hrsnya aku bisa cerita ke orang tua anak itu. tapi aku terlalu pendiam saat itu. aku ga pandai komunikasi dan bersosialisasi.
terima kasih sudah dengar cerita ini. ambil sisi baiknya saja.
hai semuanya disini aku mau cerita hal yg aku alami waktu aku masih SMP bbrp tahun yg lalu.
aku mengalami pelecehan dari seorang anak laki-laki umurnya kira-kira masih 3-5 tahun aku kurang tau.
ini terjadi di rumahku sendiri. dari keluargaku? bukan. tetangga? ya.
suatu hari
"JANGAN BAWA TEMEN KMU LAGI KESINI"
gatau aku hari itu ga takut. karena aku masih beruntung masih pake handuk. yang bikin aku ga habis pikir bocah sekecil itu? hah?
smpe detik ini aku blum cerita ke siapapun. gada yg tau cerita ini termasuk adikku itu.
SUMPAH UNTUNGNYA AKU MEMBELAKANGI JENDELA DAN MASIH PKE HANDUK.
KEPALANYA NONGOL MASUK DARI JENDELA.
sialan emosi aku waktu itu langsung naik.
"NGAPAIN DISITU HAH?"
DUK DUK DUK
dia langsung kabur banting jendela.
adikku yang cwe masuk gebrak kamar.
"kenapa kak?"
karena akses ke utk kedepan jendela terhalang oleh barang² yg sudah ga kepakai. makanya jendela agak susah dibuka.
GA NYANGKA
anak laki-laki itu ke jendela.
dia buka paksa jendela itu yang jelas² terhalang banyak barang.
betul juga. badannya kecil jd mudah menyelip.
AKU KAGET
dia duduk mengarah padaku. waktu itu aku gatau. ya tapi aku tutup pintu kamar untuk memakai pakaian. saat itu jendela kamar terbuka tp ga dikait ke slot. (ngerti ga ya) jadi org dari luar bisa buka. gorden posisi tersibak. aku ga kepikiran buat tutup baik-baik karena akses...
tapi akhirnya aku putuskan utk mandi. setelahnya aku keluar hanya memakai handuk. kupikir ini tidak "mengundang" karena badanku tepos. aku berjalan masuk ke kamar. dan saat aku berjalan anak laki-laki itu pun juga berjalan dari ruang TV ke kursi yg persis ada di depan kamarku???
karena waktu sudah hampir maghrib, aku harus segera mandi sebelum orang tuaku pulang. tapi anak laki-laki itu tidak kunjung pulang. aku gamau mandi saat ada orang asing di rumah. aku merasa ga aman. aku ga nyuruh dia pulang karena saat itu aku sangat pendiam aku ga berani menegur
sore itu, teman-teman adikku mengajaknya bermain keluar rumah. tapi adikku ga mau. ia memilih menonton TV bersamaku. tapi salah satu teman laki-lakinya masuk ke rumahku dan ikut menonton TV. aku agak risih karena aku ga suka ada orang asing main masuk ke rumah. sekalipun tetangga
orang tua ku pergi ada urusan. aku di rumah hanya berdua bersama adik perempuanku yg saat itu masih TK.
di rumah aku hanya menonton TV. aku jarang bersosialisasi keluar rumah dengan tetangga bahkan bisa dibilang ga pernah. tapi adikku banyak berteman dengan anak tetangga.
@gxlieplanet@mendadaknih kak boleh tutor gaaa btw aku lg agak tegang sm cwo aku. biasanya kita klo chattan always ada stiker d setiap pembicaraan kita. tp krna kmrn berantem yah gtu deh 😞
@mendadaknih ga prnh morotin sih tp waktu itu Alhamdulillah dia lg ada rezeki banyak dia maksa aku buat beli apa yg aku mau tp sumpah aku bingung karena kbnykan mikir dia yg milihin barangnya
@mendadaknih biar ga kena ain jd selama kita happy" aja ga perlu sih ada pengakuan dr eksternal tp kembali ke kebutuhan masing" ya ini bagi gw dan pasangan gw sdh sependapat
@baseconvo peran lu sbg cwo gantle, cwo provide, cwo perhatian, cwo anjay dah pokoknya malah d kasi k org lain bukan k pacar sendiri. ngapain ege lu pacarin dia peran lu aja kaga ada buat dia. nyakit"in bae ahhh taik mana dongo bgt lg pke nnya lg hal bgini ahhhhhkkkkk
Sebuah ironi sunyi, melihat pria merasa menaklukkan dunia hanya karena mampu membeli atap, lalu bertanya angkuh, "Selain rahim, apa yang kau bawa?"
Kau menanam benih sekilas embun, tapi dia meretas tubuh dan bertaruh nyawa sembilan purnama. Kau bisa membeli pilar kokoh, tapi istana tanpa telinga yang mendengar hanyalah pusara megah.
Jika cintamu cuma hitungan neraca "aku beri harta, maka kau harus tak bersuara", pelihara saja undur-undur dan kelomang di dalam toples kristal. Undur-undur akan selalu berjalan mundur menuruti egomu, dan kelomang bahkan sudah menggotong rumahnya sendiri tanpa perlu kau repot membelikannya. Mereka jinak, bisu, dan tak banyak menuntut.
Tapi saat kelak kau menua dan rapuh, undur-undur itu cuma bersembunyi di balik pasir, dan kelomang hanya akan meringkuk pengecut di dalam cangkangnya. Tak ada jemari lembut yang merawat, tak ada doa di sepertiga malam yang mengetuk langit. Karena harta bisa ditransaksikan, tapi rasa "pulang" tak dijual di etalase manapun.