Pesantren gak kompatibel dengan dunia modern?
Masih ada pandangan keliru yang terus berulang: bahwa Islam hanya bisa “modern” kalau dibuat sekuler. Bahwa agama harus dipinggirkan supaya sains bisa berkembang. Pandangan seperti ini mungkin cocok di Eropa abad ke-18, tapi tidak relevan bagi Islam. Sejarawan Marshall Hodgson dalam The Venture of Islam menulis bahwa peradaban Islam justru melahirkan sains karena keyakinan spiritualnya. Iman bukan penghalang bagi akal, tapi justru bahan bakarnya.
Hal ini juga ditekankan Nurcholish Madjid dalam bukunya Islam, Kemodernan dan Keindonesiaan (1992):
“Modernisasi adalah rasionalisasi, bukan sekularisasi. Modernisasi dalam Islam berarti pembebasan dari kebodohan dan kejumudan, bukan pembebasan dari Tuhan.”
Kalimat itu seperti tamparan halus bagi dua kutub ekstrem: yang alergi pada modernitas, dan yang mabuk modernitas tapi lupa iman.
Kita sering mendengar komentar seperti, “Modernisme itu kan sekuler. Mana bisa cocok dengan Islam?” atau “Pesantren itu tradisional, ketinggalan zaman.” Bahkan ada yang berpikir bahwa kalau seorang santri bicara soal demokrasi, HAM, atau berpikir kritis, pasti dia “liberal.” Sebaliknya, kalau dia menjaga tradisi, pakai sarung, dan hidup sederhana, dicap “kolot.” Dua-duanya salah paham — karena keduanya lahir dari cara pandang yang gagal memahami apa itu modernitas, dan apa itu ruh pesantren.
Pesantren berada di jalur tengah. Ia mendidik manusia agar cerdas tanpa congkak, beriman tanpa beku. Santri belajar berpikir kritis, tapi tahu kapan harus menunduk hormat kepada gurunya. Santri belajar bahasa asing, tapi tak kehilangan bahasa doa. Mereka bukan anti-modern, hanya saja mereka tahu bahwa kemajuan tanpa values itu ‘kesesatan’ yang canggih.
Sudah banyak santri yang menjadi prof di kampus terkemuka di dunia. Banyak santri yang gak hanya bisa baca kitab kuning tapi mereka juga fasih menjelaskan teori dan kajIan bidangnya seperti antropologi, demokrasi, rule of law, fisika kuantum dan lainnya.
Para santri bisa pakai sarung, bisa juga pakai jas. Bisa dengerin Umi Kulsum, tapi juga Adele. Cium tangan ke Kiai, tapi juga tampil di seminar Internasional. Biasa aja 😊
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Sewaktu saya jadi khodim di Lirboyo. Paling kiri Gus Ipul -sekarang jadi Menteri Sosial. Tengah KH. M. Anwar Manshur. Kanan yang kupluknya miring itu saya. Kamera jepret tahun 2007. #BOIKOTTRANS7
Mas @andi_chairil, anda dan @TRANS7 gak bisa hanya minta maaf. Ini bukan cuma khilaf. Ini sudah by design untuk menghina pesantren dan meruntuhkan marwah Kiai sepuh. Kalian sengaja membuat tayangan kontroversi demi rating kan. Jahat sekali anda, Mas?!
Coba anda dengar kembali cara tim anda membacakan narasinya? Mau muntah 🤮 gak tuh dengerinnya? Sangat merendahkan.
Tuntutannya jelas:
1. Anda mesti dipecat
2. Pembaca berita mesti dipecat
3. Pak Chairul Tanjung benahi manajemen Trans7
4. Buat tayangan yang berimbang dg membahas konsep barakah, adab, disiplin, pendidikan karakter ala Pesantren
5. Buat pemasang iklan untuk sementara waktu kalian jangan pasang iklan dulu di Trans7 sampai masalahnya selesai.
Sungguh anda mengecewakan sekali Mas Andi Chairil 😡
ما أحببت شيئا إلّا كنت له عبدا، و هو لا يحبّ أن تكون لغيره عبدا
Tidaklah engkau mencintai sesuatu melainkan engkau menjadi hamba baginya, dan Allah tidak ingin engkau menjadi hamba selain-Nya.
#ngaji#hikam#kemislegi#himasal#lirboyo
Sewaktu berusia 23 tahun. Bersama salahsatu Guruku, Almarhum KHR. Masykur Kholil, Pengasuh Ponpes Menara Al Fatah Mangunsari Tulungagung. Untuk beliaunya alfaatihah... Selamat Hari Guru
Dengan semangat dan komitmen, DPP PKB akhirnya berhasil memulihkan nama baik Gus Dur!
Dari arahan Ketua Umum DPP PKB @cakimiNOW Fraksi PKB di MPR telah mengajukan permohonan kepada Pimpinan MPR untuk menerbitkan surat penegasan bahwa Ketetapan MPR Nomor II/MPR/2001 tentang pemberhentian Gus Dur sudah tidak berlaku lagi.
Kira-kira apa yang paling menginspirasi kamu dari sosok Gus Dur? 😇
#GusDur #PartaiKebangkitanBangsa