🚨🚨 | Lionel Messi at the FIFA World Cup:
🏅 Most World Cup Tournaments Played (6)
🏅 Most Games Played (26)
🏅 Most Games Started (24)
🏅 Most Games as Captain (19)
🏅 Most Games with a Goal (12)
🏅 Most Games with a Goal AND an Assist (4)
🏅 Most Minutes Played (2314+)
🏅 Joint-Most Games Won (17)
🏅 Most Goal Involvements (24)
🏅 Joint-Most Goals Scored (16)
🏅 Most Goals by an Argentinian (16)
🏅 Most Assists (8)
🏅 Most Goals on Penalty (4)
🏅 Most Opening Goals in World Cups (8)
🏅 Most Goals to Put His Team Ahead (10)
🏅 Most Man of the Match Awards (11)
🏅 Most Dribbles Attempted (188+)
🏅 Most Successful Dribbles (112+)
🏅 Most Shots Attempted (108+)
🏅 Most Shots on Target (49+)
🏅 Most Chances Created (75+)
🏅 Most Big Chances Created (16+)
🏅 Most Key Passes (75+)
🏅 Most Accurate Passes in Opponent’s Half (824+)
🏅 Second-Most Goals From Outside the Box (4)
🏅 Second-Most Touches (1931+)
🏅 Second-Most Duels Won (222+)
🎯 1214+ Passes Attempted
✅ 39+ Accurate Long Balls
🎖️ 74+ Fouls Won
🔄 76+ Balls Recovered
🛡️ 37+ Defensive Actions
🎖️ Most goals for Argentina at the FIFA World Cup (16)
🎖️ Joint all-time top scorer in FIFA World Cup history (16)
🎖️ Most assists for Argentina at the FIFA World Cup (8, tied with Maradona)
🎖️ Only player to score at the World Cup in his teens, 20s, 30s and 40s.
🎖️ Only player to assist in 5 different FIFA World Cups.
🎖️ Only player to score AND assist in 4 different FIFA World Cup matches.
🎖️ First player to win the FIFA World Cup Golden Ball twice (2014 & 2022).
🎖️ First player to score in all 5 rounds of a single FIFA World Cup.
🎖️ First Argentine to score in 5 & 6 different World Cup matches in a single tournament.
🎖️ First Argentine to score in 3 & 4 different knockout matches in a single World Cup.
🎖️ Youngest and oldest player to record a goal and assist in a FIFA World Cup match.
🎖️ Youngest player to play for Argentina at a FIFA World Cup.
🎖️ Youngest player to score for Argentina at a FIFA World Cup.
🎖️ Youngest player to captain Argentina at a FIFA World Cup.
🎖️ Oldest player to score a FIFA World Cup hat-trick.
🎖️ Oldest player to score 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15 & 16 World Cup goals.
🎖️ Oldest player to win the FIFA World Cup Golden Ball.
🎖️ Biggest gap between first and latest FIFA World Cup goal: 20 years.
The most complete World Cup career in football history. 🐐🇦🇷🏆
🚨 OFFICIAL: Lionel Messi, TOP SCORER EVER in World Cup history joint with Miro Klose. 🎞️⭐️
16 goals at the World Cup. 💥🇦🇷
In one night, on 6th World Cup debut game at 38, Messi surpasses Mbappé (14), Müller (14) and Ronaldo Nazario (15).
A supermarket in Iran put up a sign:
"It's not a problem. If you need something, take it. After the war you can pay for it."
Iranians have never been more united.
Red Bull Sudah Mengumumkan Secara Resmi
Veda Ega Pratama, 17 tahun, asal Gunungkidul menjadi pembalap Indonesia pertama dalam sejarah yang menjadi atlet Red Bull!
🎥: Red Bull
Benarkah Nabi Mengabarkan Yahudi Israel dan Syiah Iran Akan Bersatu Mengikuti Dajjal?
Belakangan ini beredar kembali postingan yang mengaitkan konflik Israel–Amerika melawan Iran dengan sebuah hadis dari Sahih Muslim. Hadis yang sering dikutip adalah:
يَتْبَعُ الدَّجَّالَ مِنْ يَهُودِ أَصْفَهَانَ سَبْعُونَ أَلْفًا عَلَيْهِمُ الطَّيَالِسَةُ
Artinya:
“Dajjal akan diikuti oleh tujuh puluh ribu orang Yahudi dari Isfahan yang mengenakan ṭayālisah (sejenis jubah atau selendang).”
(HR. Muslim)
Hadis ini memang sahih dan termasuk hadis eskatologis, yaitu hadis yang berbicara tentang fitnah akhir zaman.
Masalahnya bukan pada hadisnya.
Masalahnya pada narasi yang dibangun di sekeliling hadis ini.
Sebagian orang kemudian menyimpulkan:
“Tidak usah heran dengan perang hari ini. Sekarang saja mereka konflik tapi nanti mereka akan kompak menjadi musuh Islam. Rasulullah sudah mengabarkan bahwa Yahudi dan Syiah pada akhirnya akan bersatu mengikuti Dajjal.”
Sekilas terdengar meyakinkan.
Padahal kalau kita baca hadisnya dengan teliti, narasi ini tidak berasal dari hadis tersebut.
Nabi tidak pernah menyebut Syiah
Hadis itu hanya mengatakan:
“Yahudi dari Isfahan.”
Memang benar Isfahan hari ini berada di wilayah Iran.
Dan benar pula Iran modern mayoritas bermazhab Syiah.
Namun menyimpulkan bahwa hadis itu berbicara tentang Syiah adalah lompatan logika yang terlalu jauh.
Pertama, penyebutan Isfahan dalam hadis itu bersifat geografis, bukan ideologis atau mazhab.
Kedua, siapa yang bisa menjamin bahwa wilayah tertentu akan tetap berada di bawah identitas mazhab yang sama hingga akhir zaman?
Sejarah menunjukkan wilayah, bangsa, dan mazhab bisa berubah berkali-kali.
Karena itu menjadikan hadis ini sebagai bukti “koalisi Yahudi–Syiah” jelas bukan berasal dari teks hadis, melainkan dari cara kita menafsirkannya.
Hadis tidak selalu menyebut nama bangsa secara eksplisit
Dalam hadis lain tentang akhir zaman disebutkan bahwa pengikut Dajjal memiliki wajah:
“seperti perisai yang dipukul.”
Sebagian ulama klasik mencoba memahami deskripsi ini.
Misalnya Ibn Kathir berpendapat bahwa kemungkinan yang dimaksud adalah bangsa Turk.
Tetapi penting dicatat:
Nabi tidak pernah menyebut kata “Turk” dalam hadis itu.
Itu adalah interpretasi ulama, bukan teks hadis.
Dan istilah Turk dalam literatur klasik juga bukan berarti negara Turki modern.
Yang dimaksud adalah bangsa-bangsa Turkic di Asia Tengah, suku-suku nomadik yang hidup di wilayah luas seperti Turkestan dan Transoxiana.
Ini menunjukkan satu hal penting:
tafsir ulama selalu terkait dengan konteks zaman mereka.
Nama wilayah dalam hadis tidak sama dengan peta politik modern
Hadis-hadis akhir zaman juga sering menyebut nama wilayah seperti:
Khurasan – Wilayah luas di Asia Tengah dan Timur Persia pada masa klasik, mencakup sebagian besar Iran timur laut, Afghanistan, Turkmenistan, Uzbekistan, dan Tajikistan.
Syam – yang dulu meliputi Suriah, Palestina, Yordania, dan Lebanon.
Rum – Merujuk pada Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium), yang berpusat di Konstantinopel (sekarang Istanbul).
Semua istilah ini adalah geografi dunia klasik, bukan batas negara modern seperti yang kita kenal hari ini.
Batas wilayah dalam sejarah bisa berubah berkali-kali.
Dan bisa saja berubah lagi di masa depan.
Karena itu membaca hadis-hadis ini dengan peta politik hari ini sering kali justru menyesatkan.
Bahaya membaca hadis untuk membenarkan asumsi kita
Masalah terbesar muncul ketika hadis tidak lagi dibaca untuk memahami pesan Nabi, tetapi dipakai untuk menguatkan asumsi dan opini yang sudah kita miliki sebelumnya.
Lalu kita berkata:
“Lihat, Nabi sudah mengabarkan ini sejak dulu.”
Padahal yang terjadi sebenarnya adalah:
kita memasukkan asumsi dan opini kita ke dalam hadis,
lalu mengklaim bahwa itu berasal dari Nabi.
Parahnya lagi asumsi kita itu bisa saja dipenuhi dengan kebencian pada mazhab atau kelompok tertentu.
Ini bukan cara membaca hadis yang sehat.
1/2
Indonesia adalah negara yang unik: ratusan suku dan bahasa disatukan oleh satu payung politik yang relatif stabil dalam waktu lama. Ini sebuah anomali. Banyak negara lain gagal melakukannya. Belgia, misalnya, pernah berbulan-bulan tanpa pemerintah karena konstituensi berbahasa Flemish/Dutch, Prancis, dan Jerman tak kunjung mencapai kesepakatan.
Salah satu “antibodi” istimewa yang membuat Indonesia dapat mempertahankan kesatuan ditengah perbedaan, I would argue, adalah komedi: kefasihan warganya dalam mentertawakan perbedaan. Orang Sunda meledek Batak, orang Padang meledek Jawa, dan sebaliknya. Kemampuan menertawakan perbedaan adalah daya tahan terhadap perpecahan.
Sejak kecil, kita secara alami saling menggoda dan melempar canda; it's part of growing up cognitively. Namun, anak kecil belum mampu membedakan mana candaan dan mana agresi. Jadi kadang2 suka ngeledek aib keluarga :D. Salah satu kemampuan halus yang mahal — dan baru diperoleh saat benar-benar dewasa — adalah kemampuan membedakan keduanya. Karena ledekan, dalam dosis yang tepat, bukan sekadar humor, melainkan mekanisme pertahanan kolektif dan cara sebuah bangsa menyaring karakter pemimpinnya. And that's why comedian, kalau lucu tentu, are truly special people and have a vital role in a society.
Dalam budaya Inggris, orang saling melempar sindiran (teasing/banter), bahkan saat baru bertemu, untuk menguji: apakah kamu tipe yang narsistik dan mudah tersulut saat ditekan; sejauh mana kamu bisa mentolerir sindiran; atau justru orang yang mampu ikut tertawa, mengalir dengan candaan, bahkan membalas dengan humor. Ini penting, karena orang yang mudah tersinggung sulit dipercaya dengan tanggung jawab ketika krisis datang.
Seorang perdana menteri di Inggris bisa “dihabisi” di parlemen dengan cemooh dan sindiran. Kemampuannya merespons tanpa kemarahan bukan kelemahan, melainkan sinyal bahwa ia masih layak dipercaya untuk memegang kendali.
Kemampuan suatu bangsa untuk saling melempar canda tanpa tersinggung dan mengadu pada kekuasaan, adalah bentuk kedewasaan, dan ketahanan sosial.
Indonesia punya itu.
Lest we lose it.
my dad was a physics teacher in a top school in jakarta, where almost 80% of its attendees go to top schools abroad.
He published books, worked multiple jobs.
But he had to cry in the kitchen bc at the time he didnt have the heart to tell me that he couldnt even afford my uni.
"Take Me Home..." 🎶
Sound on for this, Reds: presenting a very special cover of Country Roads by lifelong United fan and @OfficialKALEO frontman, JJ 🫶🏟️
🤳 @Snapdragon x #ShotOnSnapdragon