Joko Anwar kasih update buat PENGABDI SETAN 3 ORIGIN yang naskahnya udah masuk draft ketiga.
Update-nya hari ini, 10 Juni 2026, tepat setahun sebelum tanggal rilis tebakan Minton. Akankah beneran tayang setahun lagi? π
purbaya baru aja mengumumkan 10 perusahaan cpo
yang terlibat dalam Praktik transfer pricing
yang merugikan US$84 juta atau sekitar Rp1,48 triliun
- PT Wilmar Nabati Indonesia Milik martua sitorus
- PT Kutai Refinery Nusantara Milik Sukanto Tanoto
- PT Sari Dumai Sejati Milik Sukanto Tanoto
- Musim Mas Group Milik Bachtiar Karim
- Sinar Mas Agro Resources and Technology Milik Keluarga Widjaja
- PT Sumber Indah Perkasa Milik Keluarga Widjaja
- PT Intibenua Perkasatama Milik Bachtiar Karim
- PT Ivo Mas Tunggal Milik Keluarga Widjaja
- PT Multimas Nabati Asahan Milik martua sitorus
- PT Energi Unggul Persada Milik Martua Sitorus
konglomerat mau di libas sama prabowo semua?
Guys, ada pernyataan dari dalam kabinet sendiri yang menurut gue paling jujur dan paling menampar yang pernah keluar dari mulut seorang menteri di era Prabowo.
AHY β Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan menyentil rekan-rekannya sendiri di kabinet.
Bukan dari oposisi.
Bukan dari pengamat.
Bukan dari ekonom kritis.
Tapi dari orang yang duduk di dalam kabinet itu sendiri.
Dan apa yang dia bilang menurut gue adalah pengakuan paling jujur tentang apa yang sebenarnya terjadi di balik layar pemerintahan Prabowo saat ini.
Dan ini pernyataannya langsung, tanpa filter:
"Sekarang terlalu sering, termasuk di birokrasi antarkementerian dan lembaga itu seperti ada sekat-sekat, seperti ada barriers, ego.
Paling sering itu ego.
Enggak ada yang salah, tapi 'pokoknya gue dulu.
Gue lebih penting.
Gue harus lebih banyak anggarannya.'
Padahal tujuannya sama."
Seorang Menko yang tugasnya mengkoordinasikan kementerian-kementerian teknis di bawahnya secara terbuka mengakui bahwa kementerian-kementerian itu tidak bisa bekerja sama.
Berebut anggaran. Merasa paling penting.
Tidak saling bicara.
Di forum publik.
Dengan nama jabatannya yang resmi.
Dan ini yang paling penting untuk dipahami:
Indonesia punya 108 menteri dan wakil menteri. Kabinet terbesar dalam sejarah Indonesia.
Lebih besar dari kabinet Amerika yang hanya punya 16 menteri untuk negara dengan ekonomi terbesar di dunia.
Dan dengan 108 menteri itu kolaborasi antar kementerian masih belum terlihat.
Kata siapa?
Kata salah satu menterinya sendiri.
Pertanyaannya sangat sederhana:
kalau dengan 108 orang yang dibayar dari APBN koordinasinya masih seperti ini untuk apa ada 108 orang?
Dan ini yang paling konkret dari apa yang AHY bilang:
Dia menyebut contoh yang sangat nyata:
bandara yang dibangun tanpa jalan yang menghubungkannya.
Dua kementerian.
Satu bangun bandara.
Satu lagi harusnya bangun jalan penghubung.
Tapi karena tidak ada komunikasi bandara jadi. Jalannya tidak.
Bandaranya sepi.
Uang negara habis.
Tidak ada yang bertanggung jawab.
Dan ini bukan kasus satu dua.
AHY bilang ini adalah pola yang terjadi berulang-ulang di masa lalu dan dia khawatir masih terjadi sekarang.
Bandara Kertajati yang pernah viral karena sepi meski sudah dibangun dengan biaya triliunan adalah contoh paling terkenal dari pola ini.
Dibangun megah.
Tapi konektivitas jalan dan moda transportasi publiknya tidak siap.
Hasilnya: penumpang tidak datang. Negara rugi.
Dan ini yang paling ironis dari seluruh situasi ini:
Di saat yang bersamaan pemerintah sedang menjalankan program-program besar yang semuanya membutuhkan koordinasi lintas kementerian yang sangat ketat:
MBG melibatkan Badan Gizi Nasional, Kemenkes, Kemendikbud, Kemensos, dan ratusan SPPG di seluruh Indonesia. Kopdes Merah Putih melibatkan Kemenkop, Kemendes, Kemenkeu, dan pemerintah daerah.
Danantara mengelola aset dari ratusan BUMN yang diawasi berbagai kementerian.
Ekspor satu pintu melibatkan Kemendag, Kemenkeu, Bea Cukai, dan seluruh eksportir besar.
Dan semua program besar ini dijalankan oleh sistem yang menurut Menko-nya sendiri masih penuh sekat, penuh ego, dan belum bisa berkolaborasi.
Itu bukan resep untuk berhasil.
Itu resep untuk kebocoran di setiap lapisan.
Dan ini yang paling pedas dari seluruh situasi:
Prabowo baru saja pidato di DPR tentang reformasi besar-besaran.
Tentang memberantas under invoicing.
Tentang ekspor satu pintu.
Tentang Danantara yang akan mengelola kekayaan negara secara efisien.
Tapi Menko-nya sendiri orang yang duduk di ring kedua kekuasaan secara terbuka mengakui bahwa antar kementerian saja belum bisa berkoordinasi dengan baik.
Bagaimana program sebesar Danantara bisa dieksekusi dengan baik kalau kementerian-kementerian yang seharusnya mendukungnya masih sibuk berebut anggaran dan merasa paling penting?
Bagaimana ekspor satu pintu bisa berjalan lancar kalau Kemendag, Kemenkeu, dan Bea Cukai belum bicara satu bahasa?
Bagaimana MBG bisa sampai ke yang membutuhkan kalau koordinasi antara BGN, Kemenkes, dan Kemendikbud masih penuh sekat?
Dan ini yang paling relevan dengan konteks lebih besar:
Teddy Indra Wijaya Sekretaris Kabinet menjadi gatekeeper tunggal yang mengatur siapa yang bisa dan tidak bisa bertemu Presiden.
Menteri-menteri melapor ke Teddy, bukan ke Menko. Dan antar kementerian sendiri tidak saling bicara.
Ini adalah sistem yang secara struktural hampir tidak mungkin menghasilkan koordinasi yang efektif.
Kalau semua jalur koordinasi harus lewat satu orang dan di level horizontal antar kementerian masih penuh ego dan sekat maka yang terjadi adalah persis yang AHY gambarkan.
Bukan pemerintahan yang bergerak sebagai satu kesatuan.
Tapi 108 kerajaan kecil yang masing-masing berjuang untuk anggaran dan pengakuan β dan sesekali bertabrakan satu sama lain di lapangan.
Dan ini yang paling penting untuk digarisbawahi:
AHY adalah bagian dari kabinet ini.
Dia bukan oposisi.
Dia adalah Menko yang tugasnya persis mengkoordinasikan kementerian-kementerian teknis agar tidak terjadi ego sektoral seperti yang dia keluhkan.
Artinya:
AHY secara tidak langsung juga mengakui bahwa dirinya sendiri belum berhasil menjalankan tugasnya dengan sempurna.
Dan itu paradoksnya adalah bentuk kejujuran yang langka dari seorang pejabat Indonesia.
Tapi kejujuran tanpa perubahan hanya akan menjadi catatan sejarah yang diabaikan.
Guys, ada berita hari ini yang menurut gue paling mengungkapkan sekaligus paling memalukan dalam sejarah ekonomi Indonesia.
Purbaya Yudhi Sadewa Menteri Keuangan membawa laporan 10 perusahaan yang melakukan under invoicing ke makan siang bersama Prabowo.
CPO. Batu bara.
Manipulasi data ekspor.
Perusahaan melaporkan harga ekspor jauh di bawah harga riil dengan cara membuat perusahaan di luar negeri dan menjual ke sana dengan harga murah, lalu di luar negeri dijual dengan harga sesungguhnya.
Hasilnya:
pendapatan di Indonesia terlihat kecil.
Pajak dan royalti yang dibayar ke negara kecil.
Tapi keuntungan riil masuk ke rekening di luar negeri.
Dan ini berlangsung selama 34 tahun.
Dari 1991 sampai 2024.
Kerugian negara: Rp15.400 triliun.
Dan ini pertanyaan yang tidak bisa diabaikan:
Selama 34 tahun di mana Bea Cukai?
Di mana Direktorat Jenderal Pajak?
Di mana KPK?
Di mana semua lembaga yang dibayar dari pajak rakyat untuk memastikan hal seperti ini tidak terjadi?
Prabowo bilang ini adalah data dari PBB.
Artinya data ini bukan baru kemarin ada.
Data ini sudah diketahui secara internasional.
PBB sudah mencatatnya.
Dunia sudah tahu.
Tapi selama 34 tahun tidak ada yang bertindak di dalam negeri.
Dan ini yang paling menohok:
Purbaya bilang dia punya data 10 perusahaan teratas yang melakukan under invoicing.
Dia bawa laporannya ke makan siang dengan presiden.
Tapi dia tidak mau mengungkap nama perusahaannya.
"Kalau ditanya saya akan jawab tapi kalau enggak ditanya tidak."
Perusahaan yang sudah merugikan negara Rp15.400 triliun namanya tidak boleh disebutkan ke publik.
Rakyat yang membayar pajak. Rakyat yang kehilangan Rp15.400 triliun potensi penerimaan negara selama 34 tahun.
Rakyat yang anggaran pendidikannya dipotong.
Rakyat yang subsidi BBM-nya terus dikurangi.
Rakyat yang guru-gurunya digaji Rp1,5 juta per bulan.
Rakyat itu tidak berhak tahu siapa yang mencuri uang mereka.
Dan ini yang perlu dipahami soal Bea Cukai:
Kasus ini tidak muncul dari kerja keras pemerintah yang tiba-tiba menemukan under invoicing setelah 34 tahun.
Ini muncul setelah tertangkapnya sejumlah petugas Bea Cukai.
Ketika petugas yang selama ini menjadi kunci karena mereka yang menandatangani dan memvalidasi data ekspor mulai tertangkap, barulah praktik ini mulai terungkap.
Artinya: Bea Cukai bukan tidak tahu. Bea Cukai adalah bagian dari sistemnya.
Pejabat yang seharusnya mencegah manipulasi data ekspor adalah pejabat yang selama ini membiarkan atau bahkan memfasilitasinya.
Dan ketika mereka tertangkap barulah semua ini keluar ke permukaan.
Dan ini angka yang harus benar-benar dipahami:
Rp15.400 triliun selama 34 tahun.
Anggaran pendidikan Indonesia per tahun:
Rp700 triliun.
Uang yang dicuri dari negara melalui under invoicing bisa membiayai pendidikan Indonesia selama 22 tahun tanpa perlu memungut pajak sepeser pun dari rakyat.
MBG yang diklaim untuk rakyat menghabiskan Rp335 triliun per tahun.
Uang yang dicuri melalui under invoicing bisa membiayai MBG selama 46 tahun.
Rp15.400 triliun.
Hilang.
Selama 34 tahun.
Dan tidak ada satu pun orang yang masuk penjara karenanya.
Dan ini yang paling pedas dari seluruh situasi ini:
Prabowo sekarang membentuk PT Danantara Sumberdaya Indonesia badan baru yang akan menjadi satu-satunya eksportir komoditas strategis. Batu bara. CPO. Ferroalloy.
Alasannya: untuk menghentikan under invoicing.
Tapi pertanyaannya sangat sederhana:
kalau Bea Cukai yang selama ini menjadi kunci pintu ekspor sudah bisa disuap apa yang memastikan Danantara tidak bisa disuap juga?
Kalau 10 perusahaan teratas yang melakukan under invoicing tidak bisa disebutkan namanya ke publik apa jaminan bahwa perusahaan yang sama tidak akan bekerja sama dengan badan ekspor baru ini?
Kalau selama 34 tahun tidak ada yang dihukum β mengapa sekarang akan berbeda?
Dan ini yang Ahok pernah bilang tentang Pertamina dan sangat relevan sekarang:
"Dalam satu jabatan di militer hanya boleh dua kali kepangkatan." Bukan soal militer tapi soal sistem.
Sistem yang benar bukan yang mengandalkan kejujuran satu orang. Sistem yang benar adalah yang membuat ketidakjujuran sangat sulit dan sangat mahal untuk dilakukan.
Pertamina di bawah Ahok efisien bukan karena semua orang tiba-tiba jujur.
Tapi karena dia membangun sistem yang membuat kecurangan sangat sulit disembunyikan.
Ask the Chairman Anything.
Audit menyeluruh.
Penolakan supplier yang tidak sesuai spesifikasi meski ada tekanan.
Danantara tidak punya satupun dari sistem itu.
Belum ada audit yang transparan.
Belum ada laporan keuangan yang dipublikasikan. Belum ada mekanisme pengawasan independen.
Dan sekarang diberi wewenang mengelola ekspor komoditas senilai ratusan miliar dolar per tahun.
Dan ini yang paling relevan dengan konteks lebih besar:
Mahfud MD di UII bilang: ada autocratic legalism hukum dibuat untuk melegalkan kejahatan.
Orang korupsi menjadi sah karena aturannya dibuat lebih dulu.
Under invoicing selama 34 tahun adalah bukti paling konkret dari itu. Sistem yang seharusnya mencegah pencurian digunakan untuk memfasilitasinya.
Bea Cukai yang seharusnya memverifikasi malah memvalidasi kecurangan.
Dan tidak ada undang-undang, tidak ada lembaga, tidak ada kekuatan yang cukup kuat untuk menghentikannya selama lebih dari tiga dekade.
Sampai petugas Bea Cukai mulai tertangkap.
Dan barulah semuanya terbuka.
Rp15.400 triliun hilang dari negara ini selama 34 tahun.
Cukup untuk membiayai pendidikan gratis selama 22 tahun.
Cukup untuk menggaji guru berkualitas selama puluhan tahun.
Cukup untuk membangun infrastruktur dari Sabang sampai Merauke berkali-kali lipat.
Tapi tidak ada yang masuk penjara.
Tidak ada nama yang boleh disebutkan.
Dan solusinya adalah membentuk badan baru tanpa audit transparan, tanpa pengawasan independen, tanpa hukuman keras yang membuat orang takut.
Singapura memberantas korupsi dengan hukuman yang membuat pelakunya tidak punya masa depan. China mengeksekusi koruptor.
Arab Saudi menyita seluruh aset.
Indonesia membuat badan baru.
Dan tidak menyebut nama siapa yang sudah mencuri Rp15.400 triliun dari rakyatnya.
Dalam sebuah konteks film komedi yang dibalut horror atau sebaliknya, Ghost in the Cell bisa ngiket dua genre itu pake sentilan politik yang vulgar. Kalau isunya ditampilan hanya surface-nya saja ya mungkin memang perlu kehati-hatian dalam memaparkannya.
Ghost In The Cell film terbaik π₯π₯π₯
Semoga ditonton sama banyak orang.
Komedinya presisi, lucu sekali di banyak part. Akting pemain luar biasa. Bang Abimana memberi sentuhan yang berbeda.
Bang @jokoanwar terima kasih sudah bikin film jenius seperti ini.
Hormaaatttt ππ½ππ½ππ½
Jarang2 di pemutaran bioskop biasa (bukan special screening atau gala premier), penonton pada tepuk tangan pas filmnya selesai.
GHOST IN THE CELL nampilin kematian berdarah yang brutal sekaligus artsy. Comedic timing-nya sempurna, lucu banget. Soo damn good. Highly recommended!
Guys, Menkeu Purbaya baru pulang dari pertemuan dengan deretan lembaga keuangan terbesar di dunia Goldman Sachs, Fidelity, IMF, World Bank, sampai rating agency S&P.
Dan yang dia ceritakan cukup bikin gue angkat alis.
Yang terjadi di pertemuan dengan investor besar:
Purbaya ketemu 18 investor besar dalam satu sesi termasuk Goldman Sachs dan Fidelity.
Pertanyaan utama mereka?
Satu hal yang bikin mereka bingung sejak lama:
Kenapa Indonesia bisa tumbuh lebih cepat tapi anggarannya tetap terkendali?
Purbaya bilang dia jelaskan dengan detail dan investor senang dengan jawabannya.
Bahkan sudah ada sinyal akan masuk ke pasar modal Indonesia dalam waktu tidak lama.
Yang paling menarik percakapan dengan IMF:
Purbaya tanya langsung ke Direktur IMF Kristalina Georgieva:
apakah IMF punya kebijakan khusus untuk membantu negara-negara di tengah ketidakpastian global ini?
Jawaban IMF:
tidak punya otoritas untuk itu.
Tapi menyediakan dana bantuan untuk negara yang membutuhkan.
Dan Purbaya langsung menjawab dengan kalimat yang cukup keras untuk ukuran diplomasi keuangan:
Indonesia tidak membutuhkan.
Anggaran kita cukup baik dan kita masih punya bantalan 420 triliun.
IMF yang biasa didatangi negara-negara dalam kondisi krisis untuk minta dana talangan kali ini bingung karena Indonesia datang bukan untuk minta bantuan, tapi untuk menjelaskan kenapa mereka aman.
Respons IMF soal ketahanan Indonesia:
Kristalina mengakui sempat bingung kenapa Indonesia bisa bertahan di tengah kondisi global yang berat seperti sekarang.
Purbaya menjelaskan bahwa kebijakan sudah diubah sejak akhir tahun lalu dan dampaknya sudah kelihatan. Ekonomi sedang mengalami percepatan justru ketika ada tekanan global tambahan dari harga minyak yang tinggi.
Kita bisa menyerap syok yang terjadi.
Dan IMF mengakui akan memberitahukan ke seluruh dunia negara mana saja yang performanya bagus. Indonesia masuk dalam daftar itu.
World Bank dan rating agency:
Purbaya bilang keduanya amat puas dengan penjelasan strategi fiskal Indonesia.
Keraguan tentang apakah kita bisa menjalankan kebijakan fiskal yang baik sekaligus menciptakan pertumbuhan sepertinya sudah hilang.
World Bank bahkan menggali kemungkinan kerja sama lebih dalam yang saling menguntungkan.
Yang perlu dicermati dari semua ini:
Kalau pernyataan Purbaya akurat ini adalah pergeseran narasi yang signifikan.
Indonesia biasanya datang ke forum seperti ini sebagai pihak yang menjelaskan diri dan meminta kepercayaan.
Kali ini posisinya terbalik lembaga-lembaga globalnya yang bingung dan Indonesia yang menjelaskan.
Bantalan fiskal 420 triliun yang disebut Purbaya itu angka yang konkret dan bisa diverifikasi.
Kalau benar tersedia ini adalah buffer yang cukup besar untuk menghadapi gejolak global yang sedang berjalan.
Tapi ada pertanyaan yang tetap perlu dijawab: a
pakah pertumbuhan yang lebih cepat ini sudah terasa di level bawah?
Di warung.
Di petani.
Di pekerja harian.
Karena investor global yang senang tidak otomatis berarti rakyat sudah merasakannya.
Purbaya membawa sinyal yang cukup kuat dari forum internasional Indonesia dipandang sebagai salah satu yang paling stabil di tengah ketidakpastian global.
IMF bingung.
Investor senang.
World Bank mau kerja sama lebih dalam.
Dan Indonesia yang ditawari dana talangan menolak karena tidak butuh.
Itu bukan hal kecil kalau memang berjalan sesuai yang diceritakan.