyat desa 100% diimpor.
Harganya dalam dolar.
Pupuk yang dipakai petani desa untuk bercocok tanam sebagian besar bahan bakunya diimpor.
Harganya dalam dolar.
Obat-obatan generik bahan bakunya sebagian besar diimpor dari China dan India.
Harganya? Dalam dolar.
Rakyat desa tidak pegang dolar secara fisik.
Tapi seluruh kehidupan mereka dari makan pagi sampai obat yang mereka minum harganya ditentukan oleh kurs dolar.
Dan inilah yang paling miris:
Presiden yang seharusnya menjaga kepercayaan pasar terhadap mata uang negaranya justru dengan entengnya bilang kurs dolar tidak relevan bagi rakyat.
Padahal kepercayaan itulah
yang membuat rupiah bisa stabil.
Kepercayaan itulah yang membuat investor mau masuk.
Kepercayaan itulah yang membuat rakyat tidak lari ke dolar dan emas seperti yang sekarang terjadi dan dikhawatirkan oleh ekonom-ekonom kita.
Ketika presiden sendiri tidak menganggap serius pelemahan mata uangnya sinyal apa yang dikirim ke pasar?
Sinyal apa yang dikirim ke investor asing?
Sinyal apa yang dikirim ke rakyat yang tabungannya dalam rupiah?
Bandingkan dengan pemimpin yang serius:
Lee Kuan Yew dari Singapura negara tanpa sumber daya alam apapun menjadikan kestabilan mata uang sebagai prioritas utama pemerintahannya.
Dia tahu bahwa kepercayaan terhadap mata uang adalah kepercayaan terhadap negaranya secara keseluruhan.
Hasilnya?
Singapura hari ini punya GDP per kapita lebih dari 80.000 dolar.
Rakyat Singapura yang "cuma pedagang kecil" pun hidupnya jauh lebih sejahtera dari rakyat kita yang punya sumber daya alam berlimpah.
Bukan karena Singapura kaya alam.
Tapi karena pemimpinnya tidak pernah menganggap remeh nilai mata uangnya.
Pernyataan "mau dolar berapa ribu kek, di desa kan tidak pakai dolar" bukan pernyataan yang menunjukkan ketenangan seorang pemimpin.
Itu adalah pernyataan yang menunjukkan ketidakpahaman atau lebih buruk lagi, ketidakpedulian terhadap bagaimana ekonomi nyata bekerja di tingkat paling bawah.
Rakyat desa tidak pegang dolar.
Tapi rakyat desa makan tempe dari kedelai impor yang harganya dalam dolar.
Rakyat desa bertani dengan pupuk yang bahan bakunya dalam dolar.
Rakyat desa berobat dengan obat yang bahan bakunya dalam dolar.
Ketika presiden tidak peduli dengan kurs yang tidak peduli bukan hanya presidennya.
Tapi seluruh sistem di bawahnya ikut tidak peduli.
Dan ketika seluruh sistem tidak peduli dengan nilai mata uangnya sendiri kita tinggal menunggu giliran menjadi Zimbabwe atau Venezuela berikutnya.
Semoga kita tidak sampai di sana.
Tapi pernyataan seperti ini tidak membuat gue yakin bahwa kita sedang bergerak menjauhi arah itu.