LUHUT SOAL MBG: INI SEMUA TIDAK PERLU TERJADI
***
Kita terpaksa memperbaiki yang sebenarnya nggak perlu diperbaiki
Kalau kita mulai dari nol, di daerah 3T misalnya.
Jadi kita habis waktu bertengkar sesama kita yang sebenarnya nggak perlu terjadi.
Kalau dari awal perencannanya studinya dilakukan dengan proper.
Jadi masalah kita adalah ide-ide besar Presiden tidak kita siapkan perencanaan yang matang.
Itu salah kita semua.
Gue mulai considering taking #KaburAjaDulu seriously deh, kalian kalo dikasih kesempatan bakal memperjuangan buat kabur kemana?
Soal peluang, ternyata LN lagi banyak buka loker drivers, housekeeping, dan labourer in general. Kalian minat ga kalo kerjaannya bukan kantoran banget gini?
Me personally, RUSSIA. Always fascinated with their language, and culture. Ada koneksi juga di sana 👀
Yap! Kenapa ya aku ngerasa kaya empatinya tuh berkurang? Pas ortu sakit, temen, bahkan sodara sakit pun aku biasa aja, pas nenek meninggal juga aku gak nangis, tapi aku berusaha buat tetep respon peduli, cuma emang gak ada perasaan apa2. Itu kenapa ya?? Takut gak normal...
gue baca di threads, UMKM banyak merugi gara2 pemadaman listrik dr PLN.
adonan mereka gagal, ikan nila jualan mereka mati. Ini baru sebagian, aslinya masih banyak lagi org2 yg usahanya terganggu.
Sedangkan info pemadaman cuma ada di medsos.
Wak tau nggak kalian....?
BANK DUNI SEBUT ORANG INDONESIA BAKAL SUSAH JADI KAYA BAHKAN BISA SAMPAI MISKIN KECUALI PEJABATNYA
Penyebab utama menurut laporan Bank Dunia Economic Prospects Juni 2026 adalah masalah struktural di pasar kerja dan mobilitas ekonomi. Berikut poin²nya wak
1. Kualitas Lapangan Kerja Rendah & Kurangnya Pekerjaan Produktif
● Ekonomi tumbuh sih tumbuh katanya wak 5,6% di Q1 2026, tapi lapangan kerja baru banyak terserap di sektor produktivitas rendah seperti pertanian, akomodasi, dan makanan²
● Sektor berketerampilan tinggi seperti jasa keuangan malah stagnan atau menurun wak gila gak tuh
● Hasilnya wak, Banyak pekerjaan baru, tapi tidak mendukung naik kelas ke kelas menengah. Ntah mana janji 19 juta itu😤
2. Penurunan Upah Riil wak
● Bayangkan wak Upah riil pekerja berpendidikan menengah-tinggi turun 1-2% per tahun sejak 2018.
● Pendidikan sih meningkat wak , tapi itah tidak diimbangi pendapatan yang lebih baik banyak yang terjebak di pekerjaan informal atau low-skill. Strees gak tuh para sarjana baru
3. Golongan Underemployment paling mendominasi wak
● Bayangkan wak tingkat underemployment mencapai 32,7% pada 2025 dan terus naik.
● artinya wak, orang punya kerja tapi jam kerja kurang atau pendapatan tidak cukup untuk hidup layak/kaya
4. Ini yang paling terasa wak Penyusutan Kelas Menengah yang Signifikan
● Bayangkan wak, Proporsi pekerja dengan pendapatan setara kelas menengah turun dari 14,5% 2018 menjadi sekitar 7% 2025.
● Kelas menengah yang jadi motor konsumsi & pertumbuhan menyusut wak hampir separuh dalam 7 tahun. Ini udah macam bom waktu wak.
5. Faktor Pendukung Lainnya wak
● Biaya hidup naik,inflasi, harga BBM seperti Pertamax, dll. sementara daya beli stagnan wak.
● Yang lebih parah wak, Ketidaksesuaian struktural: Pertumbuhan lebih didorong permintaan stimulus, konsumsi daripada produktivitas jangka panjang.
● Ininyang paling menyakitkan wak, Risiko vulnerabilitas, Banyak orang di ambang aspiring middle class mudah turun kembali ke miskin/vulnerable karena guncangan kecil, seperti kenaikan pertamax itu lah wak.
Dah lah wak singkat aja ye kan, Tanpa reformasi besar di produktivitas, pendidikan yang link ke skill relevan, logistik, investasi publik, dan penciptaan job berkualitas tinggi, sulit naik kelas bahkan risiko turun miskin tetap ada meski ekonomi tumbuh.
Sekian lah wak, nggak pandai panjang lebar. Mungkin juga awak salah, yang paham coba koreksi.
Kalau nanti tarif listrik sampai naik, jangan cuma marah ke PLN. Salah satu yang harus ikut disalahkan adalah MBG.
Kok bisa?
Mari saya jelaskan.
Masalah listrik hari ini salah satunya berawal dari pasokan batu bara ke PLN yang tidak lancar. Padahal batu bara itu bahan bakar utama banyak pembangkit listrik kita.
Kenapa bisa terjadi?
Karena ada yang namanya DMO (Domestic Market Obligation)
Sederhananya, perusahaan batu bara diwajibkan menjual sebagian produksinya untuk kebutuhan dalam negeri, termasuk ke PLN.
Masalahnya, harga batu bara untuk PLN dipatok lebih rendah dibanding harga pasar ekspor.
Jadi secara bisnis, pengusaha batu bara lebih "tergoda" menjual ke luar negeri karena marginnya lebih besar.
Kalau pemerintah mau bikin pasokan PLN aman, harga batu bara DMO harus dibuat lebih kompetitif.
Tapi konsekuensinya biaya produksi listrik PLN naik.
Nah, dari sini pilihannya cuma dua:
tarif listrik dinaikkan, atau subsidi/kompensasi listrik ditambah.
Saat ini, subsidi listrik sekitar Rp90–100 triliun per tahun.
Jika ditambah kompensasi untuk menahan tarif, beban listrik di APBN bisa tembus Rp245,58 triliun.
Masalahnya, ruang fiskal negara sudah keburu disedot program jumbo seperti MBG.
Jadi ketika subsidi listrik butuh tambahan, pemerintah akan bilang APBN terbatas.
Ujung-ujungnya?
rakyat lagi yang diminta untuk mengerti:
bayar listrik lebih mahal,
atau terima pemadaman bergilir.
Dan semua ini tidak akan terjadi kalau ratusan triliun APBN tidak dikunci untuk MBG.
💚 aduhh pas bgt lewat pas lagi kerja🥰 (iya gaji gua 100k perhari, iya jam kerja gua dari 09.00-17.00, iya sabtu tetap kerja) tanggal merah dihitung libur jadi ga dapat gaji🥰 dan komen di tiktok bilang gaji segitu udah bnyak?? are we f*cked up?
“politik ga ngaruh ke hidup gue”
tapi kopi lu naik 2.000
tapi bensin lu naik jadi 16.250
tapi rumah lu kebagian pemadaman bergilir
heran, padahal itu nyata bgt depan mata mereka
Ini valid banget loh. Temenku di US kerja di kantor pos, tugasnya cuma sortir surat, kerjaan fisik dengan low skill. Tapi di sana dia bisa beli rumah, mobil, dapet jaminan kesehatan, & anak sekolah gratis.
Di Indonesia? Kerja fisik setengah mati sampe tua kayak gini, boro-boro aset, buat makan besok aja masih mikir. Systemic failure-nya nyata.
Kita ngalamin yang namanya Inflasi Pendidikan.
Gelar S1 zaman now itu nilainya udah setara sama ijazah SMA zaman dulu karena hampir semua orang bisa kuliah.
Efeknya, HRD jadi kebingungan ngefilter lautan sarjana ini. Solusinya? Mereka nyiptain rintangan ala Ninja Warrior atau Hunger Games (Online Test berlapis, FGD/LGD, presentasi kasus, psikotes berjam-jam).
Proses ribet itu berevolusi bukan karena kerjaannya butuh skill yang bagus, tapi semata-mata buat nge-eliminasi ribuan kandidat dengan cepet aja. 🤓
Supply and Demand buat lapangan pekerjaan disini juga jomplang banget cik. Supply tenaga kerja di Indo kata GIBRAN membludak ruah, sedangkan lapangan kerjanya seret.
Dampaknya? Karena tahu yang butuh kerja itu ada jutaan orang, perusahaan seenaknya melempar beban biaya penyeleksian ke pelamar. 👹
Kalo dibandingin di US atau di Eropa mah proses rekrutmen rata-rata straight to the point. Kirim CV/Resume - Screening (via telepon) - Interview (1 atau 2 kali sama user/manager) - Offering.
Tes aneh-aneh berjam-jam atau MCU sampai disuruh puasa dan bugil itu jatuhnya red flag dan bisa kena tuntutan pelanggaran privasi malahan di US/Eropa. KECUALI lu daftar masuk militer, kerja di lab berbahaya, atau buruh fisik berat.
Di Indo? Daftar staf admin entry level aja MCU-nya kayak mau dikirim dinas ke daerah konflik 💀