-Kini kami Dwitunggal-
Sejak awal langkah ini dimulai, ketika jalan masih gelap, ketika suara-suara kebenaran terasa seperti berbisik di tengah badai yang paling menguatkan kami, saya dan Rismon, yang waktu itu masih waras, adalah Mas Roy.
Ia tidak sekadar hadir. Ia mengayomi.
Ia tidak sekadar berbicara. Ia menguatkan.
Dalam setiap tekanan, setiap gempuran, setiap tudingan yang datang tanpa henti dari berbagai arah, Mas Roy berdiri seperti dinding yang kokoh.
Setahun ini bukan waktu yang pendek. Rangkaian hari-hari panjang yang menguras tenaga, emosi, bahkan keyakinan terdalam.
Namun di tengah itu semua, Mas Roy tetap tegak, dengan stamina yang seakan tak habis, dan mental yang tak retak.
Namun ada satu hal yang sering luput dilihat orang, saat kita sedang letih dan lemah. Mas Roy yang selalu ceria, yang tawanya berderai-derai.
Ringan, lepas, seolah ingin mencairkan segala beban yang kami pikul bersama.
Tawa dan cerianya bikin kami naik semangat.
Ia hampir tak pernah berkata tidak.
Selalu ada “iya” di setiap permintaan, di setiap kebutuhan, di setiap kelelahan yang kami rasakan.
Dan lebih dari itu,
ia selalu berusaha menyenangkan semua orang.
Di tengah kerasnya perjuangan, ia memilih menjadi pribadi yang hangat.
Di tengah gelapnya tekanan, ia memilih menjadi penerang yang sederhana: tawa, kehadiran, dan kesediaan.
Ia benar-benar Abang.
Bukan hanya karena usia. Tapi karena jiwa.
Dan kini…
ketika Rismon memilih jalannya sendiri, meninggalkan ruang perjuangan yang pernah kita isi bersama, ada kekosongan yang tak bisa dipungkiri.
Sunyi itu nyata.
Namun perjuangan tidak boleh berhenti.
Kini kami berdiri sebagai Dwitunggal.
Bukan karena segalanya menjadi lebih ringan, justru sebaliknya.
Tapi karena kami tahu, amanah ini tidak boleh jatuh.
Dari tiga, menjadi dua.
Dari ramai, menjadi lebih senyap.
Namun justru dalam kesenyapan itu, tekad kami mengeras.
Mas Roy, tetap Abang yang sama.
Dengan tawa yang tak pernah benar-benar padam,
dengan hati yang selalu berkata “iya”,
dengan niat tulus untuk membahagiakan orang-orang di sekelilingnya.
Dan saya, akan tetap melangkah.
Dengan segala luka, dengan segala pelajaran, dengan segala kesadaran bahwa perjuangan ini tidak pernah tentang jumlah, tetapi tentang keteguhan.
Karena pada akhirnya,
yang bertahan bukan yang paling banyak,
tetapi yang paling setia pada kebenaran.
SEPULUH TUNTUTAN RAKYAT
UNTUK INDONESIA
(SEPULTURA)
(Demo 1 September 2025 serentak di seluruh kota di Indonesia)
1. Copot Kapolri dan Reformasi Polri
2. Batalkan RUU Kenaikan Gaji DPR RI
3. TOLAK dan Batalkan RUU KUHAP 2025
4. SAH kan RUU Perampasan aset Koruptor menjadi UU
5. Adili Jokowi dan Makzulkan Gibran secara adil dan transparan
6. Batalkan Kenaikan pajak dan BPJS
7. Reshufle Kabinet dan Ganti para Menteri, Pejabat BUMN, Anggota DPR RI yg bermasalah
8. Rampas dan Kuasai oleh negara Sumber Kekayaan Alam, dan Aset Vital negara yang di kuasai Mafia Oligarkhi
9. Kembali kepada UUD 1945 melalui Dekrit Presiden, versi Dekrit Presiden 5 Juli 1959
10. Rembuk Nasional, Rekonsoliasi Nasional, dan hentikan perlakuan Diskriminasi politik dan ekonomi kepada masyarakat yang berbeda pendapat dan pilihan
(Materi diambil dari gabungan tuntutan elemen Mahasiswa dan Masyarakat yg beredar di sosial media)
Kapolri dalam genggaman
Masih kurang aman?
Masih perlu tambah keamanan
Jadi harus datangkan preman?
Kalau ketakutan munculnya dari dalam hati dan pikiran
Mau seribu polisi dan sejuta preman dikerahkan pun tak akan mampu mengusir rasa takutmu.
Kalau masih ingat ada Sang Maha Kekuatan, namanya Tuhan
Tuhan, Allah, adalah Sang Sumber Kekuatan kami, rakyat jelata ini
Jadi apapun yang namanya masih makhluk ciptaan Tuhan, kami tidak takut, karena kami yakin, Tuhan akan menghilangkan ketakutan kami atas apapun.
Kami cuma takut, kalau kami salah, kalau kami menipu, kalau kami berdusta, kalau kami berbohong, kalau kami mencuri, kalau kami merampok
Itu kami takuuuut sekali
Karena yang paling kami takutkan adalah, Allah murka.
Jadi, jangan takut-takuti rakyat dengan segala macam intimidasi dan ancaman.
Dan jangan hilangkan ketakutanmu dengan mendatangkan preman.
Hilangkan ketakutanmu
Dengan pertobatan.
Dengan pengakuan.
BANTU VIRAL KAN MENTEMEN AGAR SI ANJING YANG NGAKU PAKAR HUKUM INI BISA DITANGKAP KARENA SUDAH MELAKUKAN INTIMIDASI & KEKERASAN KEPADA PESERTA AKSI
#LawanPremanisme#LawanPremanisme