Civitas akademika Universitas Brawijaya mendeklarasikan sikap mengkritisi sikon demokrasi yang coba ditumbangkan Presiden Jokowi lewat politik dinasti.
Semakin banyak kalangan mulai muak dengan tindak-tanduk sang presiden yang ikut campur memenangkan 02, dengan menggerakkan alat negara tanpa menyadari jabatannya sebagai orang nomor satu di negeri ini.
#AsalBukanPrabowo
Buni Yani lebih pas untuk Depok berkemajuan
Dibanding dipaksa pilih yang belum ngerti Visi Misi, yah lebih baik Buni Yani yang jelas pendidikannya
IJAZAH ASLI
Untuk DEPOK BERKEMAJUAN saya dukung Buni Yani, beliau pun bisa 3 bahasa dengan fasih, ilmunya bukan kaleng-kaleng
.
Geger Anies Baswedan Terungkap Menerima Tongkat Cakra Milik Pangeran Diponegoro, Netizen Mengartikan bahwa Anies Adalah Calon Pemimpin Yang Akan Membawa Indonesia Menjadi Negara Yang "Gemah Ripah Loh Jinawi Tata Tentrem Kerta Raharja".
Setuju = Retwit
Tidak Setuju = Like
Siapa yang lebih NKRI ?
Pak Anies silahkan Retweet
Pak Luhut silahkan like
Jangan sampai Video ini berhenti di kamu ya sahabat, share sebanyak-banyaknya di sosial media mu supaya masyarakat luas juga perlu tahu 🙏
GUA BENCI ama ANIES BASWEDAN :
1. Kenapa dia Bisa bangun JIS menggunakan Kreatifitas ANAK BANGSA, Kenapa Ganjar Tak Bisa Bangun Stadion ?
2. Kenapa dia bisa Bangun Sirkuit FORMULA E, Padahal sudah dijegal jegal pembangunan nya, Kenapa Ganjar tidak bisa bangun sirkuit yang sama ?
3. Kenapa dia banyak merevitalisasi Taman dan lahan menjadi Cantik, kenapa Ganjar juga tidak bisa ?
4. Kenapa dia bisa mengurangi Banjir di Jakarta, kenapa Ganjar juga Tidak Bisa ?
5. Kenapa dia Bisa diangkat jadi Anggota Dewan Universitas Oxford, Kenapa Ganjar Tidak ?
6. Kenapa dia bisa masuk menjadi 100 tokoh intelek dunia, sementara Ganjar tidak ?
Matahari yang terang itu, kini mulai meredup terbenam. Teduh, semilir dan tenang untuk membaca dan bersiap. Sebelum esok menyambut hari yang baru dan lebih baik.
Bagi yang telah mengakhiri masa liburan, selamat bersiap kembali bekerja dan berkarya esok hari.
Anies Baswedan mengunggah momen dirinya tengah membaca buku di pinggir laut. Anies membaca buku 'Principles for Navigating Big Debt Crises'. https://t.co/PGB4tVu4DM
KAKEK ANIES BASWEDAN !
H. Abdurrahman Baswedan atau populer dengan nama A.R. Baswedan (9 September 1908 – 16 Maret 1986)
Semasa hidupnya, dia dikenal sebagai seorang jurnalis, diplomat. A.R. Baswedan pernah menjadi Wakil Menteri Muda Penerangan RI pada Kabinet Sjahrir, Anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP), Anggota Parlemen, dan Anggota Dewan Konstituante.
A.R. Baswedan adalah salah satu diplomat pertama Indonesia dan berhasil mendapatkan pengakuan de jure dan de facto pertama bagi eksistensi Republik Indonesia dari Mesir
A.R. Baswedan adalah seorang pemberontak pada zamannya. Harian Matahari Semarang memuat tulisan Baswedan tentang orang-orang Arab, 1 Agustus 1934. A.R. Baswedan memang peranakan Arab, walau lidahnya pekat bahasa Jawa Surabaya, bila berbicara.
Dalam artikel itu terpampang foto Baswedan mengenakan surjan dan blangkon. Ia menyerukan kepada orang-orang keturunan Arab agar bersatu membantu perjuangan Indonesia.
Ia mengajak keturunan Arab, seperti dirinya sendiri, menganut asas kewarganegaraan ius soli: di mana saya lahir, di situlah tanah airku. Pada titik inilah dia menjalani perubahan haluan yang sangat besar bagi pribadi, dan pada akhirnya menggerakkan perjalanan Indonesia.
Pada masa-masa revolusi, A.R. Baswedan berperan penting menyiapkan gerakan pemuda peranakan Arab untuk berperang melawan Belanda. Mereka yang terpilih akan dilatih dengan semi militer di barak-barak. Mereka dipersiapkan secara fisik untuk bertempur.[2]
A.R. Baswedan sendiri pernah ditahan pada masa pendudukan Jepang (1942).[3] Saat Indonesia merdeka, ia mengorbankan keselamatan dirinya saat membawa dokumen pengakuan kemerdekaan Indonesia dari Mesir pada 1948. Dia mendapatkan gangguan dan hambatan tak sedikit dalam menjaga dokumen ini.
Padahal, semua bandara di kota-kota besar, termasuk Jakarta, sudah dikuasai tentara Belanda dan Sekutu dan tidak ada yang bisa lewat dari penjagaan mereka. Tapi, berkat kelihaian dan kenekatannya, dengan menaruhnya di kaos kaki,[5] dokumen penting dari Mesir itu bisa selamat dan Indonesia mendapatkan pengakuan sebagai negara merdeka secara penuh, secara de jure dan de facto.