orang yang sudah menikah lalu berzina adalah pengkhianatan ganda terhadap Allah, pasangan dan juga anak. kalau mau menimbang dampak sistemik dari zina muhshan, they indeed deserve hudud (death penalty). hudud exist untuk lindungi masyarakat dari kerusakan nasab, keluarga dan fondasi masyarakat. bukan hal sepele, kerusakannya berat. hudud juga ngasih efek jera (deterrence) yang kuat, jadinya orang takut berbuat hal tersebut. di sistem hukum sekuler, deterrence ini gak ada atau sangat lemah, makanya jadinya โbiasa ajaโ dan dampak kerusakannya terus berulang.
-dimulai dari dampak psikologis, korban selingkuh sering kali kena trauma berat, contohnya kena PTSD, depresi kronis, kecemasan yang parah, bahkan suicidal thoughts atau bahkan sampe melakukan itu. yang paling ancur biasanya anak-anaknya, mereka ngerasain betrayal dari orang tua yang seharusnya jadi tempat aman. akibatnya? trust issues seumur-umur, low self esteem, struggling buat bangun hubungan sehat, anger issues, dan punya risiko lebih tinggi buat mengulang pattern ini pas dewasa. jadinya trauma yang diturunkan antar generasi
-sistemically, infidelity itu salah satu pemicu utama perselisihan yang berujung ke perceraian, bikin broken home naik. anak-anak yang terdampak lebih rentan melakukan kenakalan remaja, kena masalah mental, prestasi sekolahnya drop, bahkan bisa terjerumus kriminalitas jangka panjang
-divorce akibat zina juga bikin daya ekonomi household langsung turun drastis. banyak ibu yang jadi single parent dengan penghasilan kecil, sementara biaya hidup anak dan rumah tangga tetep tinggi. akhirnya tugas negara buat ngasih bantuan sosial, kesehatan mental, dan program kesejahteraan makin berat.
jadi ya, it make sense mereka deserve death penalty, soalnya luka yang ditimbulkan gak pernah sembuh total dan dampaknya nyebar kemana-mana ke anak, keluarga, sampe jadi beban moral ekonomi sosial masyarakat luas
I love soft love; no drama, no toxicity, plenty reassurance, sentimental and thoughtful gifts, big hugs, quality time, clear communication and comprehension, kindness even when we are mad at each other.
Life is tough already, I want soft love.
Relationships are so beautiful when you and your partner are actually good friends. You show up together, share inside jokes, talk openly, have fun, and totally vibe like besties. They shouldn't replace your actual friends but it's so amazing when the dynamic isn't just romantic.
Maturing is realizing that the best reassurance you can give your person in a relationship comes through conversation. When you're going through tough times, shutting down or going quiet only makes them feel unsure. But when you choose to talk things through and work it out together, it helps them feel safe, seen, and wanted.
Aku sempat hidup dalam satu Malaysia yang budak hari ini susah nak bayang.
Tiada handphone.
Tiada social media.
Tiada KLCC.
Tiada Mutiara Damansara.
Tun Mahathir dan BN pula berkuasa macam takkan tumbang.
Sekitar 1994, aku dah tembus internet. Masa itu Malaysia pun belum benar-benar ada internet macam hari ini. Guna faxline dial-up ke Hong Kong, login Compuserve, browser pakai Spry Mosaic. Lepas itu baru masuk era Jaring, TMNet, dan email UUCP.
KL masa itu pun belum jadi KL yang orang muda hari ini kenal. KLCC belum wujud. Kawasan itu dulu aku lalu hari-hari ulang-alik sekolah, satu bas dengan budak St John dan VI. Mutiara Damansara pun belum ada. IKEA masih belum masuk dalam kepala orang.
Politik pula awalnya aku tak ambil port sangat. Kuasa nampak terlalu padu. Terlalu kebal. Tapi bila DSAI kena pecat, suhu negara terus berubah. Waktu itu aku masih di Plaza See Hoy Chan. Buat kali pertama kami ramai-ramai jalan kaki ke Sri Perdana. Dan di situlah aku kena sembur air kuning. Sejak itu, politik bukan lagi cerita surat khabar. Ia kena terus pada tubuh.
Krisis 1998 pula aku tak ingat melalui angka semata-mata. Aku ingat sebab sebulan tak masuk ofis di HSC, hampir tiap malam escort lori tanker hantar air ke seluruh KL, PJ dan Gombak.
Masuk era Y2K, aku pula sibuk buat coding retrofit sistem sedia ada untuk PBT miskin di Selangor... MDKL, MDHS, MDSB, MDKS dan lain-lain. Sedang ramai cemas tunggu tahun 2000, kami di belakang tabir sibuk pastikan sistem lama tak tumbang.
Jadi bila pandang balik, ini bukan sekadar cerita โdulu tak ada handphoneโ.
Ini kisah satu generasi yang sempat hidup dalam dunia analog, rasa sendiri retak politik dan krisis, lalu menolak sistem lama masuk ke ambang digital.