For some reason, this made me think of the quote “In Islam, it’s actually hard to go to Hell. So if you end up there, it’s literally a skill issue.” 🥹
Beneran Allah tuh baaiiikkkk bangeeettt :’)
Barangkali ada yang bingung.
"Kok bisa ya dia melakukan tindakan kriminal tapi nggak ngerasa bersalah?" "Kok dia gak ada malunya ya setelah melakukan zz?"
Aku mau jelasin pake teori psikologi sosial 'Moral Disengagement' by Albert Bandura.
(This is a long thread)
jadi ceritanya pemerintah indonesia minta ke russell group (gabungan 24 universitas top UK) buat minta tenaga pengajar utk Universitas Republik Indonesia buatan prabowo yg lg dibangun. russell group minta pertimbangan CELIOS dan dijawab mending pikir-pikir dulu deh sambil denger pandangan peneliti.
soalnya ini proyek ga jelas arahnya ke mana terlebih di tengah anggaran yg serba terbatas. sebetulnya indonesia ga kekurangan kampus. dia ngasih saran mending kerja samanya buat nguatin kampus-kampus yg udah ada
Hi warga pengguna transum. Aku baru aja buat app untuk melacak transum di Indonesia 🚌
🔗 https://t.co/hvnKdCs9s7
Selama ini kita harus install app beda-beda dari tiap provider (TJ, Mitra Darat, dll). Ribet kan? Makanya aku ngumpulin semuanya jadi satu.
when i first encountered the concept of islamization of knowledge, i was genuinely amazed. rasanya kayak, jangan-jangan ini jawaban dari kenapa banyak hal hari ini terasa asing. banyak kesakitan, kebingungan, dan kerusakan ternyata bukan cuma soal perilaku, tapi juga soal cara kita memandang dunia. hal ini juga merembet ke perbedaan antara titik tumpu psikologi islam dan psikologi barat.
katanya, the terms we use matter. bahkan sebagai muslim, banyak dari kita lebih fasih dengan istilah-istilah sekuler daripada konsep dalam agama sendiri. hal ini menunjukkan betapa dalamnya pengaruh penjajahan intelektual. since language is never neutral, setiap istilah membawa konsep, asumsi, dan worldview.
misalnya, zina direduksi jadi “consensual sex”. fokusnya jadinya ke consent, sementara dimensi moral, spiritual, dan sosialnya jadi hilang. tabarruj direduksi jadi “self expression”. secara gak sadar, istilah yang kita pakai akhirnya membentuk cara kita melihat benar dan salah.
sejak itu jadi paham kalau belajar bahasa arab bukan cuma soal belajar bahasa, tapi juga upaya dalam membebaskan cara berpikir
sadar ngga sih, musuh terbesar masa depan kita tuh kadang bukan saingan yg lebih pinter atau privillege orang lain. musuh terbesarnya adalah isi kepala kita sendiri yg hobi banget bilang, "nanti klo gagal gimana? maluuuu" ujung-ujungnya, kesempatan emas lewat gitu aja dan kita berakhir jadi penonton doang.
kenapa bisa gitu yaa? nah artikel penelitian ini ngebahas fenomena ini. ternyata, penyesalan itu terbagi jadi dua yaitu nyesel karena udh bertindak dan nyesel karena diam aja. waktu kita nyoba sesuatu dan ternyata gagal, otak kita bakal memicu emosi kayak rasa malu, ngerasa bersalah sampai marah sama diri sendiri. karena menahan rasa malu itu rasanya ngga enak banget buat ego kita kita mikir, "mending gausah nyoba deh, cari aman aja."
klo kita milih nurutin rasa takut itu dan ngelewatin kesempatan yg ada (diam aja), penyesalan yg datang bentuknya beda lagi. bukannya lega, kita malah bakal dihantui sama emosi sedih dan rasa frustrasi karena merasa gaberdaya. coba bayangin bedanya, rasa malu karena gagal mencoba itu memang menyakitkan ego, tapi cuma sebentar. sedangkan rasa frustrasi karena terus-terusan mikir "coba aja dulu aku lebih berani dan ga melewatkan kesempatan yg ada" ituu mungkin rasa penyesalannya bisa seumur hidup.
terus gimana caranya biar kita lebih berani ambil langkah?
- rasa malu itu wajar, terima aja klo nyoba hal baru itu emang sepaket sama risiko kelihatan gatau apa-apa (bodoh) karena mungkin masih pemula. gapapa, malunya cuma bentar kok.
- pas lagi ragu coba mikir dan tanya lagi ke diri sendiri, "aku mundur karena emang ini pilihan yg buruk atau karena gengsi takut gagal dan malu doang?"
- hidup itu pasti ada nyeselnya. mending nyesel karena udah berjuang dan gagal atau nyesel karena ngga pernah tauu hasilnya sama sekali?
artikel penelitian ini memiliki keterbatasan, yaitu:
- riset ini mengandalkan ingatan partisipan tentang penyesalan mereka di masa lalu, jadi sangat mungkin ada bias memori.
- penelitian ini dilakukan pada kelompok partisipan di Prancis dan Jerman. jadi, mungkin bisa sedikit berbeda kalau diukur di lingkungan budaya kita yg cenderung beda.
kabar baiknya, rasa malu karena berani mencoba itu cuma sebentar. kabar buruknya, meski berdiam diri di zona nyaman itu terasa paling aman. kadang, ga berani nyoba jadi penyesalan yg lebih terasa menyakitkan seumur hidup.
klo kalian gimana, ada ga sih satu kesempatan berharga yg pernah dilewatin gitu aja cuma gara-gara takut gagal atau malu?
Ngaku deh, sekarang buka search engine pasti udah jarang klik link apalagi geser halaman.
Mandhek di ringkasan yg dibuat AI.
Mesin pencari udah jadi mesin penjawab dan mesin pengambil kesimpulan.
Dan itu "berbahaya".
https://t.co/8TR0WkJFTx
Existem MUITAS oportunidades foda (summer schools, internships, bolsas, conferências, programas de pesquisa...) que a gnt perde pq descobre tarde demais
Aí fiz esse repo que mapeia várias oportunidades globais, desde a academia à indústria pra área tech :)
Dulu aku juga mikir gitu: “aku sebenernya jago apa ya, skill ku mau dibawa kemana ya” dll
Terus aku minta AI analisis pengalaman, skill, dan target karierku. Hasilnya, AI ngebikinin competency map dan roadmap belajar.
Lumayan banget untuk yg bingung mau mulai dari mana. Kamu tinggal masukin aja personal background, dll. Ini prompt nya ⬇️🗂️
Un psiquiatra de Stanford afirma que la ansiedad moderna no la provoca el peligro, sino pequeños hábitos diarios que te hacen entrar en pánico.
6 hábitos que están disparando tu ansiedad sin que te des cuenta:
1. Coger el móvil en cuando te sientes incómodo.
Btw, ternyata banyak orang yang clueless tentang berita sama sekali.
Ada loh yang gak tau kalau Nadiem divonis kemarin.
Ada loh yang gak tau kalau mahasiswa demo MBG itu karena pemborosan anggaran 1.2 triliun per hari.
Ada loh yang gak tau kalau Dadan ditangkap kejaksaan karena korupsi BGN.
Gimana caranya biar orang-orang tuh ngikutin, ngerti konteks, sampai tau apa yang sebenarnya terjadi itu susah.
Apa lagi di grassroot. Yang di pikirannya hari ini makan apa dan besok makan apa.
Semua itu abstrak buat mereka.
sepakat dan setuju, sejalan banget sama teknik "worry time" dalam CBT (terapi perilaku kognitif). konsepnya adalah melatih otak untuk menunda dan membatasi waktu cemas, supaya beban hari esok gak ngerusak hari ini. gini cara praktis menerapkannya saat overthinking:
- jadwalkan waktu khusus kyk 15–20 menit setiap hari (misal jam 5 sore) khusus buat mikirin semua kecemasan. usahakan jangan pilih waktu dekat jam tidur yaa..
- catat dan tunda misal cemasnya muncul jam 10 pagi, jangan langsung diladenin. cukup catat di notes HP, lalu bilang ke diri sendiri, "bakal mikirin dan pusingin ini nanti jam 5 sore" lalu balik fokus ke aktivitas sekarang
- pas jadwalnya worry time, buka catatan tadi. pilah mana hal yang bisa dicari solusinya, dan mana hal yang di luar kendali kita (yang harus diikhlasin)
- begitu alarm 20 menit bunyi, STOP. langsung alihkan pikiran dengan aktivitas fisik atau hiburan yang menyenangkan.
belajar cicil cemasnya dan perlahan belajar mengendalikannya dengan memilih mana yang dalam kendalimu dan di luar kendalimu🤝🏻
Personally I like cafe latte better, krn ada rasa susu, tp tetap tanpa gula. Cuma buat org yg suka rasa hambar or not too much dlm makanan dan minuman, trus lagi nge-cut gula, americano nih oke banget.
Gw rasa pertanyaan ini bakal lebih valid dijawab sm pencinta kopi, krn rasa espresso itu beda2, jd americano tuh cara termudah buat "ngetes" rasa kopi kalo ngerasa espresso terlalu "pekat" (at least begitulah for me).
bingung ma org yg suka americano (no offense) mreka ni suka americano bneran ap cuma biar keren yh (no offense) soalnya pernah nyoba americano rasanya kaya hambar pait doang (no offense) apa emg seleranya beda ya? (no offense) bertanya dg nada lembut tdk membentak,,,🤧🤧😅😳