Tahun lalu iseng bikin essay film. Terus kelupaan, nganggur berdebu di folder. Jadi ya udah. Ini dia akumulasi frustrasi gua atas carut-marutnya dunyo ini. Enjoy the mess.
https://t.co/6PtY4xXeBT
Istilahnya, maba ini kan jadi third party. Sedangkan sponsorship udah jd urusan brand dan panitia. Mereka memindahkan sebagian kewajiban kontrak sponsor kepada pihak ketiga yg ga pernah memberikan persetujuan.
Sedangkan ospek sifatnya compulsory.
Eh tapi jadi penasaran. Kalo casenya ikutan acara yang wajib dan memiliki dampak pada hak akademik seperti ospek (w gatau unpad gmn, tp sertif ppsmb diminta pas yudis), kalo maba nolak untuk nyebut nama sponsor di tugas dan nilainya dikurangin, apakah itu bisa digugat?
@bonaveguntura@lethallysoft Tujuan film adalah fulfill the premise. IMO, general attibrute yang lo sebut hanya berguna dalam konteks untuk menilai itu. Agak kurang holistik kalo dibandingin satu per satu tanpa paham ekspektasi genre dan realitas produksinya.
Bentuk premise apa? Bebas. Eksperimental jg bs.
@bonaveguntura@lethallysoft Film drama budget 100 jt dollar? Ya ada kali, tapi itu outlier. Kemungkinan besar ada embel-embel genre lainyang justifikasi budget segitu. (Ex: Historical Drama).
@bonaveguntura@lethallysoft Ya ngaruh lah. Genre akan set scope untuk cerita, budget, acting, scores, and whichever "general" attributes you're talking about. Belum ditambah konteks ekspektasi industri terhadap genre tsb.
Spesifik genre yg menentukan fungsi dan standar keberhasilan atribut itu
@aerorun Kalo saya, ngeliatnya apakah karya lampau tersebut masih memiliki residue dalam wacana kontemporer.
Melihat konteks zaman itu perlu, tapi untuk keperluan menghindari antikuarianisme yang mengagungkan/justifikasi tindakan masa lalu.
indonesia lebih dirugikan penjajahan berkedok agama dibanding kolonialisme belanda (dan sampai sekarang pun masyarakatnya masih betah dijajah) but none of you are ready for that conversation i guess
Makanya saya paling suka dengan konsep "Ecstatic Truth" yang dikemukakan Werner Herzog. Kebenaran yang didapat bukan hanya dari fakta-fakta yang dijabarkan, tapi dari pengalaman yang dirasakan yang kadang justru muncul lewat konstruksi, distorsi, bahkan imajinasi.
Film, diberi beban unt men-jelas-kan; pdhl potensi karya film terbesar adl menghadirkan peluang me-rasa-kan. ‘Rasa’ tidak selalu gamblang tp ‘rasa’ punya tingkat kedalaman yg lebih langgeng drpd informasi. Beban men-jelas-kan itu hadir krn film adalah seni serba ada dlm 1 layar.