Ke tukang tato dan sebenarnya bawa duit, tapi siapan di tengah bikin tato memek udah berkedut. Pura-pura aja ngaku gak bisa bayar biar ada alasan dibayar pake memek
Code: PFES-133
Title: A female student who just moved to Tokyo gets gr*ped on the train during her commute and unexpectedly falls head over heels for a p*rvert, leading to p*ssionate, l*stful s*x. - Mitsuha Asuha
Actress: Mitsuha Tomorrow
Code: MNGS-057
Title: Cheap rent for h*rny girls who want s*x: Share house with a fleshlight where you can c*m on your face, br*asts, vagina, and assh*le anytime
Actress: Nanase Alice
Adikku pesen ojol jam 11 malam, mau pulang dari kosan temennya. Pas driver dateng, dia liat adikku jalan pincang keluar gang.
Bukannya langsung jalan, dia malah turun dari motor. "Kenapa, Dek? Kaki kenapa?"
Adikku bilang cuma kesleo dikit, gapapa. Tapi mukanya pucat banget.
Driver itu nggak langsung anter. "Saya bawa ke klinik dulu ya, ini kalo dipaksa jalan bisa tambah parah."
Adikku nolak, takut ongkosnya nambah. Orderan cuma sepuluh ribu, klinik jauh dari rute.
Tapi driver itu udah nyalain motor duluan.
Di klinik, driver itu nungguin sampe adikku selesai diperiksa. Bayar sendiri biaya periksa, 75.000, dari dompetnya.
Adikku protes, mau ganti. "Anggap ini bonus dari saya. Semoga cepat sembuh ya."
Orderan yang harusnya kelar dua puluh menit jadi satu setengah jam. Ratingnya nggak nambah sepeser pun buat waktu itu.
Adikku nanya kenapa dia mau repot begitu. Katanya dia inget anaknya sendiri, umur sama kayak adikku, dulu pernah jatuh sendirian di jalan waktu nggak ada yang nolong.
"Saya cuma nggak mau itu kejadian lagi ke orang lain," katanya, terus pamit lanjut narik.
Ratna, Semarang
cc : wnmei_at
Di kantor gw ada satu aturan yang paling sering diprotes anak baru.
Semua wajib manggil rekan kerjanya pak atau bu. Mau baru lulus kuliah pun wajib dipanggil pak atau bu.
Tau gak kenapa? Penting loh ini.
Kalau ada yg tanya alasannya, HRD gw selalu bilang, “Biar saling menghormati dan menghargai.”
Tapi sebenarnya bukan itu, ada drama dibalik aturan kaku ini.
Dulu waktu gw masih kerja sama orang, ada manajer baru. Sebut saja namanya Juwita. Dia ini bu manajer yang cantik, pintar, kerjanya sat set, dan baru lulus kuliah.
Manajer, baru lulus, kok bisa? Bisa. Soalnya dia anak owner. 😆
Dia manggil semua orang dengan sapaan mas atau mbak, nggak peduli umur atau jabatannya. Memang budaya kantor di sana begitu.
Ya nggak ada yang salah juga. Lagian banyak kok cowok umur 50-an yg lebih senang dipanggil mas daripada om. Gw sering dengar sendiri,
“Jangan panggil saya om, dek. Panggil mas aja.” gitu kira-kira.
Dalam perjalanannya, Juwita terkenal sebagai bos tsundere. Galak dan dingin pas jam kerja, tapi kalau lagi ngobrol berdua atau lagi nyemangatin tim bisa ramah banget. Banyak karyawan cowok, baik yg masih single maupun yg udah punya buntut di rumah, mengidolakan dia.
Efeknya, yg rajin jadi makin rajin, yg sering datang telat mulai datang kepagian.
Sampai suatu siang, pas jam istirahat, tiba-tiba ada cewek datang ke kantor ngamuk-ngamuk kayak sapi kurban lepas.
“Mana itu lontay yg namanya Juwita?! Keluarin sini! Berani-beraninya gangguin lakik gw! Dasar cewek gatel! Gw garukin aja sini!”
Lobby langsung heboh. Orang warehouse pada keluar, anak-anak kantor pada langsung ngumpul di lobby.
Untungnya HRD cepat turun tangan. Setelah dibujuk beberapa menit, cewek itu akhirnya mau masuk ke ruang meeting. Juwita juga dipanggil masuk. Sekantor langsung gosip kanan-kiri.
Rupanya cewek yg ngamuk itu adalah istri dari salah satu bawahan Juwita. Sebut aja namanya Adi. Kebetulan hari itu Adi nggak masuk kerja. Memang orangnya udah lama bermasalah performancenya, jadi satu tim udah sering kesel.
Istrinya cerita, Adi hampir tiap malam nongkrong sama teman-teman kantornya. Belakangan obrolannya sering tentang “mbak Juwita”, anak baru yg cantik. Ya nggak usah gw jelasin lah isinya gosip laki-laki kalau lagi ngomongin cewek. Lucunya, istrinya sering ikut dengerin.
Nah, kebetulan pas hari itu Adi nggak masuk, jadi Juwita berkali-kali WA dan telepon.
“Mas Adi, di mana?”
“Mas, yg kamu janjiin kemarin itu mana?”
“Mas, aku tuh nggak bisa kamu gini terus. Kita perlu ngomong.”
😅
Masalahnya, Adi punya dua HP. Satu buat kerjaan, satu lagi buat pribadi. Hari itu HP kerjaannya ketinggalan di rumah, kelihatannya emang udah niat bolos. Jadinya semua chat itu dibaca istrinya lewat notifikasi.
Ya udah…
Lakinya tiap malam ngomongin cewek cantik bernama Juwita. Tiba-tiba muncul chat dari “Juwita” isinya begitu.
Ngamuklah dia.
Dia sama sekali nggak tahu kalau Juwita itu ternyata atasan suaminya.
Walaupun akhirnya istrinya minta maaf berkali-kali, Juwita melihat ini sebagai kesempatan bagus buat ganti pemain. Adi pun kena tindakan tegas terukur.
Alias PHK.
Jadi sejak punya perusahaan sendiri, gw bikin aturan sederhana.
Semua wajib panggil pak atau bu. Gw cuma males kalau ada suami pulang ke rumah, terus istrinya baca chat dari teamnya:
“Mas… aku telat.”