@jaluekoh Wkwkwk bangsat berapa banyak gue jalan di atas selokan yang ditutup itu. Trotoar lebar cuma menara PHE tapi somehow itu marmer yang mana licin kalo ujan bangsaaaaat
banyak orang gak sadar: when you live in survival mode, your choices aren’t really choices, they’re instinct.
anak-anak buat mereka bukan soal “nambah beban”. it’s about having a reason to stay alive tomorrow. tentang ditemani, ditolong, dan diberi harapan di dunia yang udah terlalu pelit kasih peluang.
kita yang hidup lebih enak gampang ngomong, “kok gak KB aja?” padahal mereka gak hidup di dunia yang sama kayak kita. mereka gak punya safety net. mereka cuma punya satu sama lain.
dan buat yang baca itu terus langsung bilang, “jadi lo setuju orang miskin punya anak banyak?” you really missed the whole damn point.
understanding ≠ endorsing.
empathy ≠ excuse.
ini bukan glorifikasi kemiskinan, ini ajakan buat berhenti nge-judge dan mulai ngebenerin sistemnya.
lo terlalu sibuk ngehitung jumlah anaknya, sampe lupa nanya: “kenapa satu-satunya harapan mereka harus anak, bukan negara?”
pak anies ngajak mikir, bukan ngajak breeding race. so please, kalau belum siap baca dengan hati, ya jangan baca cuma buat cari bahan nyinyir.
let’s fix the system, not shame the survivors. karena di ujung hari, mereka cuma lagi berusaha hidup, sama kayak kita semua.
@AgusPrakos96735 @ireneclaire202 "Daripada mereka puasa hujat sana sini" kalimat buat orang MUNAFIK, kalimat buat orang2 yang ingin membenarkan untuk dirinya sendiri bukan karena Tuhan.
Kalau tau hukuman buat orang2 yg secara sengaja tidak puasa wajib tuh serem banget. Padahal punya badan sehat, dan punya akal.