My husband works at a hospital and everyday he needs to wake up early to work. He keeps two alarms at 4:25 and 4:30 a.m.. I asked him why keep them so close?.. He just said it's nothing.
But every morning I notice when the first alarm goes off.. he snuggles close to me, hugs me tight & cuddles until the second alarm rings..
That's when I realised those 5 mins were for me.. even when there's a rush he spares 5 mins to show his love towards me.. It made me tear up a little
"I feel grateful to have a man like him."
18 tahun. Itu tuntutan jaksa buat seseorang yang udah ngabisin waktu bertahun-tahun mencoba memajukan negara ini. Terlepas dari kamu setuju atau gak sama pandangan politiknya, coba deh renungin baik-baik angka itu.
Ini bukan kejadian yang pertama kali. Indonesia itu punya pola yang diam-diam menghancurkan: orang-orang pinter, kompeten, dan punya niat tulus masuk ke pemerintahan, tapi ujung-ujungnya malah dihancurin sama sistem. Gak selalu karena mereka bersalah, tapi seringnya cuma karena kehadiran mereka "dianggap mengganggu".
Tapi anehnya, kita terus-terusan nyuruh anak-anak muda terbaik kita: "Masuk dong ke pemerintahan. Mengabdi dong buat negara. Bawa perubahan."
Siapa juga yang mau kalau mereka ngelihat langsung kejadian kayak gini di depan mata?
Siapa pun dalang di balik semua ini, mereka sama sekali gak lagi ngelindungin Indonesia. Mereka justru lagi ngajarin satu generasi orang-orang berbakat kalau jalan paling aman itu ya mending diam aja. Atau sekalian pergi ke luar negeri.
Buat yang suka nyinyir, "Ya udah, pergi aja sana!", tolong berhenti nutupin ego kalian dari kenyataan. Banyak kok orang Indonesia yang super cerdas dan bener-bener cinta sama negara ini. Mereka tetap stay di sini. Mereka ngebangun sesuatu. Mereka nyari cara lain buat berkontribusi di luar pemerintahan, karena masuk ke dalam sistemnya itu terlalu bahaya.
Tapi ini realita yang lebih pahit: sehebat apa pun startup, kreator, atau inovator kita di kancah dunia, KALAU pemerintahnya tetap korup dan gila kuasa, KALAU aturannya gak ngelindungin rakyat atau gak ngasih ruang buat industri berkembang dengan sehat, terus kita sebagai masyarakat bisa berharap apa?
Ini momen yang sedih banget buat Indonesia. Bukan cuma karena ada satu orang yang lagi diadili, tapi karena pesan yang ditangkap sama semua orang pintar dan idealis yang lagi ngelihatin kasus ini: bahwa negara ini sepertinya belum siap buat ngelindungin orang-orang yang berani membawa perubahan.
Istri Nadiem Makarim, Franka Makarim, menuliskan pesan di postingan terbaru Instagramnya, tertulis:
"Kemarin hari dimulai di pengadilan.
Malam tadi, Nadiem masuk ke meja operasi untuk kelima kalinya.
Di antara dua momen itu, kami hanya bisa berdoa.
Back in 2006, I was just a junior high school student watching all of this unfold, not fully realizing how cruel it really was.
This was such a brutal time for Britney Spears. Everyone wanted a piece of her. The pressure was nonstop, the media was feeding off her, and the people around her were not protecting her the way they should have.
At that time, Britney Spears was only 25, pregnant with her second child, holding her 8 month old baby. She had just stepped out of her hotel and was immediately swarmed by hundreds of paparazzi. No space. No breathing room. Just cameras everywhere.
She tried to hide inside a restaurant. She asked the staff for help, but they didn't step in. Even in that moment, she wasn't given privacy. She was left there, vulnerable, while cameras kept flashing.
You can see it on her face. She was shaken. Overwhelmed. On the verge of breaking.
And instead of concern, the tabloids twisted it. They called Britney Spears an irresponsible mother. They turned that moment into a headline like it was entertainment.
I've always believed Britney Spears is a good person. But no one can carry that kind of pressure forever. The constant scrutiny, the betrayal, the manipulation, it wears you down.
This is a reminder of how cruel people can be, and how easy it is for the world to watch someone struggle and choose not to care.
Looking back now, it's clear. She wasn't failing. She was being failed by everyone around her.
Kenapa dua story ini bisa viral banget di awal tahun?
Karena manusia udah lelah dengan konten-konten yg dipoles. Flexing, bahagia, cemara, sharing penghasilan. Jarang banget yg ngebahas sisi vulnerable dari manusianya.
2 story ini merepresentasikan perasaan yg di alami sebagian besar orang. Kita seakan melihat journey hidup kita.
3 aha moment yg aku pelajari dari story ini:
1. Gak ada lagi yg bisa diharapkan, kecuali diri kita sendiri. Burnout, rasa sepi, penolakan, semuanya ditelan dan dijalani sendiri. Jalan dengan percaya diri.
2. Quiet quit. Gak banyak ngomong, tiba-tiba ambil pilihan hidup yg berbeda. Arahnya gak jelas, tapi berani ambil risiko itu daripada stay di tempat yg sama.
3. Kalau dikelilingi orang-orang toxic, gak ada pilihan lain selain menjauh. Gak bisa mengubah perangai orang lain tapi bisa memilih merespons dengan cara seperti apa.
In case you guys are wondering how this entire Korea vs. Southeast Asia X-war started...
This is what caused it. 👇
A bunch of Korean fansite people showed up with huge cameras, disrupted the entire event, and refused to follow the rules. 🙄