Dewasa gini, ternyata lebih seru ngobrol sama stranger, pedagang keliling, tukang parkir, atau orang orang tua yang kebetulan lagi di tempat yang sama.
energi mereka terasa lebih tulus untuk menyadarkan bahwa banyak hal di dunia ini yang perlu kita syukuri.
warnai rambutmu, jika kamu merasa lebih baik dengan semua itu.
ambil segelas kopi pahit, jika lambungmu masih kuat.
pergi jalan-jalan sendirian dan menangis di kendaraan, jika itu membuat melegakan.
memaki di tempat sepi, tumpahkan air mata di kamar mandi, jika itu membuatmu merasa punya harapan lagi.
dengar lagu yang kamu suka, bayar waktu yang kamu bisa, hidup yang sekali ini rayakan dengan hal-hal kecil yang kamu miliki.
hiduplah selayak"nya
jika lelah, beristirahatlah.
lakukan apapun yg kmu sukai, tanpa perlu manusia lain sebagai rumahmu, jadilah rumah untuk dirimu sendiri.
Untuk adik-adikku Gen Z yang luar biasa.
Kalau dulu, umur 30 ayah ibumu udah bisa bangun rumah. Sekarang kamu umur 30 masih ngekos atau ngontrak.
Ingat ini Usahanya sama, tapi memang ekonominya yang beda.
Dulu ibumu bisa besarin tiga anak tanpa kuliah. Kamu sekarang udah sarjana, kerja sambilan sana-sini, tetap ngos-ngosan buat bertahan hidup.
Dulu ibu belanja untuk kebutuhan seminggu cukup gaji bapak sehari. Sekarang kamu kerja dua tempat, keranjang belanja masih setengah isi.
Ini bukan karena kamu males atau kurang kerja keras. Permainannya memang udah berubah.
Jangan bandingin dirimu sama orang tua dulu. Mereka main di level berbeda. Kamu main di level expert, lawan hidupmu itu sungguh dahsyat, inflasi, ekonomi digital, dan dunia yang nggak pernah tidur.
Kamu tidak gagal. Garis start-nya yang memang geser, aturannya yang berubah. Kamu masih bertahan di dalam permainan.
Jadi stop rasa bersalah, stop ngerasa malu. Kamu nggak terlambat. Kamu lagi bangun sesuatu di tekanan yang generasi sebelum kamu dulu nggak pernah hadapi.
Terus jalan.
Kamu nggak rusak.
Kamu cuma lagi membangun
di dunia yang beda.