Di tengah kualitas demokrasi yang semakin mengkhawatirkan, penguasa justru menunjukkan karakter antikritik, dan hukum dijadikan alat untuk mengkriminalisasi warganya sendiri.
Ulasan Teddy Chrisprimanata Putra:
https://t.co/gGHMkIRzuN
3. Kemenpupera stop bikin barang2 macam Asrama Mahasiswa dan Pesantren. Di tahun 2021 sampe bangun 130an blok asrama mahasiswa dan pesantren. Selama 2021, kehilangan potensi unit utk keluarga yg benar butuhkan bisa sampai 6500 unit.
2. Percepat, perintahkan dan lakukan reforma pertanahan segera. Perintahkan BUMN utk selesaikan konflik pertanahan dgn tdk menggusur, melainkan bekerja bersama masyarakat yg sdh menggarap puluhan tahun tanah yg dibengkalaikan oleh si BUMN (terutama loe tuh KAI). Solusi pengembangannya bisa konsolidasi tanah vertikal (tp ya jgn superblok, yg skala kecil2 aja).
Begitu loe gusur orang, malah nambah backlog dan bukannya selesaikan.
Seluruh aturan kerja sama, pemberian hak terkait tanah sudah ada. Bahkan sudah ada Perpres percepatan Reforma Agraria di 2023. Ya dipake atuh dan bukan dijadikan kertas gorengan kan?
Kerja sama pemanfaatan tanah mbok ya jangan sama developer aja 😤
1. Percepat operasionalisasi BP3 (Badan Percepatan Pembangunan Perumahan).
Badan ini mengelola kewajiban hunian berimbang dari setiap developer. Tahu gak kalian kalau developer itu pny kewajiban 20% dr nilai proyek utk dibuat hunian MBR?
Nah mekanisme itu yg dipakai DKI utk bikin kampung susun dan bbrp rusunawa. Jadi kalau nilai 1 proyek, contoh Central Park, 1T, maka harus bikin 200M.
Skrg, karena UU Cilaka, mekanisme itu ditarik ke Pusat, dibuatkan Badannya. Udah ada PP nya. KemenPU udah keluar duit 5M utk bikin studi awalnya. Tapi udah 2 th kagak jadi2.
Semoga bukan krn ada lobi developer yg gak mau ditagih ya.
Pagi, kalau menurut kalian Tapera itu bak lintah utk kelas menengah, apakah ada solusi pengganti utk penyediaan & pembiayaan perumahan? ADA. Banyak. Dan sesuai dgn perundangan juga. Dan lebih tepat sasaran, langsung soal “bangun rumah”.
Thread Solusi pengganti Tapera:
.@JosephEStiglitz Nobel prize-winning economist & @Columbia professor highlights that lack of medicine access in the Global South hurt health & economies. We must prioritize equitable healthcare access over profits. Leaders must learn from past lessons for a better future
#WHA77
Truly jaw dropping allegations:
“Israeli spy chief ‘threatened’ ICC prosecutor over war crimes inquiry”
Mossad’s Cohen told her: “You don’t want to be getting into things that could compromise your security or that of your family.”
https://t.co/t8awIdxgfI
Innalillahi wa Inna Ilaihi Roji’un.
Keluarga Besar Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) kembali kehilangan salah satu kader terbaik, yaitu Bapak Bambang Elfianto @Bambangelf
Kita semua bersaksi bahwa almarhum adalah orang baik. Semoga Allah menerima amal baiknya, menempatkannya di sisi-Nya dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan serta kekuatan lahir batin. Terima kasih atas dedikasi dan pengabdianmu. Selamat jalan 💚
#1PKB
#PKBBerduka
DEKLARASI KAHIGAMA (Keluarga Alumni Hubungan Internasional UGM)
1. Politik luar negeri
2. Demokrasi & Pemilu 2024
3. Perubahan iklim
4. Keberagaman
5. Digitalisasi
Munas Kahigama
Yogyakarta, 15 Desember 2023
@KahigamaID@HIUGM
When we told Dow & Sport Singapore about our findings, they opened an investigation. Six weeks later they told us that Yok Impex had been removed from the project. But they refused to answer simple questions, like: how many shoes have you recycled?
It is illegal to import used clothing and shoes into Indonesia because the government says they spread disease and add to the country’s mounting garbage problem. Much of the torrent of second-hand clothing entering Indonesia ends up burned or in landfill
All the shoes had initially gone from the recycling bins to Singapore used clothes exporter, Yok Impex. A Yok Impex manager said if it had exported shoes from Dow’s program it was a mistake. We found dozens of Yok Impex sacks in Batam. Big mistake.
We discovered this pair of shoes - pink and orange New Balance runners - at a mall in Jakarta. They had been on a 800-mile marathon journey, crisscrossing Indonesia, and were cleaned and fitted with new laces. They cost me $20 to buy back!
We found two pairs of our shoes being sold in this rundown second-hand goods’ market in Batam. I had to use the beeper function to find my old blue Nikes buried in a huge pile of jumbled up sneakers at the back of a shop
For months I watched as one by one the shoes moved from the recycling bins to a local textile trader, then to Batam Island in Indonesia. Some shoes went on by air and road to far-flung locations across the archipelago. We went to find them.
We dropped the shoes off at recycling bins that Dow - a U.S. petrochemical firm - and its partners had placed all over Singapore. They said these shoes would be ground down into a replacement for rubber to be used in playgrounds and running tracks. That didn’t happen.