Intinya, masa lalu, saat ini, & masa depan itu semuanya SUDAH terjadi
Makanya masuk akal klo Nabi bisa ngasih tahu bbrp hal di masa depan yg sebagiannya sdh trjadi, sebagian lainnya masih nunggu utk terjadi.
Means, kiamat telah terjadi, surga & neraka jg sudah ada yg menghuni.
Jadi makin ga heran klo Nabi sudah bisa melihat bbrp penghuni neraka saat mi’raj, padahal kiamat bagi kita skrg aja belum terjadi.
Bisa aja Nabi diberangkatkan menuju masa depan (semacam perjalanan waktu) oleh Allah.
Dan ini sangat mungkin dipahami dlm kerangka konsep waktu yg kita kenal di atas tadi: higher dimension bisa mengakses space-time di dimensi kita.
Coba cari dan baca text pidato Presiden RI di BRIC Summit. Ketemu dua paragraf menarik di open session 14 Sept 2026:
"Indonesia knows this reality very well. We are an archipelagic nation, seated in the most active ring of fire. We live daily with rising sea levels, extreme weather, active volcanoes. Yet, our lands and our seas also hold much of what the future will be built upon. Critical minerals, rare earth, renewable resources for clean technology and high technology, and the forests that breathe for the world.
The same is true across BRICS. Together, we hold a significant share of the world’s critical minerals and energy resources. We possess everything on which the green century will be built. That is why when disaster strikes, we must see this as more than a disaster. We must see the close connection between climate change resilience and national development."
Setuju dengan waspada bencana alam, tapi kok anggaran BNPB turun dan respon banjir Aceh+Sumut, gempa NTT serta karhutla Kalimantan tidak sesigap dan se-efektif Presiden2 lain paska reformasi?
Setuju dengan perlu keterkaitan antara climate change dan pembangunan, tapi dimana saja implementasi utamannya sejak Oktober 2024?
Ide besar dan niat baik perlu dibumikan dan didetilkan beserta tahapn supaya punya dampak riil ke masyarakat dan bukan hanya omon-omon.
Selamat jalankan amanah besar Pak Suahasil.
Sisi bagusnya masa jabatan Purbaya setahun +6 hari, masyarakat dan Presiden jadi sadar pentingnya Menkeu yg:
1. statement serta decision2-nya berbasis data dan kondisi di lapangan,
2. tidak overpromised dan under-deliver
3. Tenang & bisa tenangkan para pelaku ekonomi
4. Bisa yakinkan Presiden untuk potong anggaran program yg disukai/diprioritaska Presiden tapi sebenarnya tidak begitu diperlukan atau tidak perlu sebesar skr.
Bagi yg tertarik academic conference tentang Firms, Trade and Development, berikut conference di Yale University, 10-11 Sept. Bisa diikuti lewat zoom.
Bagi yg tertarik, saya akan memberikan keynote speech “Tough Love for Industrial Policy: Lessons of Fifty Years of Indonesian Trade Policy.
Paper2 nya menarik, ada David Atkin (MIT, Eric Verhoogen (Columbia), Mayara Felix (Yale) dsb. Berikut link nya
https://t.co/3j498U2pec
Saya ditanya: support dosen dan guru, atau bangun 30.000 MW lebih dulu?
Saya pilih dosen dan guru. Sebenarnya karena satu hal: saat ini teknokrasi dan meritokrasi adalah spesies yang terancam punah.
Kenapa?
Kalau kita bandingkan 30 tahun terakhir, pendapatan per-kapita Tiongkok naik 10 kali lipat. Asia Tenggara hanya sekitar 2,7 kali.
Ada lima atribut di balik ketertinggalan ini:
(1) Kita cenderung menyeleksi talenta berdasarkan loyalitas, bukan meritokrasi.
(2) Kurangnya titik temu yang optimal antara talenta dan kekuasaan.
(3) Kurangnya daya saing, tercermin dari izin usaha kita yang hanya 0,3 per 1.000 orang dewasa, dibanding Tiongkok dan Singapura yang mencapai 8-10.
(4) Model pembangunan yang sentripetal, menarik segalanya ke pusat, sehingga ketimpangan kekayaan dan pendapatan makin lebar dan oligarki makin difasilitasi.
(5) Dan yang paling fundamental: kurangnya investasi di pendidikan.
Karena tanpa reformasi untuk kepentingan gaji guru atau kompensasi, saya nggak melihat Indonesia, atau sebagian besar dari Asia Tenggara, bisa menuju ke arah keemasan.
Kita harus menyadari bahwasanya IQ manusia itu bisa berkembang sampai umur 16 tahun.
Tapi setelah umur 16 tahun, yang paling penting untuk mengembangkan manusia itu adalah keterbukaan. Keterbukaan itu sangat foundational untuk bisa mengkombinasikan antara kekuatan inovasi dengan kekuatan preservasi. Saat perkembangan otak seseorang tidak optimal, bisa dikompensasi dengan kualitas guru.
Di sinilah benang merahnya. Kemampuan kita memilih dengan basis seleksi, bukan sekadar elektabilitas, sangat bergantung pada kemampuan kita berpikir. Kemampuan berpikir itu dibentuk oleh guru.
Ini pula yang berkorelasi dengan kemampuan kita membangun ekosistem yang memadai untuk 30.000 MW. Karena tanpa kualitas guru yang membuahkan SDM yang mumpuni, sebesar apa pun kapasitas yang kita bangun, hasil jangka panjangnya tidak akan tahan lama.
Dan jika resah menunggu gerakkan top-down, maka mungkin kita harus perbanyak bottom-up kan perubahan sosial ini. Perbanyak diskusi entah di tempat tongkrongan, tempat ibadah, puskesmas, atau di meja makan rumah sendiri.
Dan yang kita perbanyak sebaiknya diskursus ide, bukan sekadar fenomena. Karena selama percakapan kita hanya berhenti pada sensasi dan peristiwa yang datang dan pergi, kita tidak akan pernah beranjak.
Tapi ketika kita mulai membiasakan diri berdiskusi tentang gagasan, di situlah inkrementalisme kecil hari ini bisa membuahkan lompatan besar suatu hari nanti.
Pertanyaan Prof Jimly Asshiddiqie yang suhu besar hukum & mantan Ketua MK perlu kita anggap serius.
Tidak ada larangan dan bukan hal ilegal bagi Mensesneg untuk bicara di konpres di BI ttg mundurnya Gub BI.
Mensesneg bukan hanya hadir tapi juga bicara duluan dari Deputi Gub Senior BI yang menjadi Pejabat Gub BI sampai ada Gub BI definitif. Hal ini terjadi ketika independensi BI (banyak dianggap) melemah.
Pakar komunikasi Marshall McLuhan pada tahun 1964 menyatakan bahwa "the medium is the message.” Ada pesan penting dibalik daftar pembicara dan urutan bicara di prescon tersebut.
Ada rumor BI akan ditarik ke kabinet, agar langsung dibawah presiden. Independensi BI hilang. Dampaknya fatal bagi rupiah jika ini terjadi.
China dan Vietnam punya Bank Sentral dibawah presiden, tidak independen. Relatif berhasil.
Turki dan Zimbabwe gagal total; bank sentral mrka tidak independen.
Politisi selalu ingin suku bunga rendah, agar ekonomi tumbuh. Tapi bahayanya : nilai mata uang bisa kolaps, dan inflasi naik tajam.
Ekonomi Turki x Zimbabwe relatif hancur krn bank sentral hanya jadi kaki tangan presiden.
Kenapa China x Vietnam berhasil meski bank sentral kurang independen? Sebab mereka punya disiplin ekonomi jangka panjang; dan amat terpadu garis kebijakannya. Mereka juga punya kebijakan industri yg solid, serta orientasi ekspor.
RI maybe akan bernasib sama dengan Turki jika BI tidak independen.
Erdogan pecat gubernur bank sentral berkali2, karena menolak menurukan suku bunga (mirip di Ri). Dampaknya : kepercayaan pasar hancur, dan inflasi Turki naik 70%, dan lira kolaps. Gila kan dampaknya.
RI1 amat bernafsu naikkan pertumbuhan ekonomi RI. Tampaknya beliau kurang sreg dengan kebijakan BI yg terlalu lama pertahankan suku bunga tinggi.
Tapi nafsu ini bisa fatal dampaknya. Jika suku bunga BI dipaksa diturunkan, maka dampaknya :
- rupiah bisa kolaps ke 20 ribu
- inflasi melambung
- modal asing akan lari keluar
- bunga utang RI dalam dollar akan makin berat dibayar krn rupiah hancur
- bunga utang RI jug akan naik tajam karena tidak ada lagi kepercayaan pasar atas masa depan ekonomi RI
RI1 maybe mirip sekali Erdogan. Hanya karena kepentingan politik jangka pendek, kebijakan ekonomi jangka panjang diabaikan. Ujungnya malah ambless.
Apa mitigasinya jika BI benar2 dihapus independensinya?
- adopsi gaya kebijakan bank sentral China yg tetap disiplin jaga nilai mata uang (meski dibawah kuasa Xi Jinping). Artinya bank sentral China tetap rasional krna Xi juga lumayan rasional (krn didampingi teknokrat ulung).
Bukan kayak Erdogan yg sok2an atur ekonomi Turki, tapi malah bikin hancur. RI1 mau tiru Erdogan atau Xi?
- perbanyak ekspor agar makin melimpah surplus devisa (amat penting untuk jaga kekuatan fiskal). China amat berhasil dalam hal ini, juga Vietnam.
****
Gaya kebijakan RI1 ini makin susah ditebak, dan berasa makin sentralistik. Inilah yg sebenarnya jadi penyebab utama kenapa rupiah anjlok amat tajam semenjak beliau dilantik.
Hobinya seremonial dan kasi sambutan.
Kalo dikritik, tersinggungan lalu gas ke wa pribadi menuju doxxing.
Kerja nomer dua, nama baik adalah utama
Kalo melaju pake kendaraan, harus dikasi jalan
Kalo berobat harus dikasi spot terdepan.
👍
Top KOE
SING LIYANE BENG2
The deal has been made🤝
Setelah kasus Febri dilimpahkan dari Polri ke Kejaksaan, sekarang Kejagung stop pemeriksaan SPPG.
Sungguh bangsa yang menjunjung tinggi rasa kekeluargaan dan penyelesaian masalah secara musyawarah mufakat😌😌
Pukimak betul kalian ini. Berkelahi dan saling mempermalukan satu sama kalian lalu cipokan didepan kami. Besok-besok jangan lagi gunakan kalimat ‘Kita ini negara hukum’. Kalian menunjukkan ini bukan negara hukum tp ini negara milik nenek klean.
Enakan nikah dipestain mewah gede gedean sama mertua, pulang ke rumah yang dibeliin mertua pake mobil yang dibeliin mertua juga.
Gausah romantisasi nikah di KUA dengan narasi mendiskreditkan nikah mewah.
Gapapa nikah mewah, gapapa nikah di KUA.
Gapapa tinggal sendiri, gapapa juga tinggal sama mertua.
Yang ga boleh banding bandingin orang lain sama kehidupan kita.